Gadis Somplak Penakluk Hati CEO

Gadis Somplak Penakluk Hati CEO
DICKO 97


__ADS_3

"Oh ya Tante Kenalin Ini gadis yang membuat aku bucin parah juga sama kayak papa, dan yang satunya adalah temannya ," ujar Zain


"Oh ya..waah anak sama bapak ternyata gak beda jauh ya, sama-sama Bucin sama satu wanita ha..ha..,"


"Kenalkan Tante saya Xindy dan ini teman saya Liora," ujar Xindy Ramah sambil menyodorkan tangannya ke arah Xindy


Susan Kaget mendengar nama yang sangat Familiar dengannya, Ketika Susan memegang tangan Xindy ada perasaan yang tidak bisa di jelaskan dengan kata-kata oleh nya, perasaan itu mengalir begitu saja di dalam hatinya.


"Saya Sarah...," ucap Susan lalu segera melepaskan tangan Xindy.


Perasaan apa ini, kenapa aku sepertinya sangat dekat dengan gadis ini, siapa gadis ini sebenarnya ,, batin Susan.


"Oh Ya, Xindy kamu berasal dari mana ?


"Aku dari Surabaya Tante, dan aku juga bertemu dengan Zain di sana juga," ujar Xindy


Susan hampir saja terjatuh dari duduknya, Seketika air matanya mengalir di pipinya.


"Kenapa Tante menangis ?" ucap Xindy


"Eh maaf, Tante hanya teringat sama Putri Tante, kalau dia masih ada mungkin dia sudah sebesar kamu ," ujar Susan


"Maaf Tante, alu jadi mengingatkan Tante sama anak Tante, Tante boleh kok menganggap aku sebagai anak Tante ," ujar Xindy


"Makasih ya sayang, Tante senang sekali bisa bertemu sama kamu, Oh ya kamu sekarang tinggal Dimana ?" tanya Susan


"Aku tinggal di Mansion Mama Inge,Mamanya mas Zain Tante," ujar Xindy


"Zain tante boleh kan main-main ke Mansion kamu?" tanya Susan


"Boleh banget Tante, Mama pasti senang kalau Tante sering-sering main ke sana," ujar Zain


"Oh Baiklah kalau begitu, Tante tinggal dulu ya soalnya masih babyak kerjaan yang belum selesai ,Xindy...sampai jumpa lagi ya nak ," ucap Susan lalu memeluk Xindy.


Xindy merasakan kenyamanan ketika Susan memeluknya, seperti kehangatan yang dia dapatkan dari Ibunya dulu.

__ADS_1


Air mata kembali keluar dari mata Susan dan dia segera menghapusnya agar semua mnya tidak melihatnya.


Setelah kepergian Susan , mereka pun makan makanan yang sudah di sajikan di atas Meja dengan lahapnya karena memang mereka sudah sangat Lapar.


Dari balik Tirai ruangannya Susan melihat Xindy yang sedang makan dan sesekali bercanda dengan Zain.


"Sayang..Maafin Mama yang sudah meninggalkan kamu demi pekerjaan Mama, Mama menyesal sudah meninggalkan kalian, Mas Damar bagaimana kabar mu sekarang mas ?" ucap Susan sambil melihat Foto di dalam Bingkai kaca yang ada di atas meja kerjanya.


*


*


Yuki sangat bahagia karena sebentar Lagi dia akan menikah dengan Bintang, tapi Bintang tidsk terlihat begitu, dia masih ragu akan perasaannya terhadap Yuki.


"Mas Bintang kenapa wajah kamu gelisah gitu ?" tanya Yuki


"Eh enggak kok, aku gak kenapa-kenapa kok sayang ," ujar Bintang


"Ooo Kirain, Oh ya Mas, Besok Mama menyuruh kita Fitting baju di butik Langganan dia, Baju pengantun Kita sudah siap loh Mas, Mama memang Is the Best deh pokoknya," ujar Yuki


"Mas..mas Bintang Kenapa benggong sih, kamu dengar kan apa yang aku ngomong tadi ?" tanya Yuki


"Eh Iya sayang, Sayang sebelum kita menikah apa boleh aku pulang ke kampung halaman ku sebentar, aku ingin menemui sahabat-sahabatku di sana dan mengenalkan kamu kepada mereka ," ujar Bintang


"Waah...sepertinya ide bagus tuh," jawab Yuki


"Tapi...aku juga mau mengajak Xindy dan Rico juga sekalian Reuni gitu ," ujar Bintang Lagi


"Rico...Siapa itu Rico sayang ?" tanya Yuki


"Rico itu pacarnya Xindy," jawab Bintang


"Ooo Oke kalau begitu gimana kalau Week End ini saja kita ke sana ?


"Boleh Nanti aku akan bilang sama Xindy dan Rico dulu," ujar Bintang.

__ADS_1


Sementara Xindy dan Zain sudah sampai di Mansionnya, setelah kejadian di Kampus tadi Zain tidak mengijinkan Xindy untuk pergi kr kampus untuk sementara waktu karena takut Arman akan berbuat Nekad pada Xindy, Bukannya meremehkan keahkian Karate Xindy tapi Zain hanya tidak Ingin kekasihnya itu menjadi target kejahatannya Arman.


Setelah Mengantarkan Liora kembali ke kampus Zain membawa Pulang Xindy ke Mansionnya.


"Eh sayang...Jam segini kok sudah pulang aja anak-anak Mama ini, ada apa nih ?" tanya Inge


"Gak ada apa-apa kok Ma, Kita hanya kangen sama Mama aja ," ujar Zain


"Zain..kamu gak bakalan Bisa Bohong sama Mama sayang, kalian Pasti ada masalah kan ," ujar Inge


"Sebenarnya Iya sih Ma, tapi Mama tenang saja semuanya Sudah Zain Atasi kok ," jawab Zain.


"Oh Baiklah kalau begitu, karena kalian sudah di Rumah gimana kalau kita pergi Ke Makam Papa kamu, Mama kangennih sama Papa kamu Zain ," ajak Inge


"Boleh tuh Ma, Kan Kita belum ngenalin Xindy sama Papa ya, Kalau begitu kita siap-siap dulu ya Ma, Mama Juga Dandan yang cantik, Masak Mau ketemu Papa dandanannya biasa Aja ," Canda Zain.


"Papa kamu itu mau Mama Dandan atau Enggak pasti suka kok, Malah semasa dia masih ada maunya selalu nempel sama Mama," ujar Inge


"Sama Dong Ma, kayak aku yang selalu mau nempel sama Xindy, tapi sayang Ma Kita belom Nikah kalau sudah Nikah pasti maunya fi kamar terus ," Xindy wajahnya memetah ketika mendengar Zain berucap seperti Itu.


"Zain jaga omongan kamu, kamu sudah membuat Wajah calon mantu Mama merona tuh ," ujar Inge, Zain tertawa senang melihat Xindy malu-malu di depan dia dan Mama nya.


"Ya sudah kalian siap-siap sana, Mama Juga mau siap-siap dulu." suruh Inge


Mereka pun masuk ke kamar masing-masing untuk mandi dan menganti pakaian mereka.


Di sebuah Pemakaman Umum yang pastinya di Makamnya Devan Inge duduk bersimpuh di samping batu Nisan Suaminya itu.


"Assalamuàlaikum sayang, Aku datang lagi nih. Aku kangen banget sama kamu tau gak," Ingr mulai mrmbuka percakapan seperti biasa ketika dia berZiarah ke makam suaminya itu.


"Kamu tahu enggak sayang, siapa yang datang bersama aku, Iya Dia Putra kita tapi ada satu Orang lagi di sampinnya," ucap Inge seolah-olah dia berbicara dengan Suaminya.


"Sini sayang," Inge memanggil Xindy agar mendekat ke sana. Xindy pun segera betjalan menuju ke tempat inge dan duduk di sampingnya.


"Sayang..Putra kita akhirnya waras juga, Dia sudah mendapatkan wanita yang sangat dia Cintai, Cantik kan dia, sama seperti aku sewaktu Muda dulu kan," Inge kembali mengelus Batu Nisan Itu.

__ADS_1


__ADS_2