Gadis Somplak Penakluk Hati CEO

Gadis Somplak Penakluk Hati CEO
DICKO 108


__ADS_3

Susan menghembuskan nafasnya kasar, menceritakan kejadian itu seperti membuka luka lama baginya, tak terasa air mata mengalir di pipinya mengingat apa yang di lakukannya dulu menimbulkan penyesalan yang terdalam di hatinya.


Susan menghapus air matanya dan mencoba untuk tersenyum tapi bayangan Xindy yang sangat membencinya itu kembali hadir di pelupuk matanya sehingga membuat dia kembali terisak dan lama-kelamaan tangisannya menjadi kencang.


Zain yang melihatnya lalu segera memeluk Susan agar Susan kembali Tenang.


"Tenang Tante, aku akan mencoba memberi pengertian kepada Xindy, ternyata yang di Ceritakan oleh Papa Dulu itu beneran Tante." ujar Zain


"Zain tante tidak tahu lagi bagaimana caranya menghadapi Xindy, Tante sangat menyesal meninggalkan dia bersama mas Damar, Apa kamu juga Bisa membawa Tante ketemu dengan Ayahnya Xindy ?" Tanya Susan


"Tante, sebenarnya Om Damar sudah meninggal Tan, "


"Apa...!!!


Susan Kaget, tiba-tiba saja penglihatannya mulai kabur dan akhirnya dia Pingsan.


Zain mulai panik, Dia segera membawa Susan Ke Rumah sakit terdekat.


*


*


Di Mansion keluarga Perdana....


Xindy sedang melamun di Gazebo belakang Mansion itu, Air mata mengalir di Pipinya, Bayangan Ayahnya ketika meninggal kembali terbayang di Ingatannya.


Dia kembali teringat akan pesan terakhir Ayahnya itu yang membuat Semakin bertambah sesak di dadanya.


"Xindy, Kamu jangan membenci Ibu kamu ya Nak, walaupun Ibu kamu sudah meninggalkan Kita, ayah Yakin Ibu kamu hanya ingin menyelamatkan kita dan Jangan tanya kenapa, Ayah tahu kamu sangat sedih ketika itu dan Ayah Harap ketika Nanti kamu bertemu kembali dengannya, Jangan pernah kamu menghindarinya ," Begitukah Pesan terakhir Damar sebelum dia meninggal.


"Ayah..Aku sedang berusaha menerima dia, tapi entah kenapa hati ini tidak bisa menerima apa yang di lakukannya dulu, dia meninggalkan kita begitu saja, aku selalu di ejek sama teman-temanku kalau aku ini anak yang tidak punya ibu, aku mencoba melupakannya tapi bayangan itu tetap saja terbayang di kepalaku," ucap Xindy Lirih.


Tiba-tiba sebuah Tangan menutup Mata Xindy dari belakang.


"Sayang jangan bercanda deh, aku tahu itu kamu ," ujar Xindy

__ADS_1


"Memang kamu ini adalah tulang Rusukku sayang, kamu pasti mengenal aku walaupun di dalam gelap sekalipun ," ujar Zain sambil memeluk Xindy dari belakang.


"Lepasin sayang, nanti kalau Mama melihat kita begini Mama bisa mengamuk ," ujar Xindy.


"Ha..ha..ha..kamu bisa saja sayang, Mama gak ada kok, dia pasti lagi kangen-kangenan sama Papa di Makam, jadi kita bebas ," ujar Zain


"Heem...


Seseorang berdehem dari arah pintu belakang, Sontak Zain dan Xindy menoleh ke arah sumber suara. Zain segera melepaskan pelukannya sambil tersenyum ke arah Mamanya yang masih dengan wajah Bringasnya seakan-akan mau menerkam Zain.


"Eh Mama...loh kok Mama gak Ke makam Papa sih, ini kan hari Jumàt." ujar Zain cengengesan


"Kenapa memangnya kalau hari ini hari Jumàt ?" tanya Inge masih dengan Ekspresi yang sama.


"Biasanya kan Mama selalu Ziarah ke Makam Papa setiap Hari Jumàt kan Ma, kenapa hari ini Libur ?" ujar Zain


"Hari ini mama sudah Ijin sama Papa gak ngejengukin dia, karena Mama tahu sekarang menjaga kamu itu lebih penting, Lagian Papa kamu pasti mengerti dan tidak akan marah kalau mama Hanya Libur sehari saja menjenguknya," ujar Inge


"Memangnya Zain anak-anak Ma masih saja di jagain, Zain sudah dewasa Ma dan bentar lagi juga mau menikah."


"Justru Itu karena kamu sudah dewasa dan sudah bisa bikin anak makanya mama harus Ekstra menjaga kamu, Mama tidak mau Setan merasuki kalian dan terjadi sesuatu yang tidak di inginkan ," ujar Inge


"Percaya itu sama Tuhan, kalau percaya sama kamu itu Syirik namanya, Kamu tau Enggak Zain, Laki-laki itu ibarat Kucing dan wanita itu ibarat Ikan segar, Mana ada kucing gak doyan ikan, apa lagi Ikannya kayak Xindy," ujar Inge.


Zain terdiam, benar yang di katakan oleh Mamanya itu, Setiap kali dia berdekatan dengan Xindy Hastrat untuk melakukan perbuatan maksiat tiba-tiba saja muncul walaupun sudah berusaha menepisnya namun Hastrat itu semakin kuat saja.


"Ya sudah, Ayo Xindy kita masuk dan tinggalkan Zain di sana ," ajak Inge


"Tapi Ma, Zain masih Ingin mengatakan sesuatu Tentang Tante Susan pada Xindy ," ujar Zain


Inge dan Xindy menatap ke arah Zain, Inge terlihat menghela nafas panjang.


"Baiklah kalau begitu, tapi No adegan pelukan, Mama memantau kamu Ya Zain, Jangan coba-coba melakukannya lagi ," ujar Inge


"Iya Ma, Tapi kalau Xindy yang meluk duluan gimana ?"

__ADS_1


"Itu bonus buat kamu, yang penting jangan kamu yang memulai ," ujar Inge lalu masuk kembali ke dalam Mansion.


"Ngeri amat sih Mama kalau lagi begitu, kayak Bodyguard sungguhan aja ," ucap Zain menggidikkan bahunya.


"Mas Tadi kamu mau ngomong apa?"


"Sayang ayo kita duduk dulu, aku harap kamu jangan marah ya ," ujar Zain


"Kenapa aku harus marah sama kamu Mas, kamu kan tidak biikin kesalahan.


"Justru itu sayang, Hari ini aku menemui tante Susan tanpa sepengetahuan kamu dan Tante Susan sudah menceritakan semuanya pada ku ," ujar Zain, wajah Xindy seketika berubah


"Kamu tidak marah kan sayang ?"


Xindy masih tetap diam dan mulai meneteskan air matanya, Zain mau memeluk Xindy untuk menenangkan akan tetapi dia takut sama Mamanya yang katanya akan terus memantaunya dari jauh itu.


"Sayang kalau mau peluk aku peluk saja ," ujar Zain berharap Xindy duluan memeluknya, tapi harapannya tidak terjadi karena Xindy hanya menutup wajahnya saja dengan Tangannya sambil sesugukan.


Zain kesal, di saat seperti itu ingin sekali dia menyandarkan kepala Xindy di Dadanya tapi dia takut di terkam Harimau yang sedang mengintainya dari balik semak-semak dan siap menerkam kapan saja Zain bereaksi.


Xindy juga tahu ketakutan Zain dan dia sengaja tidak memeluk Zain agar Zain yang memeluknya duluan, entah kenapa jika Mama Inge memarahi Zain itu menjadi hiburan tersendiri baginya.


"Sayang...Lihat aku, apa aku boleh menceritakan padamu apa yang di ceritakan Tante Susan pada ku," tanya Zain


Xindy mulai memindahkan tangan yang ada di wajahnya, tapi dia masih mengalirkan air matanya.


"Mas aku tahu kalau Ibu meninggalkan aku dan Ayah karena suatu alasan , walaupun aku belum tahu pasti apa alasannya meninggalkan kami, Tapi hati ini masih tidak bisa menerimanya mas, Aku butuh waktu menata hati yang sudah terlanjur hancur karena perbuatannya dulu ," ujar Xindy


"Sayang, Mungkin setelah mendengar alasan kenapa dia meninggalkan kalian kamu akan bisa memaafkannya dan menerima dia kembali di hidupmu ,"


"Aku enggak tahu Mas apa aku masih bisa menerimanya lagi," ucap Xindy Lirih


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


mana nih yang sudah mampir di DENDAM SANG PEWARIS...yang belum mampir yuk segera mampir dan dukung Novelnya dengan Cara Favoritkan, Like dan Coment...agar miss N juga bisa bersaing dengan Author2 senior😁

__ADS_1


ini bentukan Covernya ya



__ADS_2