
"Bokap lo sakit ?, di rawat di mana, kita mau jenguk juga," ujar Rangga
"Di rumah sakit X kamar 128 B,"
"Oke Xin, kita sepulang sekolah nanti akan ke sana," ujar Rangga lalu memutuskan sambungan telponnya.
"Tu kan apa gue bilang, Xindy itu gak seperti cewek gampangan di luar sana yang rela menyerahkan diri sama seorang pria, kita sentuh dia saja bisa kena gampar apalagi di tidurin sama cowok, bisa kalian pikir sendiri gimana nasip cowok itu," ujar Rangga
"Lu ada benarnya juga Ga, lu sih Tang bukannya cari dulu kebenarannya malah main tinju saja sama dinding, jadi gini kan akibatnya," ujar Juki
"Gue kan gak tau kalau bokap Xindy sakit, lagian gue udah kebawa emosi duluan saat Gatot bilang kalau Xindy tidur bareng sama Rico," ujar Bintang meringis kesakitan.
"Eh gue gak bilang gitu ya, gue hanya bilang kalau Yang angkat telponnya si Rico," ucap Gatot membela diri.
"Udah jangan berdebat terus, gak ada yang salah di antara kalian, yang salah cuma si Faham ," ujar Kamal
"Siapa tu si Faham," tanya Andi
"Salah Faham oon,"
"Oh ya..Nanti saat jenguk Bokapnya Xindy kita patungan saja ya, gak usah bawa-bawa parcel segala, kita semua tau kalau yang Xindy butuhkan sekarang adalah uang," ujar Rangga
"Iya gue setuju sama ide lu Ga, gue ada 2 juta nih," ucap Juki menyerahkannya kepada Rangga
"Sama gue ada 1,5 juta," ujar Andi
"Gue ada 2,5 juta nih," ujar Bintang
"Gue cuma ada seratus ribu gak apa-apa kan," ucap Kamal
"Gak apa-apa yang penting Nyumbang," ujar Rangga yang tau keadaan keuangan Kamal
"Lo gimana Tot ?" tanya Rangga
"Dia nyumbang doà saja ," ujar Juki
"Diam Lu Onta, gue kan juga mau nyumbang," ujar Gatot
"Emang lu mau nyumbang berapaan Tot sepuluh ribu ?" ujar Juki
"Enak aja lo ngomong, gue nyumbang lima ribu tau," ujar Gatot
"Bhuaa..ha..ha..
Tawa mereka semua pecah, Gatot hanya cengengesan saja.
"Gue pikir lu mau nyumbang lebih banyak, ternyata malah setengahnya, dasar Jamblang," ujar Juki
__ADS_1
"He..he..kalian kan tau kalau..
"Iya..kita-kita tau, mending uangnya lo simpan saja buat beli es Tong-tong," ujar Andi memotong ucapan Gatot.
"Oke uang sudah terkumpul enam juta seratus entar gue tambahin sisanya agar genap sepuluh juta," ujar Rangga
"Wiiih..emang ya Ga lo terkenal Dermawan, sudah kaya lo murah hati lagi, kalau gue jadi cewek nih ya, gue juga mau jadi pacar lo," ucap Gatot
"Tapi guenya yang gak mau," ujar Rangga mengidikkan bahunya ngeri.
"Udah yuk kita sudah terlalu lama di luar, entar guru pada marah," ajak Kamal
Mereka pun akhirnay masuk ke kelas masing-masing.
*
*
Di Rumah Sakit Rico sedang menatap wajah Xindy yang sedang melantunkan ayat suci Al-Quràn.
Rico semakin terpesona dengan Xindy, Dia tidak menyangka dengan sikap Xindy yang cuek dan Jutek ternyata dia juga sholeha.
"Hey..kenapa lo mandangin gue seperti itu, lo terpesona ya sama gue ?" ujar Xindy
"Kok kamu Tau, aku bukan terpesona tapi Jatuh Cinta," ujar Rico blak-blakan.
"Apaan sih lo, Gombal aja deh," ujar Nindy merona
"Bercanda lo gak lucu tau, Udah ah, gue keluar dulu lo jagain bokap gue bentar ya," ujar Xindy lalu keluar dari ruangan, Rico tertawa melihat Xindy salah tingkah seperti itu.
Rico mengambil ponselnya lalu menghubungi Om Joko.
"Hallo Om Joko, Apa Om sudah sampai ?"
"Belum Zain, ini masih dalam perjalanan, setengah jam lagi sudah sampai kok," ujar Joko
"Oke Om, nanti kalau Om sudah sampai hubungi aku ya," ujar Zain
"Iya..tut..tut.." sambungan telpon pun terputus.
"Gue ngapain ya, Gue ngaji aja deh," Rico mengambil Al-quràn lalu melantunkan surah Yasin.
Xindy yang mau masuk ke Ruangan itu terhenti langkahnya ketika mendengar suara merdu yang berasal dari dalam ruangan itu.
Perlahan Xindy membuka pintu ruangan itu dan masuk dan bersandar di dinding dekat pintu.
Tampan sekali, shaleh lagi, memang calon suami idaman,, Ah mikir apa sih gue," Batin Xindy
__ADS_1
Xindy berjalan ke arah Sofa, dia masih memperhatikan Rico, Aliran sejuk mengalir di dalam Hatinya ketika mendengar suara merdu Rico yqng sedang mengaji.
"Terpesona ya, sampai segitunya mandangin gue, kayak mau nerkam aja," suara Rico mengagetkan Xindy.
"Apaan sih, siapa yang mandangin lo," ngeles Xindy
"Siapa ya..? Hati-hati mandangin gue begitu, ntar jatuh cinta loh, dari pandangn turun ke hati," ujar Rico
Xindy pura-pura tidak mendengarnya.
"Oh ya Ric, kapan kita bisa bertemu sama orang yang mau membeli Rumah Gue," tanya Xindy, Rico melihat Jam tangannya.
"Harusnya sih sekarang, tunggu bentar ya gue telpon orangnya dulu," ujar Rico lalu mengambil ponselnya. Tapi sebelum Rico menelponnya ponselnya sudah bunyi duluan.
"Nah ni orangnya , panjang umur dia," ucap Rico lalu mengangkatnya.
"Iya...kamu sudah di Lokasi, oke saya kesitu sekarang," Rico memutuskan telponnya.
"Xin, orangnya sudah di Rumah Lo,ayo kita ke sana," ajak Rico
"Terus yang jaga Ayah siapa ?
"Itu Gampang, tadi gue sempat menyuruh Suster unyuk menjaganya," jawab Rico
"Oke kalau begitu, ayo kita berangkat ," ajak Xindy
Mereka berdua sudah berada di Motor dan seperti biasa Xindy hanya memegang ujung bajunya Rico.
Tidak lama kemudian Mereka sampai juga di Rumahnya Xindy. Dari kejauhan Terlihat ada seorang Pria yang memakai Jas duduk di depan rumah Xindy.
Aduh mati gue, gue lupa bilang sama Om Joko agar memakai baju santai saja kesininya ,Gue harus cari alasan nih agar Xindy tidak Curiga,, Batin Rico
"Itu teman Lo ?, kok lebih mirip Om-Om sih," tanya Xindy
"Sebenarnya sih itu ayahnya teman gue,"
"Oooo ayo kalau begitu," ajak Xindy
"Hai Om Joko, Kok Revan gak ikut sih ?" tanya Rico Joko mengerutkan keningnya. Rico mengode agar Joko mengikuti sandiwaranya.
"Iya kan revan lagi sekolah, jadi gak bisa ikut," ucap Om Joko yanh mengerti dengan kode yang di berikan oleh Rico.
"Oh ya Om, gimana Rumahnya ?" tanya Rico
"Rumah ? kan om ke sini mengantarkan uang ini,"Ujar Joko, Xindy memandang ke arah Rico
"Om ini bisa aja bercandanya,Om mau beli rumah ini kan, lucu banget sih Om ini," ucap Rico menekankan kata-katanya agar Joko kembali mengikuti sandiwaranya.
__ADS_1
"Ha..ha..ha..maafkan Om ya nak, Om sering lupa apa yang akan Om lakukan, untung kamu mengingatkan Om,"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...