
"IDiiih so sweet banget sih kalian, coba aja om ganteng seperti kak Edo, pasti gue seneng banget.." ucap Mika
nyeeeesss...
Hati Andi bagai di sayat silet, sakit banget ketika mendengar ucapan Mika itu, Diam-diam Andi sudah menaruh hati pada Mika, namun dia tidak menyangka bakalan sesakit ini memendam perasaannya, dan ketika dia tau kalau orang yang dia suka malah menyukai orang lain.
"Eh gue baru nyadar kalau apa yang di bilang sama bik Ijah itu membuat gue binggung dari tadi," ujar Elang yang dari tadi berpikir apa yang salah dengan pemahamannya tentang obrolan Devan dengan bi Ijah.
"Lo ngomong apa sih Lang ?" tanya Edo
"Tadi lo perhatiin gak Bi ijah itu ngomong kalau Devan itu kakaknya Inge, maksudnya gimana sih, gue gak ngerti," ujar Elang
"Lo mana bisa ngerti otak lo dangkal sih," ucap Andi sambil tertawa, mereka pun ikut tertawa, Devan hanya duduk sambil memegang kepalanya.
"Gue serius oon, Van lo tau gak apa maksud Bi Ijah itu," tanya Elang ke Devan, Devan menoleh ke arahnya.
"Gue gak bisa pastiin apa yang sebenarnya terjadi, gue butuh penjelasan dari bokap nyokap gue," ujarnya lalu mengambil ponselnya untuk menghubungi Bondan.
"Bondan masih setia berada di samping Nita, keadaan Nita sudah mendingan ketika tau kalau Inge bukan di culik dan Devan sedang menjemputnya.
Suara ponsel mengagetkan mereka. Bondan langsung mengangkatnya ketika melihat telpon itu dari Devan.
"Assalamualaikum Pa !
"Waàlaikumsalam Van, ada apa ? apa Inge sudah ketemu ?"
"Sudah pa, tapi Devan mau minta tolong sama papa dan mama boleh gak ?
"Emangnya kenapa Van, apa ada masalah ?"
"Iya pa , ada sedikit masalah, Papa dan mama bisa datang kemari gak ?, nanti alamatnya Devan Share, dan jangan lupa bawa supir ya pa karena perjalanan kalian akan jauh," ujar Devan
"Emang tempatnya di mana sih Van ?
__ADS_1
"Di Bandung Pa, Devan tunggu papa dan mama di sini ya," ujar Devan lalu mematikan sambungan telponnya.
"Apa maksud semua ini ya, gue gak bisa percaya kalau Devan sama Inge itu adek kakak berarti gak bisa nikah dong," ujar Mika baru ngeh akan hal itu.
"Iya ya..kasian Devan sama Inge nya karena hubungan darah mereka tidak bisa bersatu," ujar Nia
"Kalau memang benar Inge itu Annisa, gue harus apa ?" ujar Devan Masih belum percaya akan semua ini
"Gue harus tanyakan sama mama dan papa, gue harus pastiin Inge itu benar-benar Annisa atau bukan," ujar Devan.
"Tapi gimana caranya Van ?" tanya Andi
"Apapun caranya akan gue lakuin, bila perlu gue akan tes DNA mereka," ujar Devan
"Tapi kalau Inge itu beneran adek lo gimana ?" tanya Edo
"Gak mungkin..Inge itu gak mungkin adek gue, gue gak terima kalau sampai itu beneran terjadi, gue sangat mencintai dia , gue gak akan ngelepasnya begitu saja," ucap Devan
"Diam...! " bentak Devan, suasana menjadi mencekam seketika saat kemarahan Devan itu mengagetkan mereka semua, Dari tadi Devan memikirkan apa yang di katakan oleh Bik Ijah itu.
Saat di rumah Bi Ijah dia bersikap tenang karena dia harus menyelidiki dulu semuanya baru dia bisa ambil kesimpulan. Tapi makin ke sini dadanya makin sesak mengingat kalau itu semua beneran adanya, dia tidak rela melepaskan Inge walaupun Inge itu ternyata beneran Annisa sekalipun dia akan tetap bersamanya.
Devan masuk ke sebuah kamar lalu menutup pintunya kasar, semua kaget melihat perubahan drastis dari Devan, padahal tadi di rumah bi Ijah dia kelihatan sangat tenang ketika bi Ijah mengatakan itu padanya.
"Gimana ini, kok jadi seperti ini sih ?" ujar Mika
"Lo kan sahabatan dengan Inge sudah lama nih, dan juga berasal dari kota yang sama, pasti lo tau sesuatu tentang ini kan," ujar Elang.
"Iya sih gue sedikit tau tentang itu, dulu sebelum Inge ke Jakarta dia pernah cerita ke gue kalau selain melanjutkan kuliahnya ke sana dia mau mencari orang tua kandungnya, karena menurut Almarhum orang tuanya di sini kalau dia bukan anak kandung mereka melainkan Inge itu di temukan di kebun Teh milik mereka," cerita Mika.
"Oooo jadi gitu ceritanya, gue gak bisa bayangin kalau benar Inge itu anaknya Om Bondan dan Tante Nita, pasti Devan akan hancur banget, karena secara otomatis Inge itu adalah adeknya sendiri," ujar Edo
"Iya ya..aku juga gak bisa bayanginnya gimana kisah cinta mereka itu," ujar Nia.
__ADS_1
"Yang jelasnya kita berdua tidak akan seperti itu kan Nia," ujar Edo ke Nia, Nia menganggukkan kepalanya.
"Imut banget sih, jadi pengen peluk kan," ucap Edo
"Eeeh..kalian ini malah romantis-romantisan, sementara Sahabat kita lagi dalam masalah besar kalian masih saja bisa seperti itu." kesal Elang
"Bilang aja lo cemburu," ejek Edo
"Sudah..sudah ..kenapa jadi berantem sih, sekarang kita semua istirahat dan berdoa agar apa yang kita fikirkan tidak seperti kenyataannya," ucap Mika
Mereka pun akhirnya memilih kamar masing-masing, Mika sekamar dengan Nia sedangkan trio sengklek mereka sekamar bertiga.
Devan menjambak-jambak rambutnya ,kepalanya serasa mau pecah memikirkan semua ini, Ingin rasanya dia segera memeluk Inge sekarang dan melepaskan Semua rasa yang ada di hatinya, tapi dia tidak sanggup kalau nanti menolaknya, memikirkannya saja sudah membuat dia seperti itu apalagi kalau benar Inge melakukan itu padanya.
Air mata terus menetes di pipinya, ini adalah pukulan terbesar yang menghantamnya dengan kenyataan yang sangat tidak bisa di terima olehnya ini.
"Gue harus cari cara agar Inge tidak meninggalkan gue hanya karena kita itu adek kakak, tapi gue yakin Inge itu bukan Annisa. kalau dia memang Annisa gimana ? Aaaaaaa, gue gak bisa terima kenyataan ini, gue gak terimaaaa..." teriaknya, sahabat-sahabatnya juga mendengar teriakan Devan yang sangat menggema di seluruh rumah itu, namun mereka tidak berani menghampirinya kekamar itu, mereka sangat kenal sama Devan yang tidak mau di ganngu kalau lagi seperti itu, bisa-bisa mereka semua yang jena imbasnya.
Beberapa saat kemudian suara Devan tidak terdengar lagi, mereka semua berfikir kalau Devan sudah tertidur dan mereka juga tidak mau menganggunya. Akhirnya mereka juga beristirahat karena kelelahan setelah menempuh perjalanan panjang itu.
"Devaan...." teriak histeris Nita yang mengejutkan semuanya, mereka berhambur menghampiri sumber suara.
Nita segera memangku kepala Devan yang bersimbah darah, mereka semua panik melihat keadaan Devan yang seperti itu.
Elang dan Andi langsung mengangkat Devan dan membawanya ke mobil, mereka langsung melarikannya ke rumah sakit terdekat. Sedangkan yang lainnya mengikuti mereka dengan mengunakan mobil yang lainnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Apa yang terjadi dengan Devan ya ?
Di tunggu kelanjutannya ya...
Like dan coment yang banyak kalau gak miss N gak Up lagi nih ...Bercanda..😁😁😁
__ADS_1