Gadis Somplak Penakluk Hati CEO

Gadis Somplak Penakluk Hati CEO
DICKO 129


__ADS_3

Xindy berusaha keras untuk mencapai Ruangan itu, kini mereka sudah berdiri di depan dua jenazah yang terbujur kaku di depannya, dengan tangan gemetar Xindy mulai memegang ujung kain putih penutup Jenazah itu, dia memejamkan matanya.


Dengan jantung yang berpacu Xindy mulai membuka kain itu sedikit demi sedikit kain penutup itu.


Kinara menahan nafasnya, dia merasakan hal yang sama dengan Xindy, seandainya itu benar-benar mas Zain sudah dapat di pastikan kalau Jenazah yang satunya adalah Mas Jo.


Kinara menutup mulutnya ketika melihat Jenazah itu, dia merasa ngeri dengan penampakan itu. Wajah yang penuh dengan Luka yang sepertinya terkena pecahan kaca mobil terlihat sangat mengerikan.


Xindy masih belum membuka matanya, sentuhan Kinara di bahunya membuatnya sedikit demi sedikit membuka matanya dan mulai melihat ke Arah Jenazah itu dan dia terkejut dan pingsan.


Kinara segera memanggil Dokter untuk memeriksa keadaan Xindy.


Xindy sudah sadar dan melihat sekelilingnya, Kinara yang melihatnya kemudian segera menghampirinya.


“Kinara, benarkah apa yang aku lihat tadi ?” tanya Xindy


“Iya Xindy, mereka bukan Mas Zain dan Mas Jo,” ucap Kinara tersenyum ke arah Xindy.


“Berarti kita salah menduga jalau itu mereka, lebih baik kita pergi dari sini,” ajak Xindy lalu bangun dari brankar itu akan tetapi dia masih merasakan pusing di kepalanya.


“Ayo aku bantu Xin,” ujar Kinara sambil memapah Xindy lalu mereka pergi dari sana.


Karena Xindy masib merasakan pusing akhirnya Kinara yang membawa mobil itu.


“Sebaiknya kita pulang saja dulu Xin, kondisi kamu sangat tidak baik untuk melakukan pencarian lagi, aku juga sudah sangat lelah kita butuh istirahat sebentar Dan lebih baik kita istirahatnya di Rumah aku saja ,” ujar Kinara


“Terserah kamu saja Kinara, kepalaku masih sangat pusing,” ucap Xindy, Kinara mulai melajukan mobil itu menuju ke rumahnya.


*


*


Di Mansion Perdana...


“Bagaimana apa semuanya sudah beres ?” tanya Inge

__ADS_1


“Siap Tante.. kita tinggal tunggu Xindy pulang,” ucap Jo


Di sana sudah ada Juragan Kambing, teras, Liora, Jo, Susan dan pengantin Baru siapa lagi kalau bukan Bintang dan Yuki.


“Zain ke mana Tan ?” tanya Bintang


“Biasa...dia mungkin lagi latihan ,” ujar Inge


“ Sepertinya seru nih kalau aku gangguin, aku ke kamar Zain dulu ya Tante ,” ujar Jo


“Jo...jangan bikin Mood Zain jelek ya, awas kamu kalau dia sampai Lupa sama hafalannya ,” ujar Inge


“Beres Tante, aku gak bakalan gangguin dia kok, paling ngerecokin dikit aja ha..ha..,” ucap Jo lalu menaiki tangga menuju ke kamar Zain.


Ceklek....


Pintu kamar Zain di buka, Zain yang sedang asik memantapkan Hafalannya terlihat sudah sangat tampan dengan setelan Baju pengantin yang melekat di tubuhnya.


“Wiiih ada yang bakalan nikah nih hari ini, gue enggak nyangka kalau seorang Zain Erico Perdana akan melepas lajangnya hari ini, eh ngomong-ngomong Xindy bakalan mara enggak ya kita diamin dari tadi pagi, jangan-jangan nanti dia gak bakalan mau lagi nikah sama Lo ,” ujar Jo


Zain sudah melihat pernikahannya Bintang kemarin, kalau dia menuruti keinginan Xindy pasti apa yang di alami oleh Bintang dan Yuki akan dialami juga oleh mereka.


Zain tidak mau Xindy kelelahan dan sakit hanya karena menjalani acara itu. Dia mau Xindy selalu Fres di saat acara sakral itu di lakukan.


“Benar juga apa yang Lo katakan, Lo hubungi Kinara dan suruh dia membawa Xindy pulang.”


“Berarti apa yang kita lakukan dari pagi sia-sia dong, kejutannya gagal ,” ucap Jo


“Biar saja semua gagal, Gue tidak mau kalau Xindy bukannya senang tapi malah marah sama Gue dan membatalkan pernikahan ini.” Ucap Zain


“Oke Gue akan hubungi Kinara Sekarang.” Ujar Jo lalu mengirim Chat kepada Kinara.


Di Rumahnya Kinara mendengar ada notif sebuah Chat yang masuk, dia segera melihatnya.


Ini mas Jo kenapa sih nyuruh Aku bawa Xindy sekarang, seharusnya kan dua jam lagi, kalau jam segini sih aku harus buat alasan apa biar Xindy mau ikut ke salon denganku, atau aku suruh saja mas Jo membawa baju dan MUA nya ke sini ya ,, batin Kinara.

__ADS_1


Kinara langsung membalaz Chat Jo dengan mengatakan apa yang ada dalam pikirannya itu.


“Sepertinya kali ini aku harus minta bantuan mbak Kanaya deh,” guman Kinara


“Xin, kamu istirahat saja dulu ya, aku mau keluar sebentar,” ujar Kinara.


“Lo mau kemana ?” tanya Xindy yang masih berbaring di atas Kasur di kamar Kinara.


“Biasa aku kalau jam segini suka lapar, aku mau beli sesuatu untuk kita makan, kamu mau pesan apa biar aku beli sekalian,” tanya Kinara


“Enggak usah deh Kinara, aku enggak lapar,” ucap Xindy.


Dia benar-benar enggak Nafsu makan sebelum Zain di temukan rasanya apapun terlihat seperti duri di matanya.


“Ya sudah kamu istirahat saja ya, aku pergi dulu ,” ujar Kinara lalu pergi dari sana.


Xindy mau memejamkan matanya akan tetapi tidak bisa, bayangan Zain masih menari-nari di pikirannya, dia kemudian kembali menelpon Zain tapi masih saja tidak di angkat olehnya.


“Sayang, kamu di mana sih, kenapa kamu tidak mengangkat telpon aku...aku enggak tahu harus ngapain lagi, aku sangat khawatir sama keadaan kamu,” ucap Xindy lirih


Xindy kaget karena mendengar suara ramai-ramai di luar


“Ada apa ya, kok sepertinya ramai sekali di luar,”  Karena Xindy penasaran dia bangkit dari tidurnya dan mulai berjalan menuju le arah sumber suara.


“Mbak aku tidak mau jadi model busana kamu ini, aku kan berhijab sedangkan acara mbak Kanaya ini kan Temanya pengantin Tradisional tentunya harus pakai Konde kan, aku enggak bisa mbak ,” Kinara memulai aktingnya


“Kinara please kali ini tolong bantu Mbak, mbak tidak tahu lagi mau minta bantuan dari siapa lagi, Kepala mbak sudah sangat pusing mikirin Acara ini, kalau bukan Model Mbak sakit mbak tidak akan sepusing ini Kinara,”


Xindy mendengar pembicaraan Kinara dengan Saudara kembarnya itu, dia juga melihat kalau fi sana bukan hanya ada mereka berdua tapi ada beberapa orang yang tidak di kenalnya.


“Kinara..!!” panggil Xindy


Semua mata memandang ke arah Xindy, dalah satu dari mereka tiba-tiba menghampiri Xindy lalu mengitarinya .


“Perfect...” ucapnya yang membuat kening Xindy mengerut. Kanaya tersenyum dan juga menghampiri Xindy.

__ADS_1


__ADS_2