Gadis Somplak Penakluk Hati CEO

Gadis Somplak Penakluk Hati CEO
DICKO 20


__ADS_3

"Gak apa-apa kok Om, Oh ya Om jadi beli gak rumah saya, apa Rico sudah memberitahukan harganya," tanya Xindy


"Iya nak, saya sangat suka dengan model rumah kamu, jadi saya beli dengan harga Seratus juta," ujar Joko


"Apa...!


Xindy kaget, rumahnya yang kecil itu di hargai seratus juta, padahal pasaran rumah di sana hanya 60 juta saja, maklum di Kampung.


"Apa gak salah Om ?" tanya Xindy


"Kenapa ? apa terlalu murah ya, kalau begitu Om tambah lagi harganya,"


"Bukan begitu Om, saya pikir harganya tidak segitu, itu terlalu mahal buat rumah sekecil ini," ujar Xindy


"Udah lah Xin, di terima saja lagian lo kan sedang butuh uang untuk biaya operasi ayah lo," ujar Xindy


"Tapi.."


"Iya Om Deal ya, Xindy setuju kok," ujar Rico, Xindy memelototkan matanya ke arah Rico.


"Oh ya Om, bukankah Om Bilang Om mau ke luar negeri ya bersama keluarga Om," ujar Rico , Joko mengernyitkan keningnya.


"Gimana kalau Xindy dan ayahnya tingal di Rumah ini, kan lumayan ada yang ngebersihinnya," ujar Rico lagi, Joko baru mengerti akan ucapan Zain itu.


"Oh Iya..untuk sementara waktu kamu boleh tinggal di Rumah ini, seperti kata nak Rico saya dan keluarga akan pergi ke Luar negeri dan menetap di sana selama setahun, jadi dari pada rumah ini kosong lebih baik kamu dan ayah kamu saja yang tinggal di sini," ujar Joko


"Beneran Om ?" Joko menganggukan kepalanya sambil tersenyum.


"Makasih ya Om, jarang sekali ada orang sebaik Om," ucap Xindy


"Sama-sama nak Xindy asalkan Zain senang semua akan Om lakuin,"


"Maksud Om ?" tanya Xindy


"Gak kok, Om tadi ke ingat sama keponakan Om namanya Zain, dia akan ngelakuin apa saja untuk orang yang di sukainya," ujar Joko menyindir Zain.


"Ooo ..ya sudah Om, saya ambil surat-surat rumahnya dulu, om tunggu di sini saja sama Rico," ujar Xindy lalu masuk ke dalam rumahnya untuk mengambil sertifikat Rumahnya.


"Ini Om, semua surat-suratnya ada di dalam Map ini," ujar Xindy, Joko mengambilnya lalu langsung memasukkanya ke dalam tas nya.


"Loh kok gak di periksa dulu Om ?"


"Saya percaya kok sama kamu, lagian orang yang di Percaya sama Rico pasti saya percaya," ujar Joko


"Kalau begitu saya pulang dulu," ujar Joko


"Baik Om, makasih ya Om, Berkat Om saya bisa membayar uang Operasi Ayah saya," ujar Xindy


"Kamu berterima kasih lah sama Rico karena kalau bukan karena dia saya tidak akan tau kalau ada Rumah sebagus ini, Kalau begitu saya pamit dulu ya," Ujar Joko lalu pergi dari sana.

__ADS_1


"Ric makasih ya, berkat lo gue bisa bayar Operasi bokap gue," ujar Xindy


"Makasih aja gak cukup kali," ujar Xindy


"Jadi Lo gak Ikhlas nolongin gue ?


"Bukan begitu maksud gue," ujar Rico


"Terus maksud lo apa ?


"Gue mau lo jalan sama gue," ujar Rico


"Gimana gue bisa jalan sama lo, sedangkan Bokap gue lagi sakit," ujar Xindy


"Kan bukan hari ini juga kali, nanti setelah Ayah kamu sembuh," ujar Rico


"Ooo kirain sekarang,"


"Gimana ?" Tanya Rico


"Oke,


"Janji ya, nanti gue tagih loh,"


"Iya..iya.." jawab Xindy


"Ayo kita balik ke Rumah sakit," ajak Rico lalu mengandeng tangan Xindy, entah mengapa Xindy tidak bisa menolaknya.


Sementara di rumah sakit...


"Loh Xindy kok gak ada sih, apa ini bukan ruangannya ya, coba lo lihat lagi Ga ," suruh Kamal


Rangga kembali keluar ruangan itu dan melihat ke atas pintunya sekilas lalu kembali ke dalam.


"Benar kok, ini ruangan 128 B, coba lihat apa itu Bokapnya Xindy atau bukan," suruh Rangga


"Kita kan gak ada yang kenal sama Bokapnya Xindy, gimana kita tau itu Bokapnya Xindy atau bukan," ujar Gatot


"Iya ya..tunggu gue telpon Xindy dulu,"


Ceklek...


Suara pintu di buka dari luar, Terlihat Xindy masuk sambil berpegangan tangan sama Rico. Mereka kaget melihat adegan itu.Bintang pun sangat marah melihatnya.


"Wiih sudah pegangan tangan aja kalian, udah jadian ya" ujar Kamal


"Eh Ric lepasin tangan Xindy, " ujar Bintang


"Apaan sih lo,Xindy aja gak protes ," ujar Rico.

__ADS_1


"Xin lo kok mau sih di pegang tangannya sama si Rico ?" tanya Bintang


"Eh..iya ya, lo kenapa pegang tangan gue sih," ujar Xindy yang baru menyadari kalau mereka berpegangan tangan.


"Baru nyadar ? bukanya dari tadi ya," ujar Rico


"Lo tu ya, bikin emosi gue saja," ujar Bintang


"Udah-udah ini rumah sakit, jangan bertengkar. Kita ke sini untuk menjenguk Ayah Xindy. Oh ya Xin,ini kita ada sedikit uang, kamu bisa gunakan uang ini untuk Biaya Rumah sakit," ujar Rangga.


"Makasih ya teman-teman, kalian sudah menjenguk saja aku sudah senang,Gak perlu repot-repot begini,"


"Lo kayak siapa saja, kita gak repot kok Xin, kita hanya nyumbang sedikit kok, hanya itu yang bisa kami lakukan buat Lo," ujar Rangga


"Oh ya Xin, gimana keadaan Bokap lo ?" tanya Andi


"Ayah gue menderita tumor otak, kata Dokter Ayah gue harus segera di Operasi."


"Yang sabar ya Xin, kita turut prihatin." ucap Bintang mau memegang Xindy, Tapi Rico menepis tangan Bintang


"Apaan sih lo, lo nantangin gue ya," kesal Bintang


"Sudah dong, lebih baik kalian berdua keluar deh dari sini," kesal Xindy


"Yach yayang Xindy, aku gak akan ninggalin kamu," ujar Rico


"Lo..." ujar Xindy


"Peace.." ucap Rico tertawa lalu pergi dari sana dengan menarik tangan Bintang agar ikut dengannya.


"Apaan sih Lo, lepasin tangan gue,"


"Siapa juga yang sudi megang-megang tangan Lo," ucap Rico


"Nah ini apa ?


"Gue khilaf..


Rico pergi dari Rumah sakit itu, sedangkan Bintang kesal kerena gara-gara Rico dia juga tidak boleh masuk ke dalam ruangan itu lagi.


Sebuah Chat masuk ke Ponsel Rico, dia segera melihatnya, ternyat chat itu dari Om Joko.


Om Joko menyuruh Rico datang ke sebuah Restorant di dekat Rumah sakit tempat Ayahnya Xindy di rawat. Rico segera OTW ke sana dengan menggunakan motornya.


Sesampainya di Restorant itu Rico masuk dan mengedarkan pandangannya ke seluruh sudut Cafe, di sebuah Meja duduk Joko dengan seorang Pria yang tidak di kenal oleh Rico karena membelakangi pintu masuk Restorant itu. Rico lalu menghampiri mereka.


"Hey Zain..ayo duduk di sini," ujar Om Joko


"Ada apa Om menyuruh aku ke mari, bukankah Om tadi sudah Pulang ke Jakarta ya," tanya Zain setelah duduk di samping Joko.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2