
"Waah tampan amat tuh cowok, bahkan lebih tampan dari Mike si ketua Osis, kalau ini sih gue juga mau," ucap Franda berbinar
Rico semakin mendekat ke arah Franda, Franda semakin terpesona di buatnya.
"Hai...kamu anak baru ya kok gue gak pernah lihat lo sebelumnya." tanya Franda
Rico menjulurkan tangannya, Franda mengira Rico akan mengelus pipinya, dia sontak memejamkan matanya.
Awwww...
Franda meringis kesakitan saat tangan Rico mencengkeram rahangnya.
"Jangan sekali-kali lo menghina Xindy, asal lo tau Xindy tu seratus kali lipat lebih baik dari pada lo, kalau lo dan semua teman-teman lo masih menghina dia, lo akan berhadapan dengan gue," ujar Rico lalu melepaskan cengkeraman rahang Franda
Franda memegang lehernya yang sakit lalu pergi dari sana, teman-temannya pun mengikutinya dari belakang.
Rico kembali duduk di sana.
"Wiih keren gaya lo Ric, padahal gue tadi mau ngelakuin itu juga sama kakak senior yang cerewet itu," ujar Andi
"Gue gak suka kalau ada yang menjelek-jelekkan Xindy di depan gue," ujarnya masih dengan wajah marahnya.
Xindy memegang tangan Rico untuk menetralkan kemarahan Rico, perlahan wajah Rico berubah kembali seperti semula.
"Memang ya Xindy layaknya obat yang bisa menjadi penawar bagi siapa saja," ujar Juki
"Iya..Makanya kita-kita sangat senang dan bangga menjadi salah satu dari sahabatnya " ujar Gatot.
"Xindy..kenapa sih Kamu gak balas mereka ?" tanya Rico
"Buat apa ? Toh omongan mereka gak penting buat gue, kalau gue balas apa bedanya gue sama mereka, lagian gue udah kebal kok sama omongan mereka yang gak suka sama gue," ujar Xindy
Rico makin terpesona dengan Xindy, dia tidak menyangka pemikiran Xindy lebih dewasa dari umur nya.
"Udah lo jangan segitunya mandangin gue, nanti lo kesambet lagi," ujar Xindy
"Kalau kesambet cinta lo gue rela kok," ujar Rico tang membuat wajah Xindy merona.
"Cie..cie..Xindy bisa malu juga nih ye," ujar Gatot
"Apaan sih lo, udah yuk kita masuk kelas," ajak Xindy, Xindy beranjak dari duduknya lalu berjalan menuju ke Kelasnya. Rico dan Juragan kambing mengekor di belakangnya bagai para pengawal yang menjaga putrinya.
__ADS_1
"Tuh lihat si Xindy, dasar ganjen tuh anak, bisa-bisanya para-para cowok mengikutinya begitu, pasti pakai pelet tu anak," ujar salah satu gadis yang sedang berdiri bareng taman-temannya.
Semua sahabat-sahabat Xindy berhenti lalu menoleh ke arah mereka, mereka menundukkan kepalanya karena tatapan membunuh dari Rico dan Juragan kambingnya.
Akhirnya Xindy sampai juga di kelasnya, tapi dia binggung karena sahabat-sahabatnya tidak ada di belakangnya. Xindy kembali keluar dan melihat mereka masih berdiri di sana. Xindy lalu menyusul mereka.
"Ada apa ini, ayo kita masuk ke kelas," ujar Xindy, mereka akhirnya kembali mengikuti Xindy dan masuk ke ruangan kelas itu.
"Kalian kenapa sih tadi berhenti di sana," tanya Xindy
"Biasa Xin, mulut lemes mereka sekali-kali harus di kasih pelajaran," ujar Rangga
"Kan sudah gue bilang, kalian jangan meladeni mereka, biar saja mereka ngomongin gue, kalau begini caranya mereka pasti akan semakin benci sama gue," ujar Xindy, Juragan Kambing dan Rico terdiam.
"Sebenarnya mereka hanya iri sama gue karena bisa dekat dengan kalian, jadi biarkan mereka mengekspresikan kekesalan mereka itu, jangan pernah lagi kalian menanggapi mereka, kalian ngerti," ujar Xindy
"Iya.." ucap mereka semua nurut seperti kerbau di cocok hidungnya.
"Ya sudah, Rangga kalian masuk ke kelas kalian sana," suruh Xindy
"Xindy sayang, biarkan kami di sini sebentar lagi saja, toh bel masuk belum bunyi kan," ujar Andi
"Ayo Gaess kita pergi, jangan ganggu Xindy belajar," ajak Rangga, mereka pun pergi dengan wajah cemberutnya.
"Kalian juga duduk di tempat masing-masing, gue gak Fokus kalau kalian pada di sini," suruh Xindy lalu mulai membuka bukunya.
*
*
Hari sudah berganti hari, hari ini adalah hari di mana Xindy janji akan jalan sama Rico, Rico sudah siap dengan setelan bajunya, walaupun dia memakai baju yang sederhana tapi tidak mengurangi sedikitpun ketampanannya itu.
Sedangkan di rumahnya Xindy memilih-milih bajunya yang akan di pakainya, sudah setengah lemari di keluarkan nya, akan tetapi dia belum menemukan baju yang tepat untuk di pakainya.
"Putri ayah ngapain sih, kok kamarnya berantakan gini," tanya Damar, Damar tidak sengaja melihat putrinya itu kebingungan di kamarnya karena pintu kamar itu tidak di tutup.
"Ini yah, aku mau jalan-jalan sama Rico, tapi aku binggung mau pakai baju apa," ujar Xindy
"Ternyata putri ayah lagi jatuh cinta rupanya," goda Damar
"iiih Ayah, siapa yang jatuh cinta sih, aku cuma binggung mau pakai baju apa nanti," ujar Xindy
__ADS_1
"Biasanya kamu gak pernah sebingung ini memilih baju, pasti kamu pengen kelihatan cantik di depan Rico ya," Goda Damar lagi
"Ayah...gak gitu..
"Gak apa-apa kok nak kalau benar kamu suka sama Rico, ayah lihat dia anak yang baik, dia sangat tulus dengan kamu, ayah bisa merasakan kalau dia benar-benar menyukai kamu," ujar Damar
"Apa itu benar yah, aku takut kalau dia meninggalkan aku nantinya, aku gak mau sakit hati yah, biarkan hubungan kami hanya sebatas Teman saja," ujarnya
"Kamu jalani saja nak apa yang menurut hati mu benar, karena mendengar kata hati akan membuat kamu bahagia nantinya." ujar Damar.
Tin...tin..
"Sepertinya Rico sudah sampai nak, kamu segera siap-siap saja, biar ayah yang menemaninya di luar," ujar Damar
"Baik ayah," ucap nya lalu mengambil sembarang baju lalu memakainya.
"Eh Nak Rico sudah sampai ya, Xindy lagi siap-siap di kamar kamu temani ayah ngopi yuk," ujar Damar.
"Loh kopinya mana yah ? tanya Rico
"Sebentar ayah buatkan,"
"Gak usah yah, biar Rico aja yang buatkan, ayah duduk saja di sana," suruh Rico
"Makasih ya nak Rico ,"
"Ayah kayak sama siapa saja, pakek makasih segala,"
Damar tersenyum melihat ketulusan Rico, dia sangat senang kalau suatu saat dia pergi ada Rico yang menjaga Xindy, karena dia percaya kalau Rico bisa membahagiakan Xindi.
Rico datang dengan dua cangkir kopi di tangannya sambil berjalan menghampiri Damar.
"Tara..kopi bikinan Rico sudah Jadi, ayo kita minum bersama," ujar Rico sambil menyajikan kopi itu di atas meja.
"Kayaknya enak nih, dari baunya saja mantap sekali," ujar Damar
"Biasa saja kok Yah, ini juga baru belajar ," ujar Rico sambil menyesap kopinya, Rico memelototkan matanya.
"Woow amazing, kopi perdana ku nikmat sekali."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1