
Apa !!!, Inge di culik,,,
Mika yang baru saja sampai di Apartement kaget mendengar apa yang di katakan oleh Devan, Devan kaget dengan teriakannya.
"Andi,, lo segera lakukan perintah gue, gue gak mau kita terlambat menemukannya, gue tunggu secepatnya," ujar Devan lalu memutus sambungan telponnya.
"Gue gak salah dengar kan ? , Kak Devan ! Dimana Inge sekarang,"
Mika shock mendengar kalau sahabatnya itu ada dalam bahaya. Devan menarik Nafas kasar, ketika Devan mau menjelaskannya ke Nia tiba-tiba ponselnya berdering, Devan segera mengangkatnya.
"Ya Ndi,, gimana sudah dapat lokasi di mana Inge berada ?
"Iya Bro,, Sekarang Inge berada di gedung tua di tepi hutan di pinggiran kota, beruntung ponselnya masih nyala, jadi gue bisa cepat melacak lokasinya," jelas Andi
"Oke,,Lo hubungi yang lain dan share lokasinya ke gue,, kita ketemu di sana,"
Devan segera masuk ke kamar nya, Mika mengukutinya dari belakang, Devan terlihat menggeserkan bingkai fotonya yang terpajang di dinding dan terbukalah lemari rahasia yang berada di belakang dinding itu.
Mika melongo tidak percaya dengan apa yang di lihatnya, bermacam model senjata Api berada di dalam lemari tersebut, Devan mengambil dua pucuk pistol lalu menyerahkan salah satu pistolnya kepada Mika.
Devan tau kalau Mika gak akan mau berdiam diri saja, dengan sifatnya yang seperti itu pasti dia akan minta ikut untuk menyelamatkan Inge.
"Ini buat Lo,, untuk jaga-jaga," ujar Devan lalu menutup kembali Lemari itu
" Lo mafia ?" ucapan Mika bergetar, dia sekarang merasa takut sama Devan.
"Belum saat nya Lo tau siapa gue,,dan awas saja Lo kalau lo beritahukan ini semua sama Inge," ancam Devan
Mika bergidik, dia binggung bagaimana cara menggunakan pistol itu, jangankan memegangnya, melihat saja baru kali ini. Memang sih kalau pistol mainan sering dia Lihat tapi ini kan pistol beneran.
"Ini gimana cara menggunakannya ? ujar Mika binggung
"Lo pernah nonton film action kan, lo contohin saja cara mereka menembak, tapi kalau keadan lo sudah dalam bahaya baru lo boleh menggunakannya," ujar Devan sambil melangkah menuju mobilnya
__ADS_1
Mika pelan-pelan memasukkan pistol itu ke dalam tas nya dan langsung menyusul Devan.
Setelah mereka berada di mobil Devan segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi sehingga menbuat Mika berpegangan erat dan memejakkan matanya karena takut.
Mereka sudah berada di tepi hutan yang di maksud ,Di sana sudah menunggu Elang, Andi dan beberapa orang lainnya yang Mika tidak kenal siapa mereka.
Devan langsung membuat strategi
" Elang,, lo dan beberapa orang bergerak di belakang gedung, dan Andi dan beberapa orang urus menyergap dari depan, tunggu aba-aba dari gue baru kalian menyerang," ujar Devan. Mereka segera bergerak menuju arahan Devan layaknya pasukan khusus perang yang sudah terlatih.
"Terus gue gimana," ucap Mika yang tinggal berdua dengan Devan.
"Lo Disini saja ,,jaga mobil gue," ucap Devan berlalu pergi meninggalkan Mika yang masih bengong di sana.
"Hah...Dia ngasih gue pistol cuma buat jaga mobilnya ? Nyebelin banget sih, padahal gue sudah bayangin ikut dalam perang kayak di movie-movie yang pernah gue tonton, malah di suruh jaga mobil," gerutunya
"Malah udah mau gelap lagi, gue di tinggal sendiri di sini, dasar pria gak punya hati,"
Sementara Devan masih bersembunyi di balik Semak- semak tidak jauh dari gudang itu, posisinya sekarang berada di samping gudang yang ada sebuah jendela di sana . penjagaan di sana tidak terlalu ketat mungkin mereka mengira tidak akan ada yang tau kalau mereka menyekap Inge di sana.
Devan berusaha membuka jendela itu dengan menggunakan sebilah pisau yang di bawanya, beberapa saat kemudian dia berhasil membuka jendela itu dan langsung masuk ke dalam gudang.
Devan melihat dua orang berbadan besar yang sedang bermain catur dekat dengan tubuh Inge yang terikat di sebuah kursi dengan mulut yang tersumpal Kain.
Ternyata mereka hanya amatiran, ngapain juga gue mengerahkan pasukan khusus kampus hanya untuk menghadapi cecunguk-cecunguk tak berguna seperti mereka,, Batin Devan
Devan segera berjalan menuju preman-preman itu sambil berkacak pinggang.
Preman-preman itu kaget, salah satu dari mereka langsung menyerang Devan, Devan menangkisnya lalu segera menendangnya hingga terpental jauh menabrak tembok.
Melihat kekuatan Devan yang sangat luar biasa, salah satu preman itu menuju ke arah Inge dan menaruh sebilah pisau di lehernya sehingga membuat Devan berhenti seketika.
Dua orang lainnya hendak menghajar Devan, tanpa di ketahui mereka dengan cepat Devan mengambil pistolnya dan menembakkan ke arah tangan pria yang memegang pisau itu dan dia kembali menyembunyikan pistolnya agar Inge tidak curiga.
__ADS_1
Begitu mendengar suara pistol, Elang ,Andi dan rekan-rekannya segera bergerak melumpuhkan penjaga yang sesaat kaget mendengar suara pistol dari dalam gudang tersebut.
Beberapa penjaga yang ada di depan dan di belakang gudang sudah berhasil mereka lumpuhkan.
Devan masih melawan dua preman yang cukup tangguh di bandingkan preman yang pertama tadi, beberapa kali Devan terkena pukulan dari mereka, tak ayal pula mereka berteriak kesakitan terkena pukulan dan tendangan dari Devan.
Ketika Devan hampir berhasil melumpuhkan preman-preman itu di melihat preman yang tertembak tadi bangun dengan masih memegang pisau dengan tangan satunya dan hendak menikam Inge dari belakang.
Devan berlari menuju ke arah Inge, dan dia melingdungi tubuh Inge dengan tubuhnya, pisau itu berhasil bersarang di bahu kiri Devan, Devan seketika Ambruk, Inge yang masih tersumpal mulutnya dengan kain hanya bisa menangis melihat kekasihnya itu bersimbah darah.
Elang dan rekan-rekannya yang baru masuk ke sana segera melumpuhkan preman-preman itu, Andi membuka ikatan Inge, Inge langsung berhambur memeluk Devan sambil histeris.
"Honey !!!! bangun honey,, jangan mati,, aku gak sanggup kehilangan kamu," teriak Inge histeris
Devan membuka matanya dan tersenyum ke arah Inge,
" Kamu kenapa Baby, jangan menangis aku gak apa-apa kok," ucapnya berusaha bangkit, wajahnya menunjukkan lalau dia menahan sakit.
"Gak apa-apa gimana ? kamu terluka honey hu..hu..," ucap Inge masih menagis
"Ini gak ada apa-apanya ketimbang sakit di sini kalau aku melihat kamu yang tertusuk tadi," ujar Devan sambil memegang dadanya.
"Ih,, masih saja gombal, Aku gak mau kehilangan kamu Honey,"
"Aku juga," ucap Devan sambil mengecup bibir Inge lembut
Heemmm...
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
miss N😘😘😘
Hai..Readers,, karena hari ini miss lagi senang, miss N up dua episode ya..
__ADS_1
Dan jangan lupa dukung terus karya miss N agar miss N tambah semangat lagi Up nya
Makasih🙏🙏🙏love U❤❤❤