
"Kamu bisa bernafas Lega sekarang karena Putra mu Zain akan segera memberikan Kita Cucu, dan kamu Tahu sayang sekarang Zain Bahkan lebih Bucin dari kamu loh sayang, Lihat saja dia gak mau jauh-jauh sama calon mantu kita," Ujar Inge sambil menjitak kepala Zain yang bersender di bahu Xindy.
"Aduuh Ma sakit tau, Lihat Tu Pa, Mama masih saja galak, waktu itu Mama galak karena aku enggak punya calon Istri, tapi sekarang sudah Punya masih juga di galakin sama Mama, Lagian Mama Ini aneh tau gak, Papa kan sudah meninggal kenapa masih di bilang bisa bernafas lega, kan orang meninggal sudah enggak Nafas Mama sayang ," ujar Zain yang membuat Xindy tertawa.
"Oh iya..ya..Mama Lupa kalau Papa kamu sudah meninggal, Lagian Papa kamu akan selalu hidup di hati mama," ujar Inge yang membuat Xindy merasa terharu, Pantesan saja Mama Inge masih saja sendiri, padahal walaupun sudah berumur dia masih cantik, Cantik banget malah tapi dia tetap mempertahankan cinta terhadap Papanya Zain.
Begitu besar cinta Mama Inge terhadap Papanya Zain sehingga dia tidak sanggup untuk menerima orang lain sebagai penggantinya.
"Loh Kok bengong sih sayang, ayo say hay sama Papa ," suruh Inge sama Xindy.
"Hallo Papa..
"Eh tunggu sayang, Biar lebih Afdol kamu lihat Fotonya dulu." ujar Inge mengambil ponselnya, di Layar Ponsel itu ada Foto seorang pemuda berwajah tampan yang sangat mirip dengan Zain.
"Coba kamu Lihat dia sangat tampan bukan ?" ujar Inge sambil meneteskan air matanya.
"Iya Ma, Papa sangat tampan bahkan ketampanannya melebihi Zain," ujar Xindy
"Hallo Papa, Aku Xindy yang sebentar lagi akan Jadi Menantu Papa, tapi setelah Mas Zain bisa hafal AlQuran Ya Pa," ujar Xindy
"Sayang kenapa kamu bilang Papa Ku lebih tampan dari aku sih, aku cemburu nih ," ujar Zain cemberut
"Jangan kayak anak kecil deh kamu Zain, Xindy benar Papa kamu lebih tampan dari kamu tapi kalian berdua adalah Raja dan pangeran di hati Mama ," ujar Inge lalu memeluk Zain sambil mencium layar Ponselnya, Xindy tidak sanggup melihat keharuan mereka dia kemudian memeluk mereka juga.
Suasana haru pun menyelimuti mereka, Xindy sampai terisak karena teringat akan Ibunya yang sudah meninggalkannya di waktu dia masih kecil, tidak ada kenangan yang dia Ingat ketika bersama Ibunya.
"Sudah sore kita pulang yuk ," ajak Inge
"Mas Devan, kita pamit dulu ya.. Kamu doàin Putra kita biar cepat bisa menghafal AlQuran agar cepat bisa memberikan kita cucu yang banyak," ujar Inge
"Sekarang pun kalau Xindy mau kita bisa ngasih cucu Kok Ma ," ucap Zain
Pletaakk...
Awwww...
__ADS_1
"Nikah Dulu baru ngasih cucu," ujar Inge
"Iya..iya..Lagian Zain hanya bercanda doang kok ma ," ujar Zain sambil cengengesan.
Mereka pun akhirnya Pulang dengan hati yang sangat bahagia.
*
*
Keesokan Paginya, Xindy sudah siap untuk berangkat ke Kampus, dia Turun menuju ke ruang Makan.
"Eh Kok si Mbak sih yang masak hari ini ?" tanya Xindy
"Iya Nih Non Xindy, Ibu sedang tidak enak badan katanya ," ujar Mpok Neneng salah satu pelayan di Rumah itu.
Xindy beranjak menuju ke Kamarnya Inge, Dia mulai mengetuk pintu kamar itu namun tidak ada Respon dari dalam, Xindy terus saja mengetuk Pintu kamar itu lagi-lagi tidak ada suara apapun yang terdengar.
Xindy mulai memutar knop pintu itu ternyata tidak di Kunci, Xindy melihat-lihat ke dalam Kamar itu dan terlihatlah Inge sedang menyelimuti tubuhnya sambil menggigil.
Xindy segera berhambur ke arahnya dan memegang dahinya.
"Sebentar Ya Ma ," ujar Xindy sambil berlari le dapur lalu mengambil handuk kecil dan Air dingin untuk mengompres.
Dengan telaten Xindy mulai membasahkan handuk itu lalu di tempelkan di kening Inge.
"Mama kenapa bisa demam gini sih Ma ?"
sudah beberapa saat Xindy mengompresnya namun panasnya tidak turun juga akhirnya Xindy memutuskan untuk memanggil Zain agar dia bisa membawa Mama Inge ke rumah sakit.
Xindy mulai menuju ke Kamarnya Zain, terlihat Zain masih terlelap tidur karena semalam dia bergadang untuk mengerjakan pekerjaan yang tertunda ketika dia berada di pesantren kemarin.
Xindy mulai mengetuk pintu Kamar Zain, Zain yang kaget segera membuka pintunya.
"Sayang..kenapa pakai gedor-gedor segala sih, kan pintunya gak aku kunci, Lain kali kalau mau ke kamar aku kamu Langsung masuk saja ya,"
"Mas Zain, Mama Inge demam, aku sudah mengompresnya tetapi panasnya tidak turun juga," ujar xindy
__ADS_1
"Mama sakit," ucap Zain Lalu segera berlari menuju ke kamar Mama Inge.
"Mama...bangun dong, Mama jangan sakit dong," Zain mengoyang-goyangkan tubuh Inge namun tidak ada pergerakan dari Inge, Zain segera menggendong Inge lalu membawanya ke Mobil.
"Sayang kamu ambil Baju ganti buat aku ya di kamar, yang casual aja ," suruh Zain yang panik melihat Keadaan Mama nya itu.
"Baik," ucap Xindy sambil berlari menuju kamarnya Zain dan mengambilkan satu setel pakaian Casual buat Zain.
Mereka pun berangkat ke Rumah sakit, Zain melajukan mobilnya dengan kecepqtan tinggi dan tak lama kemudian mereka pun sampai di Rumah sakit
Suster... Dokter...tolong Mama Saya ," Teriak Zain
Para Suster dan Dokter Langsung memeriksa Keadaan Inge.
Tak Lama kemudian Dokter keluar dari Ruang Pemeriksaan.
"Bagaimana keadaan Mama Saya Dok ?" tanya Zain
"Keadaan Ibu Inge tidak baik-baik saja, Boleh mas Ikut saya ke Ruangan saya ," ujar Dokter itu
"Baik Dok, Sayang kamu jaga mama dulu sebentar ya, aku mau ke Ruangan Dokter Dulu ," ujar Zain
"Baik sayang," sahut Xindy
"Kalau bisa Nona juga ikut ke Ruangan saya, kalau Soal Ibu Inge bisa di jaga oleh Suster yang bertugas," ujar Dokter itu Lagi yang membuat Kening Mereka berkerut binggung tapi akhirnya mereka menurutinya juga.
Zain dan Xindy pun pergi mengikuti Dokter itu dengan perasaan tak menentu. Mereka sudah berpikiran macam-macam saja dengan keadaan Inge, tapi mereka tidak mau menduga-duga terlebih dahulu.
"Silahkan duduk Mas Dan Nona ," suruh Dokter itu.
"Ada apa sebenarnya Dok yang terjadi sama ibu saya, Apa penyakitnya Parah," tanya Zain
"Hufff...," Dokter itu membuang nafasnya kasar.
"Begini Mas Zain, Ibu anda tidak baik-baik saja, pemeriksaan kami tadi menduga kalau Ibu Inge mengalami pembengkakan pada hati yang sudah lama, Mungkin penyakit Ini sudah lama dan Ibu Inge sendiri tidak pernah mengobatinya," jelas Dokter
"Apa Dok , Terus apa Ibu saya bisa di sembuhkan Dok ?" tanya Zain dengan perasaan tak menentu.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...