
"Sayang...ayo bukain pintunya dong ," ujar Devan yang masih setia mengetuk-ngetuk pintu kamarnya, masih tak ada reaksi apapun dari dalam kamar itu.
"Sayang...apa kamu sudah tidur ya, aku mau masuk nih, mau mandi gerah banget ," ujar Devan
Ceklek...
Pintu kamar terbuka, terlihat Inge sedang mengupas buah dengan mengunakan pisau berdiri di ambang pintu, Devan hendak memeluknya tapi Inge menodongkan pisau itu ke arah Devan sehingga Devan menghentikan niatnya itu.
Inge berjalan menuju Sofa, Devan pun berpikir biar dia membersihkan tubuhnya dulu baru membujuk Istrinya agar tidak marah padanya lagi.
Devan sudah selesai dengan ritual mandinya, dia sudah terlihat tampan dengan baju kaos putih dan celana pendeknya. Devan berjalan menuju ke arah Inge sambil mengeringkan rambutnya.
"Sayang..keringin rambut aku dong," pinta Devan manja, Inge tak mengubrisnya, dia masih tetap saja memakan buah yang ada di tangannya sambil nonton TV.
"Sayang...come on..ini Kan rencana kamu, kenapa kamu marah sih ?" ujar Devan, Inge menatap ke arah Devan.
"Ini memang rencana aku tapi kamu gak usah meluk-meluk gitu kali," ujar Inge
"Kan bukan aku yang meluk sayang, aku kan gak tau kalau dia langsung meluk aku gitu," ujar Devan
"Kamu kayaknya kesenengan juga tuh aku lihat kamu malah balas pelukannya juga,"
"Sayang kalau aku gak akting gitu dia nanti malah curiga kalau kita sudah mengetahui semuanya," ujar Devan
"Pokoknya malam ini aku gak mau tidur sama kamu, aku gak mau nyium bau tubuh mak lampir itu di tubuh kamu," ujar Inge
"Ayolah sayang, aku sudah mandi, sudah wangi sudah gak ada lagi bau dia di tubuh aku, jangan lah hukum aku seperti ini sayang," mohon Devan
"Sekali enggak tetap enggak titik," ujar Inge lalu masuk ke kamarnya lalu segera menutup pintu dan menguncinya.
"Nasib...nasib..kalau sudah begini terpaksa deh malam ini gue tidur di Sofa, padahal tadi gue sudah berencana belah duren malam ini, tapi kerena mak lampir itu gue jadi batal deh buka puasanya," guman Devan lalu merebahkan tubuhnya di Sofa
Di dalam kamar Inge sedang telponan dengan Mika.
"Inge...gimana sukses gak sandiwara kalian," tanya Mika
"Sukses banget dong, itu semua karena akting gue yang sempurna," ujar Inge sombong
"Kak Devannya gimana apa yang dia lakukan tadi ?"
__ADS_1
"Gue sebel deh Mik, masak si mak lampir itu malah meluk-meluk suami gue sih, malah Kak Devan balas meluk lagi, gue kan jadi cemburu," ujar Inge
"Loh kok cemburu sih Nge, lo kan yang merencanakan semuanya ,"
"Iya sih tadi kak Devan juga ngomong begitu, tapi tetap aja Mik gue cemburu,"
"Ya sudah..tapi lo gak sampe hukun kak Devan kan ?"
"Kok lo tau sih Mik ?
"Jadi lo ngehukum kak Devan Nge ?"
"Iya...gue suruh dia tidur di Sofa ," ujar Inge
"Ya ampun Nge...kasian sekali kak Devan seharian kerja lo suruh tidur di sofa hanya gara-gara di peluk sama mak lampir itu, kebangetan lo ya," omel Mika
"Sebenarnya bukan itu sih alasannya ," Mika mengerutkan keningnya.
"Terus kenapa Inge sayang, kasihan kan Kak Devannya,"
"Sebenarnya gue takut di Unboxing sama dia," ujar Inge pelan, Mika menutup mulutnya supaya gak teriak
"Gue takut Mik, katanya kalau di Unboxing itu sakit banget,"
"Iya sih, eh tapi katanya nih cuma sebentar kok sakitnya selebihnya malah enak loh," ujar Mika geli sendiri membayangkannya, Inge menutup mulutnya
"Lo tau dari mana sih, lo kan belum nikah,"
"Gue nikah belom tapi kawin udah ,"
"Mika...." teriak Inge lalu menutup mulutnya agar Devan gak bangun.
"Ha...ha...gak kok gue cuma bercanda, gue taunya di mbah Google, jaman udah canggih say," ujar Mika
"Kirain lo udah begituan sama kak Dion,"
"Kayaknya boleh di coba tuh," ujar Mika yang membuat Inge kembali berteriak karenanya.
"Udah deh gue capek ketawanya, tapi saran gue ya Nge, lo harus kasih tu hak suami lo, lo gak mau kan karena lo tunda-tunda mulu nanti kak Devan malah mencari pelampiasan di luar sana, Katanya kalau nahan Hasrat itu lebih parah dari nahan kentut di depan mertua loh," ujar Mika yang membuat Inge tertawa.
__ADS_1
"Udah ye..gue tutup dulu telponnya, selamat di Unboxing, Caayoo.." ujar Mika lalu memutuskan sambungan telponnya.
Inge menaruh ponselnya di nakas, dia masih merasa takut namun apa yang di katakan oleh Mika ada benarnya Juga, sekarang atau nanti dia juga akan merasakannya.
Inge bangkit dari tempat tidurnya, dia kemudian membuka pintu kamarnya lalu melihat ke arah Sofa, terlihat suaminya tertidur pulas di sana. Inge pun kembali ke kamar lalu mengambilkan selimut buat suaminya dan bergegas menuju Sofa.
Inge menyelimuti Devan lalu duduk sebentar di sana sambil memandangi wajah tampan suaminya itu.
"Pasti kamu capek banget seharian kerja, kasihan sekali kamu sayang," ujar Inge sambil membelai wajah tampan Devan yang lagi pulas itu.
Aaaaa..
Inge berteriak ketika tangannya di pegang oleh suaminya itu, Devan membekap mulut Inge
"Jangan teriak dulu dong sayang, aku belum ngapa-ngapain kok," ujar Devan yang membuat Inge mencubit pinggangnya
"Aw..." ringis Devan sambil tertawa
"Kamu belum tidur, kenapa kamu bohongin aku ?"
"Aku gak bohong kok sayang, tadi memang aku sudah tidur tapi teriakan seseorang yang berasal dari kamar kita membangunkanku, jadi aku gak bisa tidur lagi deh," jelas Devan
"Kalau begitu kamu tidur lagi sana, aku juga mau tidur di kamar," ucap Inge beranjak lalu melankah menuju kamarnya namun dia tidak menyadari kalau Devan mengikutinya dari belakang.
"Aaaaa..."Teriak Inge kaget melihat Devan sudah berada di belakangnya ketika dia berbalik hendak menutup pintu kamar itu.
Seketika Inge menjadi gugup melihat Devan tersenyum ke arahnya sambil menutup pintu dan terlihat sekali kalau Devan menguncinya, Inge tambah gugup saat Devan mulai mendekatinya, perlahan-lahan Inge mundur tapi Devan masih saja mendekat ke arahnya sampai akhirnya kaki Inge menabrak pinggir ranjang yang membuat dia terhempas di atasnya.
Devan masih saja mendekati inge dan segera naik ke ranjang itu dengan bertumpu lututnya diantara dua sisi tubuh Inge agar Inge tidak tertindih.
Inge semakin gugup di buatnya, jantungnya bagai genderang perang gedebam gedebum, padahal sudah sering Devan dekat dengannya seperti itu namun kali ini entah mengapa Inge merasa sangat gugup.
Devan perlahan mendekatkan wajahnya ke arah Inge, sontak Inge memejamkan matanya dengan jantung yang masih berdebar kencang, Lama Inge menanti bibir Devan bertemu dengan bibirnya namun ternyata Inge salah prediksi bibir itu malah mendarat di keningnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ayo...kira-kira apa yang terjadi selanjutnya ya...
Kepo gak...? miss N juga 😁😁😁
__ADS_1