
Tok..tok..
Suara orang mengetuk pintu ruangan rawat Ayahnya Xindy.
Xindy berjalan menuju ke arah pintu lalu membukanya, terlihat Rico berada di depan pintu dengan menenteng kantong kresek di tangannya.
"Loh kok Lo ke sini sih ?," Tanya Xindy
"Iya..gue mau jenguk Ayah Lo, keadaannya gimana sekarang," Tangis Xindy pun pecah dan segera memeluk Rico.
"Ayah mengidap tumor Ric, kata Dokter dia harus di Operasi, aku gak punya uang untuk biayanya hu..hu..,"
Rico membiarkan saja Xindy meluapkan kesedihannya di pelukannya, perlahan Tangan Rico membelai rambut Panjang Xindy.Xindy lalu melepaskan pelukannya.
"Maaf Rico, gue sudah membuat baju lo," ucap Xindy
"Gue gak apa-apa kok Xin, kapan pun lo.butuh sandaran, pundakku akan selalu ada untuk mu," ujar Rico lalu membawa Xindy duduk di Kursi yang ada di sana.
"Terima kasih Rico, sudah datang menjenguk Ayah," ucap Xindy
"Jangan sungkan, Gue hanya menjenguk saja lagian gue ke sini bawain makanan buat lo, Gue tau lo pasti belum makan kan," ujar Rico
"Gue gak nafsu makan Ric, gue gak bisa makan kalau keadaan ayah masih seperti ini," ujar Xindy
"Lo yang sabar ya Xin, gue akan selalu menemani lo di sini, Lo jangan khawatir nanti gue akan coba membantu," ujar Rico
"Gak usah Rico, gue gak mau merepotkan orang lain, lagian biaya Operasinya tidak sedikit, mungkin gue akan menjual rumah, itu pun gak akan cukup juga buat biayanya." ujar Xindy
"Kalau begitu Gue akan mencari pembelinya, kebetulan gue punya Teman yang lagi mencari rumah untuk di beli," ujar Rico, Rico tau kalau Dia memberikan bantuan percuma buat Xindy, dia gak bakalan mau, ini cara satu-satunya agar Xindy mau menerima bantuannya.
"Benarkah, Kalau begitu gue mau bertemu dengannya, kapan kita bisa menemuinya ?" ujar Xindy bersemangat.
"Sabar dulu, Ini sudah malam, lebih baik lo makan dulu biar lo gak lemas, gimana bisa lo mau menjaga dan merawat ayah lo kalau lo juga jatuh sakit nanti," ujar Rico, Xindy tersenyum lalu dia pun mengambil makanan yang di bawa oleh Rico.
"Loh kok dua bubgkus, yang satunya buat siapa ?
"Ya buat gue lah, gue kan belum makan juga, " ujar Rico
"Ini buat Lo," Xindy menyerahkan satu bungkus nasi itu buat Rico.
"Bukain Dong, " ucao Rico manja
__ADS_1
"Manja amat sih kamu,"
"Cie..yang udah aku kamu, bentar lagi jatuh cinta nih," Goda Rico
"Apaan sih, lebay deh," ujar Xindy memalingkan wajahnya menyembunyikan rona merah di pipinya.
"Cie...wajahnya merona tuh, malu nih ye," Goda Rico lagi
"Mana ada, jangan ngada-ngada deh," ucap Xindy masih saja menyembunyikan wajahnya.
"Tuh kan...kalau gak coba aku lihat," ujar Rico, Xindy makin merunduk
"Tu kan gak berani natap aku," Goda Rico lagi
Xindy beranjak dari duduknya lalu berjalan menuju Brankar ayahnya tanpa menoleh ke arah Rico sedikit pun
Rico tertawa melihat Xindy malu-malu seperti itu, dia yakin kalau Xindy sudah mulai ada rasa untuknya.
Rico menyuapkan makanan itu ke mulutnya sambil sesekali melirik ke arah Xindy, Xindy masih saja belum menoleh.
Malam sudah larut, Rico masih tetap berada di sana menemani Xindy.
"Ric..lo pulang saja, besok lo harus sekolah," suruh Xindy.
"Apaan sih, canda aja dari tadi, udah kamu pulang aja sana," ucap Xindy
"Nah gitu dong, aku kamu lagi,Aku gak mau pulang deh, biar besok pagi-pagi saja aku pulang nya, lagian aku gak tega ninggalin kamu sendiri Di sini," Ujar Rico
"Ya sudah kalau itu mau kamu, aku gak bisa maksa," ujar Xindy lalu merebahkan kepalanya di Brankar Ayahnya.
Tak lama Xindy pun tertidur dengan posisi duduk sambil merebahkan kepalanya di Brankar.
Rico bangun dari duduknya lalu mengendong Xindy dan membaringkannya di Sofa.Dia menatap wajah cantik Xindy, perlahan dia mendekati wajahnya ke wajah Xindy dan
Cup...
sebuah kecupan mendarat di kening Xindy, Xindy terlihat mengeliat, Rico segera berpindah tempat, sekarang posisinya jadi terbalik, Xindy yang tidur di sofa sedangkan Rico duduk di samping brankar.
"Gue harus segera meghubungi Paman Joko, dan menyuruhnya ke sini untuk membeli Rumahnya Xindy," gumannya lalu beranjak dari duduknya lalu keluar dari ruangan itu.
Rico mengambil ponselnya lalu mencari nomor kontaknya Om Joko. Panggilan pertama tidak di angkat, panggilan ke dua di abaikan dan pada panggilan ketiga baru di angkat, Rico langsung nyerocos kayak emak-emak kehilangan penggorengannya.
__ADS_1
"Om Joko, kenapa telponku gak dianggkat-angkat sih, besok Om joko harus datang ke alamat yang sudah aku kirim tadi, jangan lupa bawa uang cash 100 juta ya," suruh Zain
"Buat apa sebanyak itu Zain, apa terjadi sesuatu dengan mu di sana ?" tanya Joko panik
"Gak usah panik Om, aku gak kenapa-kenapa kok, aku hanya Ingin membantu seseorang saja," ujar Zain
"Kenapa harus Om yang datang ke sana sih Zain, kenapa bukan kamu saja yang ngasihnya,"
"Itu dia masalahnya Om, Aku sekarang lagi menyamar sebagai tukang Ojek, bisa kaget dia nanti kalau tau aku punya uang sebanyak itu," ujar Zain.
"Kamu ini ya ada-ada saja, Ngapain kamu pakai menyamar segala sih Zain ?"
"Rahasia Om, udah dulu ya om, jangan lupa datang ke Alamat itu besok, tut...tut..." Zain memutuskan sambungan telponnya.
"Satu masalah sudah kelar," ucap Zain
"Masalah apa ?," sebuah suara mengagetkannya ,siapa lagi kalau bukan Xindy.
"Ini orang yang mau beli Rumah kamu katanya besok dia mau lihat rumahnya dulu," ujar Rico alias Zain.
"Serius lo, makasih ya Rico," karena terlalu senang Xindy memeluk Rico.
Rico mendadak mematung karena Tubuh Xindy menempel sempurna di tubuhnya.
Sesuatu yang berada di bawah sudah meronta-ronta, Keringat dingin mengucur di kening Rico.
"Xindy jangan seperti ini aku tidak tahan," ujar Rico yang membuat Xindy melepaskan pelukannya.
"Ups Sorry, gue terlalu senang, lo gak tahan kenapa sih, apa gue terlalu kencang meluknya sehingga Lo gak bisa nafas," tanya Xindy polos.
"Adik gue yang gak bisa nafas," guman Rico
"Lo ngomong sesuatu ?" tanya Xindy
"Enggak..enggak kok, gue gak ngomong apa-apa," ngeles Rico
"Ooo gue pikir lo ada ngomong tadi, mungkin suara angin kali ya," ujar Xindy
"BTW makasih ya Rico, ternyata lo itu baik juga, gue akan menjadikan lo sebagai salah satu sahabat gue," ujar Xindy
What...dia mau jadiin gue salah satu dari sahabatnya, gue mau jadi pacar lo Xindy, malahan gue mau lo jadi Istri gue nanti,, Batin Xindy
__ADS_1
"Udah yuk kita masuk," ajak Xindy sambil mengandeng tangan Rico, Rico bahagia walaupun hanya di anggap sahabat oleh Xindy tapi itu adalah awal yang baik untuk hubungan mereka kedepannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...