Gadis Somplak Penakluk Hati CEO

Gadis Somplak Penakluk Hati CEO
DICKO 53


__ADS_3

"Tedi dan yang lainnya adalah teman pertama ketika aku menginjakan kaki di Jakarta, Awalnya mereka adalah anak-anak jalanan dan sejak aku bertemu dengan mereka aku berusaha mencarikan pekerjaan yang halal untuk mereka semua dan akhirnya mereka menjadi seperti ini," cerita Xindy


"Terus kenapa mereka manggil lo dengan sebutan Bos cantik ?" tanya Zain


"Ketahuan ya Pak Bos mata-matain aku ?" ujar Xindy sambil menaik-naikkan alisnya.


"Gue gak mata-matain lo kok, tadi gue dengar mereka manggil lo dengan sebutan itu," ngeles Zain


"Kalau iya gak apa-apa juga kali," guman Xindy yang masih bisa di dengar oleh Zain.


"Lo ngomong apa tadi," tanya Zain


"Enggak kok pak Bos, ya sudah pak Bos pergi sana, katanya tadi mau jengukin temannya,"


"Gak jadi, soalnya teman gue sudah pulang," ucap Zain.


"Terus ngapain juga masih di sini?"


"Yach nemenin lo lah, kan lo sendirian di sini,"


"Gak usah pak Bos makasih, aku biasa sendiri kok, lagian sebentar lagi teman-temanku pada balik," ucap Xindy padahal dalam hatinya dia sangat senang kalau Zain berada di sisinya.


"Pokoknya gue mau di sini, gue gak akan ngebiarin lo bareng sama lelaki lain tanpa ada gue di samping lo," ucap Zain.


Xindy kaget mendengar ucapan Zain itu, Dia sampai menepuk-nepuk pipinya karena tak percaya.


"Apa Rico sudah mengingat semuanya," guman Xindy


"Hei..hei..kenapa lo malah bengong sih, boleh gak gue di sini sama lo ?" tanya Zain


"Eh..pak Bos nanya apa tadi ?


"Boleh gak gue di sini bereng sama kalian ?" Zain kembali bertanya pada Xindy


Ternyata itu hanya halusinasi gue saja kalau Zain ngomong seperti itu,, Batin Xindy


"Yach malah ngelamun dia nya, Indah..Indah..," panggil Zain sambil memegang tangan Xindy


"Ya Rico..!" jawab Xindy reflek.


"Rico..siapa Rico ?" tanya Zain


Xindy menepuk mulutnya kerena keceplosan.


"Indah Siapa Rico ?" tanya Zain


Tes...

__ADS_1


Air mata Xindy menetes di pipinya, Zain yang melihatnya semakin penasaran padanya.


"Rico itu pacar gue, gue dan dia baru seminggu jadian tapi tiba-tiba dia pergi tanpa ngabarin gue, gue sudah mencarinya kemana-mana namun dia bagai di telan bumi iks..hiks.."


"Hei..jangan menangis, kalau lo butuh pundak untuk bersandar gue bersedia kok meminjamkan pundak gue ke lo," ujar Zain, Xindy langsung memeluk Zain dengan erat.


Seketika Kepala Zain kembali Sakit, pelukan Xindy membuat Sedikit ingatannya kembali kalau ada gadis pernah memeluk dirinya sama persis dengan yang di lakukan Xindy sekarang.


Zain Pingsan di pelukan Xindy, merasa tidak ada pergerakan dari Zain dan juga tubuh Zain yang terasa berat, Xindy berusaha melepaskan pelukannya tapi karena tidak seimbang Dia terbaring di sofa dengan Zain yang menindih tubuhnya.


Saat itu teman-teman Xindy datang dan melihat hal yang tidak pantas itu


"Kurang ajar, lo apain Bos kita hah," bentak Radit lalu hendak menarik Zain .


"Stoop...Radit dia pingsan ," teriak Xindy menghentikan Radit.


"Tolong bantu gue buat angkat dia dari tubuh gue," suruh Xindy, Di saat Radit hendak membalikan tubuh Pria yang menindih Zindy itu dia kaget.


"Pak Zain..!!


"Iya Dia Zain, ayo cepat angkat, Anjar tolong panggilkan Dokter untuk memeriksannya," Suruh Xindy


Terlihat dokter memeriksa keadaan Zain, Dia mengeleng-gelengkan kepalanya.


"Gimana Dok, gimana keadaannya ?" tanya Xindy.


"Xindy..maafkan aku," ucap Zain lirih dalam tidurnya.


"Dok..apa ini artinya Kalau Zain sudah mengingat aku," tanya Xindy


"Bisa jadi enggak bisa jadi iya, Bisa jadi alam bawah sadarnya yang mengingat kamu tapi pada kenyataannya enggak, kamu harus siap menerima kalau dia memang belum mengingat semuanya," ujar Dokter tersebut lalu pergi dari sana.


"Rico, kapan kamu akan mengingat aku, aku kangen sama banget sama kamu Rico," ucap Xindy sambil merebahkan kepalanya di Tangan Zain.


Perlahan tangan Zain membelai kepala Xindy, Xindy bangun dan segera menghapus air matanya.


"Pak Bos sudah sadar ?" tanya Xindy


"Xindy...!" ucap Zain


Deg...


Jantung Xindy terasa mau keluar dari Dadanya mendengar Zain memanggil namanya akan tetapi dia menahan perasaannya, siapa tau itu hanya Fatamorgana saja.


Zain mencoba duduk di Brangkar masih dengan memegang kepalanya, Xindy segera membantunya bersandar di sana.


"Apa yang pak Bos mau katakan ?" tanya Xindy

__ADS_1


"Aku ingat pelukan itu sama seperti pelukan...Aagghhh ?" Zain kembali berteriak


"Jangan Terlalu keras mengingatnya Pak Bos, kata Dokter kalau pak Bos memaksakannya nanti bisa membahayakan Nyawa pak Bos,"


"Indah..maukan kamu selalu berada di sisi ku kapan pun juga," ujar Zain sambil memegang tangan Xindy


Deg...


Jantung Xindy kembali berdetak kencang, rasanya seperti pertama kali Zain memegang tangannya dulu.


"Aku akan berusaha selalu ada di samping pak Bos ," ucap Xindy


"Kamu Janji ?


"Iya pak Bos, yang penting pak Bos sembuh dulu, Sekarang pak Bos Istirahat ya ," suruh Xindy


Zain memejamkan matanya masih dengan memegang tangan Xindy, Xindy pun tidak bisa apa-apa dan akhirnya dia membaringkan kembali kepalanya di atas Brankar dan tak lama kemudian keduanya tertidur.


*


*


Yuki menghentikan mobilnya tepat di depan sebuah Gudang tua yang terlihat menyeramkan yang ada di pinggir kota, Bintang terhenyak ketika menyadari kalau dirinya sekarang berada di tempat yang sangat asing baginya itu.


"Lo mau nyulik gue ya ?" tanya Bintang sedikit takut .


"Kenapa ? lo takut di culik sama gue, seharusnya lo bersyukur gue mau nyulik lo, secara gue cantik dan seksi," ujar Yuki sambil menyerigai yang membuat Bintang semakin takut padanya.


"Turun lo dari mobil gue, gue mau pulang," ucap Bintang


"Ha..ha..ha..lo beneran mengira gue mau nyulik lo ha..ha.." Bintang mengernyitkan keningnnya


"Terus kenapa lo bawa gue ke sini kalau bukan mau nyulik gue,"


"Lo emang korban Film ya, mana mungkin gue mau nyulik lo, yang ada gue yang rugi kalau gue nyulik lo ,"


"Terus ngapain kita di sini," tanya Bintang


"Sebentar ," ujar Yuki mengambil ponselnya lalu menghubungi seseorang.


"Hallo buka pintunya gue bawa mangsa baru nih," ucap Yuki yang membuat Bintang kembali bergidik.


Tiba-tiba pintu gudang itu di buka oleh beberapa orang pria tampan berpakaian serba Orange, Yuki segera melajukan mobil ke dalam Gudang itu dan gudang itu pun kembali di tutup.


Suasana gelap di dalam gudang itu semakin membuat Bintang dag dig dug seerr, apa lagi mengingat ucapan Yuki tadi kalau dia menyebutnya Mangsa.


Berbagai pertanyaan timbul di benak Bintang, mau kabur tapi pintu mobilnya masih terkunci akhirnya Bintang pasrah dengan apa yang akan terjadi pada dirinya sekarang.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2