
Mana..mana...," ujar Edo masih ling lung
"Giliran dengar nama nia saja kak Edo bangun, gue sudah capek tau bangunin kalian," ujar Inge kesal
"Ada apa sih Nge, ganggu gue tidur aja lo ," ujar Edo
"Kak Edo lihat kak Devan Gak ?" tanya Inge
"Semalam sih dia pergi, katanya mau cari angin segar. Apa dia gak kembali ?" tanya Edo masih sedikit ling lung, Inge semakin khawatir akan Devan.
"Kak Devan, dimana sih kamu kak, apa kamu marah sama aku karena semalam aku tidur sama mama bukan sama kamu," guman Inge
"Kenapa lo gak telpon aja sih Nge, itu aja kok repot," ujar Edo kemudian melanjutkan tidurnya.
"Iya..ya..kenapa gue gak kepikiran dari tadi ya," ucap Inge lalu kembali ke kamar mama Nita buat mengambil ponselnya.
Inge mencoba menelpon Devan, satu panggilan tidak di angkat, dua panggilan masih tidak di angkat dan saat panggilan ke tiga ternyata di angkat.
"Hallo,siapa sih yang nelpon, gak tau apa gue lagi tidur," ucap Devan dengan suara serak khas bangun tidur.
"Sayang kamu Dimana ?" tanya Inge Devan yang mendengar suara Inge langsung membuka matanya dengan sempurna.
"Sayang..ini kamu ?" tanya Devan seperti orang bodoh.
"Kamu di mana sih, aku cari kemana-mana gak ada ," ujar Inge
"Aku lagi di Base Camp Herois Busters," ujar Devan
"Ngapain kamu di sana ? pasti kamu ketemu sama gadis-gadis yang mengidolakan kamu ya ?" ucap Inge marah
"Lah..seharusnya gue yang harus marah sama dia karena dia semalam tidur sama mama bukan sama gue, tapi kenapa sekarang dia yang marah ya ," guman Devan
"Pokoknya aku gak mau tau, kalau kamu gak pulang sekarang, gak akan ada yang namanya Malam pertama, aku tunggu lima belas menit dari sekarang," ujar Inge lalu menutup telponnya
"Sayang..sayang..yach kok di tutup sih telponnya, bisa gawat nih kalau gue gak pulang sekarang, bisa-bisa ucapan Inge akan kejadian," gumannya.
Devan kemudian memakai topengnya lalu bergegas menuju mobilnya, dia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi dan sesekali melihat ke arah jam tangannya.
Tak berapa lama kemudian Devan sudah sampai di rumah besar, dia bergegas menuju kamarnya, dia tidak sadar kalau masih memakai seragam Herois Busters
Sampai di kamar terlihat Inge sedang duduk di ranjang sambil bersandar dan di tangannya terlihat ponsel yang sedang menyalakan Stop wacthnya,
"Kamu telat satu detik," ujar Inge dengan tatapan yang menyeramkan.
"Hanya satu detik kok sayang," ujar Devan hendak mendekat ke arah Inge
__ADS_1
"Satu detik juga berharga, kalau gak ada satu detik gak akan ada menit dan Jam tau ," ujar Inge.
"Tapi kan itu gak lama sayang," ujar Inge
"Pokoknya gak ada yang namanya malam pertama," ujar Inge
"Ayolah sayang, maafin aku..aku janji aku gak akan bikin kamu khawatir lagi ya..maafin ya.." ujar Devan memelas
"Sekali enggak tetap enggak," ujar Inge
"Kalau begitu aku setuju, kalau kamu bilang gak ada malam pertama, sekarang aku akan melakukannya di hari pertama," ucap Devan dengan serigainya.
"Eh...kamu mau ngapain ?" ujar Inge
"Aku mau melewati hari pertama bersamamu sayang," ujar Devan mendekat ke arah Inge, Inge bergidik di buatnya.Devan masih mendekat terus mendekat dah akhirnya bibir Devan sudah menyentuh bibir Inge.
Awalnya hanya kecupan lembut tapi akhirnya jadi ciuman panas yang mengelora.
Ceklek...
Pintu kamar mandi terbuka, terlihat Bondan keluar dari sana, Devan dan Inge kaget begitu pula dengan Bondan yang tak kalah kaget melihat pemandangan itu.
"Ups Sorry Van, papa gak lihat kok, silahkan lanjutkan," ujar Bondan lalu keluar dari kamar itu Devan hanya geleng-geleng kepala melihat papanya itu, Devan kembali mendekat Ke arah Inge tapi pintu kamar itu kembali terbuka.
"Papa..." teriak Devan melempar bantal ke arah Bondan, Inge tertawa melihat mereka.
Devan bangun dan mengunci kamar itu, Lalu dia kembali menuju ke arah Inge.
"Sekarang gak akan ada lagi yang akan ganggu kita sayang ," ujar Devan dengan serigainya
Devan mulai mendekat ke arah Inge, Inge mulai terbiasa dengan tatapan buasnya Devan, dia mulai mengimbangi perlakuan Devan kepadanya.
Saat Ciuman panas terjadi tiba-tiba Ponselnya berbunyi, Devan tidak mengubrisnya akan tetapi ponselnya terus berbunyi.
"Sayang angkat dulu telponnya siapa tau penting kan," ucap Inge yang sudah sulit bernafas.
Devan mengangkat telpon itu tanpa melihat siapa penelponnya.
"Hallo, siapa ini," tanya Devan
"Apa sudah Gol Van ?" tanya orang di seberang sana, Devan heran kemudian dia melihat layar ponselnya ternyata yang menelponnya adalah Bondan, wajah Devan memerah.
"Papa..."
"Ha..ha..ha.." terdengar tawa Bondan membahana, Devan mematikan ponselnya dan dia juga mengambil ponsel Inge lalu menonaktifkannya.
__ADS_1
"Loh kok di matikan sih ponselnya sayang ?" tanya Inge
"Kalau gak begini, mereka akan mengganggu kita lagi sayang.
Devan lalu membaringkan Inge kemudian menindihnya tapi tiba-tiba perut Inge sakit.
"Sayang, sepertinya aku harus ke toilet dulu ya, Perut aku sakit banget nih," Ujar Inge
Devan melepaskan kukungannya dan membiarkan Inge menuju ke kamar mandi untuk menuntaskan hajatnya walaupun si Jeki sudah meronta-ronta hendak mencari tempat bersemayam, Devan harus sabar menunggu Istrinya keluar dari sana.
Sudah lebih dari lima belas menit Devan menunggu, dia semakin gelisah karena Inge belum juga keluar dari toilet, Devan mulai khawatir dengan keadaan Istrinya itu, dia mencoba untuk memanggilnya.
"Sayang..udah belom, kok lama amat sih ?" ujar Devan
"Bentar sayang, ini hampir kelar kok," jawab Inge
Devan kembali ke ranjangnya lalu berbaring di sana, si Jeki masih terlihat perkasa walaupun sudah menunggu lama.
Ceklek..
Senyum pun terlihat di bibir Devan saat melihat Istrinya sudah keluar dari toilet itu.
Devan langsung menghampirinya lalu mengendong Inge dan membaringkannya di ranjang lalu segera menyerbu bibir ranumnya itu.
"Sayang..aku...ummpp," Devan semakin ganas saja memperlakukan Inge sampai Inge sulit bernafas.
"Sayang...aku..."
"Tenang sayang kamu rileks saja ya.." ujar Devan masih meneruskan aksinya, tangannya sudah menyusup kemana-mana.
Saat Devan memegang sesuatu di bawah sana terasa ada sesuatu yang menganjal di area itu sehingga dia memandang ke arah Inge dengan tatapan penuh tanda tanya.
"Sayang kamu datang bulan..?
"Iya...dari tadi aku mau mengatakannya padamu tapi kamu selalu saja memotong omonganku, ya aku biarkan saja kamu mengetahuinya sendiri ," ujar Inge cuek
"Terus ini gimana dong ?"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Mampir yuk di CS aku: *CINTA BEDA DUNIA*
di jamin gak nyesel deh.
Ceritanya gak kalah lucu dari Novel ini loh...
__ADS_1