
"Siapa ya ?" tanya Inge
"Aku Bisma, masak kamu lupa," ujar Bisma
"Bisma ? Bisma mana ya ?
"Kamu ini ya..masak kamu lupa sama sahabat kamu waktu kuliah dulu,"
"Oooo Bisma...maaf, maklum saja sudah tua he..he..apa kabar kamu, sepertinya kamu sekarang sudah sukses ya," ujar Inge
"Yaach seperti itu lah Nge, Oh ya gimana kabarnya Devan ?," wajah Inge berubah sedih
"Mas Devan sudah meninggal tiga tahun yang lalu," ujar Inge dengan nada sedihnya
"Maaf Nge, aku gak tau kalau Devan sudah meninggal,"
"Gak apa-apa Bisma, Lagian itu sudah tiga tahun yang lalu," ujar Inge
"Oh ya Bisma, Luna apa kabarnya ?" tanya inge
"Luna ?, Luna siapa ya ?
"Kamu bercanda aja, bukankah sewaktu kuliah kamu pacarannya sama Luna ya, apa kalian jadi menikah ?
"Ooo Luna, semenjak Lulus kuliah Aku gak pernah lagi bertemu dengannya, dia kembali ke Inggris dan kami juga memutuskan untuk berpisah,"
"Jadi kamu gak menikah dengannya, kalau begitu wanita mana yang beruntung bisa menikah dengan kamu Bisma ?
"Aku menikah dengan seorang gadis dari kota ini dan sekarang aku sudah menduda karena istri ku juga sudah meninggal," ujar Bisma
"Maaf juga ya Bisma, gara-gara aku menanyakan itu kamu jadi sedih lagi," ujar Inge
"Oh ya Nge, kamu ngapain di sini, kamu kan tinggal di Jakarta , apa kamu ada kerjaan di sini," tanya Bisma
"Gak kok Bisma, aku di sini mau bertemu sama putraku, kebetulan Putraku akan Ulang tahun yang ke 28," jelas Inge
"Oh kebetulan sekali kalau begitu, aku pasti menghadiri pestanya, itu pun kalau kamu undang,"
"Ha..ha..Kamu bisa saja Bisma, maaf sekali ya Putraku gak tau kalau aku di sini, aku berencana akan memberi kejutan padanya, jadi gak ada pesta-pestaan,"
"Ooo aku pikir kamu ada membuat pesta ultahnya. Oh ya Nge, ini kartu nama aku, kamu simpan ya," Ujar Bisma sambil menyerahkan kartu nama nya kepada Inge
"Waah Bisma, jadi kamu pemilik Hotel ini, Hebat kamu Bisma, aku salut loh sama kamu," ujar Inge
__ADS_1
"Kamu bisa aja Nge, Ini hanya usaha kecil-kecilan aku kok,"
"Kalau ini usaha kecil-kecilan jadi ada yang lebih besar lagi dong," ujar Inge
"Gak Kok Nge, kamu berlebihan deh, ya sudah kamu istirahat Gih, aku lihat kamu sangat kelelahan, pasti kamu baru sampai di sini kan," ujar Bisma
"Iya Bisma, aku memang capek banget nih, kalau begitu aku istirahat dulu ya," ujar Inge
"Iya Nge, kalau kamu butuh apa-apa langsung hubungi aku ya, nomor ku ada di Kartu nama," ujar Bisma.
Inge lalu masuk ke kamarnya sedangkan Bisma sangat senang bisa bertemu lagi sama Cinta pertamanya itu apa lagi Inge sekarang sudah berstatus Janda.
*
*
Pagi sudah datang, Embun pagi masih menetes di dedaunan membuat udara semakin segar sesegar bulir-bulir cinta yang mengalir di hati Zain sekarang. Dengan senyum merekah Zain melajukan motornya menjemput pujaan hatinya.
Hari ini adalah hari pertama mereka jadian, ketika melewati jalan yang biasa dia lewati Zain melihat ada sebuah toko Bunga yang sudah buka di pagi itu, dia menghentikan motornya dan singgah di sana untuk membeli sekuntum bunga mawar merah untuk Xindy.
Zain mencium Bunga itu sambil tersenyum.
"Semoga Xindy suka sama bunga ini," ucapnya lalu melanjutkan perjalanannya menuju ke rumah kekasihnya itu.
Zain berbelok ke Gang rumahnya Xindy dan berhenti tepat di depan rumahnya.
Tok..tok...
Assalamuàlaikum...
"Waàlaikum salam," ucap Xindy dari dalam.
Zain siap-siap bersimpuh dengan memegang bunga mawar di tangannya sambil menundukkan kepalanya
Ceklek...
Pintu terbuka Zain semakin deg-degan menanti Ekspresi Xindy saat melihatnya.
"Waah..bagus sekali bunganya makasih ya nak Rico," ucap Damar yang membuat Rico kaget di buatnya.
"Loh kok ayah sih, Xindy mana ?
"Xindy lagi siap-siap dan dia menyuruh ayah untuk buka pintu, eh ternyata ayah yang beruntung dapat bunga dari kamu," ujar Damar
__ADS_1
"Ini bukan buat ayah, ini buat Xindy yah, balikin sini yah," ujar Zain
"Gak mau, ayah sudah lama gak dapat bunga dari orang," ujar Damar lalu masuk ke rumah, Rico mengejarnya.
"Ayah..please balikin dong, nanti keburu Xindy keluar, nanti buat ayah aku beliin apa yang ayah mau deh, balikin dong yah," ujarnya memelas
"Beneran ?
"Iya..ayah bilang saja apa yang ayah mau ," ujar Rico
"Ayah hanya Ingin satu hal saja, tolong kamu jaga Xindy kalau Ayah Pergi nanti,"
"Ayah jangan Ngomong seperti itu, Ayah kan sudah sembuh, ayah pasti bisa melihat Xindy menikah dan punya anak-anak yang lucu-lucu nantinya," ujar Rico
Hufff...
Damar menghembuskan nafasnya kasar, dia kemudian duduk di kursi tamu yang ada di sana.
"Duduk sini nak Rico, ayah ingin mengatakan sesuatu sama kamu," suruh Damar, Rico pun segera duduk di samping Damar.
"Rico..sebenarnya ada satu hal yang Xindy tidak tau tentang penyakit ayah, Dokter bilang kalau umur ayah sudah tidak lama lagi, sebenarnya penyakit Kanker di hati ayah sudah stadium akhir, dan waktu itu atas permintaan ayah mereka merahasiakannya pada Xindy dan soal Operasi itu Dokter hanya mengangkat benjolan yang ada di otak saja, tapi kangker hati ayah masih ada dan tidak bisa di sembuhkan lagi." ujar Damar.
"Ayah aku berjanji kalau aku akan selalu menjaga Xindy sampai nafas ini terhenti, aku sangat mencintai Xindy ayah, Ayah pasti bisa melewati semua ini, kalau Ayah tidak keberatan, aku ingin membawa Ayah berobat ke luar Negeri agar ayah bisa sembuh Total ," ujar Rico
"Ha..ha..kamu bercanda aja Nak Rico, mana mungkin kamu bisa membawa ayah berobat ke luar negeri sedangkan kamu hanya tukang Ojek Online, kamu ada -ada saja nak Rico,"
"Aku serius Yah, aku bisa membiayai semuanya kok,"
"Kamu jangan bercanda Rico, ayah hanya ingin di sisa hidup ayah yang hanya sebentar ini, ayah bisa bersama dengan Xindy dan melihatnya selalu tersenyum bahagia," ujar Damar.
"Tapi Yah..
Ceklek...
Pintu kamar Xindy terbuka, Xindy keluar dengan memakai seragam sekolahnya.
"Hai yuk kita berangkat," ajak Xindy
"Aku gak di tawari sarapan nih ?" tanya Rico
"Aku gak masak hari ini dan ayah pun sudah sarapan bubur tadi, ya kan yah ?" tanya Xindy
"Iya..Tadi ada tukang bubur lewat, ayah mau beliin buat kalian tapi Xindy melarangnya katanya dia nanti sarapannya sama kamu di jalan saja," ujar Damar
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...