
Azan subuh sudah berkumandang, kokok ayam juga sudah bersahutan, Inge masih saja terlelap di tempat tidurnya.
Tok..tok..
Suara ketukan pintu tidak membuat mimpinya buyar, dia masih saja berada dalam mimpi indahnya itu. Dalam Mimpinya Inge di datangi seorang pangeran ber kuda putih yang akan menjemputnya untuk di bawa ke istana Cinta yang sangat indah.
"Non Inge..bangun Non, apa Non gak mau ikut bibik ke Rumah besar ?" tanya Bi Ijah.
Inge kaget, dia segera bangun dari tidur nya.
"Iya bik, Inge mandi dulu ya Bik," ujar Inge
"Bibik tunggu di luar ya non,"
"Iya Bik, Inge gak lama kok," ujar Inge sambil menyambar handuk lalu masuk ke kamar mandi.
Setelah selesai dengan ritual mandinya Inge segera memakai gaun yang dia beli kemaren di kota. Setelah merias wajahnya tipis-tipis dia keluar menjumpai Bi Ijah.
"Ayo bik kita jalan," ujarnya
"Non Inge cantik sekali, bibik sampai pangling lihatnya." ucap Bi Ijah takjub
"Ah bibik bisa aja, Inge kan gak mau kalau nanti di pesta kalah sama yang lainnya, Makanya kemaren Inge sempatin buat beli gaun ini." ujar nya
"Ayo Non kita pergi, nanti kita telat," ujar bi Ijah
"Ayo bik," ujar Inge
Merekapun akhirnya pergi ke rumah besar. sampai di sana Inge merasa takjub dengan dekorasi taman yang sangat indah itu.
"Waah Indah sekali dekornya seperti yang aku impikan," ucap Inge kemudian wajahnya berubah sedih mengingat kisah cintanya yang kandas akibat takdir.
"Bik apa yang harus aku lakukan di sini ?" tanya Inge pada bi Ijah.
"Non masuk ke rumah, di sana ada siti yang akan ngasih tau apa yang non bisa kerjakan," ujar Bi Ijah
__ADS_1
"Bibik mau ke mana ?" tanya Inge
"Bibi mau masak dulu di dapur, Non temui Siti saja di kamar non yang dulu," ujar Bi Ijah
Bi Ijah sudah pergi dari sana , Inge mulai masuk ke dalam rumah besar, Inge sangat kangen dengan suasana rumah itu. dia melihat tiap detil semua yang ada di rumah itu. Dia terpana melihatnya karena semuanya masih seperti dulu tak ada yang berubah sedikit pun di sana.
Kemudian dia berjalan menuju kamarnya dulu, sampai di sana dia perlahan-lahan membuka pintunya, saat dia sudah berada di dalam kamar itu, air matanya mengalir di pipinya karena kamar itu masih seperti saat dia tinggalkan dulu, Inge berjalan menuju lemari dan membukanya.
Dia sangat kaget melihat baju-bajunya dulu masih tersimpan rapi di sana. Di saat Inge masih larut dalam perasaannya ada sebuah tangan membekap mulut dan hidungnya dengan sapu tangan, Inge memberontak tetapi perlahan-lahan kesadarannya hilang dan akhirnya dia pingsan.
Sementara di Air terjun Devan sudah menunggu Inge sampai di sana, Suasana Hutan itu sudah berubah menjadi taman bunga yang sangat indah, Banyak kamera tersembunyi yang di sembunyikan di sana. Terlihat di sana ada sebuah layar dan proyektor yang standbay di tengah-tengah dekor bunga tersebut.
Terlihat dari kejauhan Andi mengendong Inge, Wajah Devan memerah melihatnya, dia segera menghampirinya dengan tatapan membunuhnya ke arah Andi lalu dia langsung mengambil Inge dari gendongan Andi.
Devan masih menatap Andi dengan tatapan tajamnya.
"Sorry Bro, Terpaksa gue yang mengendong Inge, habisnya gak ada yang kuat membawanya ke sini," ujarnya cengengesan.
" Lo beruntung hari ini karena gue lagi bahagia, kalau lain kali lo kayak gini lagi lo akan rasain kemarahan gue," ujar Devan yang membuat Andi bergidik ngeri melihat raut wajahnya itu.
Lo sudah boleh pergi, tinggalkan kami berdua di sini," ujar Devan
"Bro lo jangan ngapa-ngapain dia dulu sebelum kalian Sah," ujar Andi, Devan menatap tajam ke arahnya.
"Oke..oke..gue pergi, tapi..." Devan melempar ranting ke arah Andi, Andi pun segera lari dari sana menuju rumah besar.
Setelah kepergian Andi, Devan menyibak Gaun Inge di bagian pundaknya lalu mengecupnya dan meninggalkan jejak di sana seperti yang dia lakukan dulu kemudian Devan bersembunyi di balik semak yang ada di sana.
Hampir setengah jam lebih Inge masih tak sadarkan diri, Devan jadi tambah gelisah di buatnya.Padahal efek obat bius yang di bubuhkan di sapu tangan itu hanya bertahan setengah jam saja. Kerena tidak sabaran Devan memutuskan untuk menghubungi Andi lagi untuk menanyakam dosid obat bius itu.
Saat dia sudah memegang ponselnya, tiba-tiba netranya melihat tangan Inge mulai bergerak dan akhirnya dia kembali bersembunyi di balik semak itu.
Inge mengerjap-ngerjapkan matanya, dia kaget melihat dirinya berada di Air terjun, saat dia melihat sekelilingnya dia lebih keget lagi karena yang dulunya adalah hutan sekarang berubah menjadi taman Bunga yang sangat indah.
Inge merasakan bahu kirinya nyeri, saat dia menyibak gaunnya dia melihat ada tanda merah di sana .
__ADS_1
"Ini seperti ..." Inge mengingat-ingatnya
"Gak salah lagi ini tanda sepeti dulu setelah aku tenggelam di lubuk ini," ucapnya
"Berarti...Dedemit sudah kembali, dan dia yang membawaku ke sini," ujar Inge
Dia mulai melihat-lihat sekelilingnya akan tetapi tidak ada orang di sana.
"Dedemit keluarlah, aku tau kamu di sini..keluarlah aku ingin menunaikan janjiku padamu.." ujar Inge
Tetapi gak ada seorang pun di sana, Inge masih mencari-cari di sekelilingnya, tiba- tiba layar proyektor itu menyala dan nampak lah rekaman di saat Inge sewaktu dia mengucapkan janjinya itu.
"Demit.., aku mohon muncullah, siapapun kamu aku siap menjadi istrimu," teriak Inge.
"Apa benar ucapanmu itu," ujar seseorang yang ada di belakang Inge,Inge kaget mendengar suara yang sangat di kenalnya itu.
Deggg...
Jantung Inge Berpacu saat itu, Dia masih tidak mempercayai apa yang di dengarnya tadi.
"Gak mungkin itu kak Devan, mungkin suaranya hanya mirip saja," ucap Inge yang membuat Devan tersenyum, Devan bahagia karena Inge sangat mengenali dirinya bahkan suaranya saja di kenalinya.
Inge perlahan membalikkan tubuhnya menghadap ke arah orang itu, dan betapa kagetnya dia melihat Devan dengan tuxedonya dan sebuket bunga mawar merah di tangan tersenyum ke arahnya, Sontak Inge kembali berbalik.
"Gak mungkin itu kak Devan, aku hanya berhalusinasi saja, mungkin saat aku lihat lagi dia sudah berubah." ucap Inge
Perlahan kembali inge membalikkan tubuhnya menghadap Orang itu namun Di sana masih saja terlihat Devan dengan senyumnya.
"Kak Devan..!
"Iya sayang," jawab Devan lembut
"Jangan Bilang kalau kak Devan adalah Dedemit itu,"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
Like..Coment dan Vote..makasih🙏🙏🙏