Gadis Somplak Penakluk Hati CEO

Gadis Somplak Penakluk Hati CEO
DICKO 92


__ADS_3

"Maaf kak, saya tidak tahu apa maksud kakak," ujar Lina


"Kalau kamu tidak tahu apa maksud saya berarti kamu menantang saya untuk datang ke sana ," ujar Xindy


"Saya tidak bermaksud begitu kak, saya Minta Maaf karena sudah membuat kakak gak nyaman dengan keberadaan saya, tapi ini kan pesantren Orang tua saya, jadi kalau kakak tidak suka, suruh saja calon suami kakak pergi, jangan malah mengancam saya ," ujar Lina mulai berani.


Ooo ternyata besar juga nyali mu anak kecil, oke aku ladeni kamu untuk saat ini ,, Batin Xindy


" Iya..ya..mungkin memang begitu sih seharusnya, kamu kasih kembali ponselnya ke mas Zain," suruh Xindy, Lina pun menyerahkan kembali Ponselnya ke Zain, dia merasa menang karena dia adalah pemilik pesantren itu dan Zain membutuhkan Bantuan Abinya untuk mencapai tujuannya.


"Iya sayang ," ucap Zain


"Mas kamu dengar kan apa yang di katakan sama anak dari pemilik pesantren itu, kamu pergi dari sana atau aku yang akan menjemputmu ," ucap Xindy lalu memutuskan sambungan telponnya.


Zain kaget mendengar ucapan Xindy tersebut, Dia memandang ke arah Jo dan Jo mengidikkan Bahunya.


"Heh Lo..berani sekali Lo bicara seperti itu sama calon Istri gue, memangnya Lo siapa hah, gue gak perlu bantuan Bokap Lo, dan Lo Jo kalau Lo mau ikut gue pulang Lo siap-siap sana, gue mau ketemu sama pak Ustadz dulu mau pamit ," ujar Zain


"Lah kok pulang sih Zain, kita kan belum bisa menghafal satu ayat pun ,"


"Gue gak akan memaksa Lo ikut, gue gak mau sampai Xindy yang menhemput gue di sini, gue harus menjaga perasaannya Jo," ujar Zain lalu pergi dari sana.


"Heh Lina kamu ini sebenarnya mengerti bahasa Indonesia gak sih, Xindy tadi ngomongnya udah baik-baik loh sama kamu malah kamu nyolotin dia, asal kamu tahu ya Lina, Xindy itu cinta pertama dan terakhir Zain, jadi tidak ada satu orang pun yang sanggup memisahkan mereka, gue aja gak bisa yang tampan begini, apa lagi Lo yang baru dia kenal, jadi kubur dalam-dalam harapan Lo sama Dia, gue mau siap-siap dulu mau pulang ," ujar Jo.


"Mas Jo maafkan aku, sampein maaf aku juga sama mas Zain, kalian jangan pergi ya, aku tidak mau di marahi sama Abi karena menjadi penyebab kepergian kalian."


"Sudah terlambat Lina, mau di rayu bagaimanapun Zain pasti tidak akan mau tinggal di sini lagi, dia tidak Ingin menyakiti perasaan Calon Istrinya sedikitpun, jadi percuma saja kamu memohon-mohon," ujar Jo lalu beranjak menuju kamarnya.


Sementara Zain masih duduk berhadapan dengan Pak Ustadz.


"Ada apa nak Zain , sepertinya ada hal penting yang Ingin nak Zain sampaikan ya ?" tanya Pak Ustadz.

__ADS_1


"Begini pak Ustadz mohon maaf kalau ini terlalu mendadak, saya dan Jo harus segera pulang Ke Jakarta ," ujar Zain


"Loh kenapa begitu nak Zain, baru juga dua hari di sini sudah mau pulang saja ," ujar Pak Ustadz


"Ada masalah dadakan pak Ustadz, jadi saya dan Jo harus segera pulang, saya sangat berterima kasih sama pak Ustadz yang sudah memberikan sedikit pengajaran kepada Kita, nanti saya akan suruh Jo memberikan hak Pak Ustadz karena itu sudah menjadi perjanjian kita sebelumnya ," ujar Zain


"Baiklah kalau begitu nak Zain, saya pun tidak bisa memaksa nak Zain agar tetap tinggal, mungkin kita hanya berjodohnya sampai di sini saja, dan soal Hak itu saya tidak pantas menerimanya karena saya pun belum mengajarkan apa-apa pada kalian, jadi tidak usah di berikan ya Nak Zain ," ujar Pak Ustadz.


"Kalau begitu saya tidak memaksa Pak Ustadz tapi terimalah itu sebagai sedekah kami ke Pesantren ini dan bisa di pergunakan untuk membangun beberapa bilik lagi di sini, kali ini jangan di tolak ya pak Ustadz."


"Baiklah Nak Zain, semoga sedekah ini menjadi bermamfaat dan berkah ya nak Zain,"


"Amien pak Ustadz, kalau begitu kami pamit dulu ya pak Ustadz , Assalamuàlaikum ," pamit Zain


"Waàlaikum salam warahmatullahi wabarakatuh ,"


Zain pun pergi akan tetapi ketika dia masih di teras dia berpas-pasan dengan Lina, Zain pergi begitu saja sedangkan Lina masih menatap Punggung Zain dengan penuh harapan kalau Zain akan berbalik melihatnya, tapi harapan Lina hanyalah semu belaka, Zain terus saja berjalan tanpa menoleh sedikitpun padanya.


"Jo apa lo sudah siap ?


"Kalau berurusan dengan perasaan Xindy gue tidak bisa mikir lagi Jo, lo mau ikut atau gue tinggal ,"


"Ya ikut lah Bro, tapi kasihan Lina loh kalau sampai dia di marahi hanya gara-gara ini," ujar Jo


"Lo tenang saja Jo, gue tidak bilang semua ini gara-gara Lina sama Pak Ustadz, jadi semua aman ," ujar Zain mengambil tasnya lalu menuju ke mobilnya.


"Lo yang nyetir ya Zain, gue masih capek banget nih nyetir kemaren," ujar Jo


"Iya..tapi lo nanti gantian ya ,"


"Iya bawel,"

__ADS_1


Zain menyetir mobil itu dengan kecepatan Tinggi meninggalkan Pompes itu.


Sementara Jo asik tidur di sampingnya, Zain menatap sekilas ke arah Jo sahabatnya itu.


"Benar-benar kayak kebo Lo Jo," ucap Zain sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.


*


*


Bintang sudah sampai Di Bengkel hantu punya Yuki, sekarang dia makin yakin kalau Yuki berada di sana karena dia mendengar sekilas Yuki memarahi anak buahnya.


Bintang mulai menggedor pintu Gudang itu.


"Huh siapa sih gedor-gedor pintu, Tama Lo lihat siapa di Luar," Suruh Yuki


Tama berjalan ke arah Pintu dan mengintip Lewat Lobang Rahasia yang hanya mereka saja yang tahu.


Buru-Buru Tama berlari Ke arah Yuki dan memberitahukannya kalau di Luar adalah Bintang.


"Kalau dia tanya tentang Gue, Bilang saja Gue gak ada sini, Gue mau tidur dulu," ujar Yuki lalu masuk ke kamarnya.


Tama membuka Pintu itu, dam terlihatlah Bintang yang wajahnya sangat kelihatan Frustasi.


"Hai Bro tumben Lo kemari, Lo cari Yuki ya, Yach Bro tapi sayang Yuki gak ada di sini ," ujar Tama


"Bukan, gue bukan nyari Yuki kok, gue hanya mau curhat sama Lo Tam," ujar Bintang yang main nyelonong saja masuk ke sana.


"Eh..Tang..tapi gue lagi Kerja nih, gimana kalau nanti Lo balik lagi saat Jam Kerja Sudah selesai,"


"Gak usah, gue tungguin saja Lo di sini, lagian sudah dua hari gue nyari-nyari Yuki gak ketemu juga, Gue menyesal sudah membuatnya sakit hati dan kecewa Tam," ucap Bintang sambil merebahkam tubuhnya di Kursi.

__ADS_1


Kasian banget si Bintang, sepertinya dia benar-benar menyesal deh, Tapi Yuki sepertinya belum bisa memaafkannya,, Batin Tama


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ*...


__ADS_2