
Brengsek lo Al, lepasin istri gue," ujar Devan emosi, terlihat Devan menggepalkan tangannya.
"Sabar dong Van, gue akan ngelepasin Istri lo yang cantik ini kalau lo mau menghancurkan perusahaan Perdana Corperation," ujarnya
"Apa lo gila, bagaimana orang seperti gue bisa menghancurkan Perusahaan sebesar itu ," ujar Devan
"Gue tau lo itu dekat dengan Mr DP, jadi lo pikirin saja sendiri bagaimana cara lo menghancurkan pelan-pelan perusahaan itu, gue beri lo waktu dua hari, lo harus bisa menjatuhkan saham perusahaan itu kalau tidak .." ucapan Albert sengaja di putus agar Devan penasaran
"Kalau tidak apa ?
"Kalau tidak jangan salahkan gue kalau gue menikmati tubuh molek Istri lo ha..ha..," ucap Albert
"Brengsek lo Al gue bunuh lo tut...tut...," Albert memutuskan sambungan telponnya sehingga membuat Devan frustasi
"Aaaaaa..."Teriak Devan sehingga membuat Mika dan Dion kaget
"Dion lakukan manipulasi Kurva saham secepatnya, suruh Tata dan Andi mengerjakannya besok sudah harus selesai," suruhnya
"Kenapa kita melakukan itu Van, kita akan terkena dampaknya nanti," ujar Dion
"Lo suruh mereka hanya buat di seluruh jaringan komputer di perusahaan Albert saja, sementara gue cari cara buat menyelamatkan istri gue," ujar Devan
"Oke, kalau begitu gue dan Mika segera kembali ke perusahaan." Devan mengangguk
Sementara Inge yang duduk dan terikat di sebuah kursi masih mencoba melepaskan ikatannya, dia melihat ke kiri dan ke kanan, terlihat di sana penjagaannya tidak begitu ketat, hanya ada seorang pria berbadan besar yang duduk bersandar di tiang gedung itu sambil menghisap rokoknya.
Namun walaupun hanya seorang saja, akan tetapi terlihat senjata api tergeletak di dekatnya yang bisa mengancam keselamatannya.
Inge merasakan ikatan di tangannya agak sedikit mengendor, dan akhirnya dia bisa melepaskan ikatan tersebut, dia kembali melirik ke arah penjaga itu akan tetapi tatapan dari penjaga itu membuatnya berakting lemas.
"Lo kenapa hah," bentak penjaga itu
"Saya lemas pak, boleh saya minta minum gak," ujar Inge
Penjaga itu pun mengambilkan air putih yang tidak jauh dari sana.
"Ini ," ujar Penjaga itu, Inge melirik ke arah senjata yang mengantung di depat perut penjaga itu.
"Gimana saya mengambilnya pak, tangan saya kan terikat, bapak saja yang meminumkannya buat saya, atau bapak mau melepaskan ikatan tangan saya," ujar Inge, Mau tidak mau penjaga itu maju dan meminuman minuman tersebut ke mulut Inge.
__ADS_1
Saat penjaga itu mulai lengah, Inge segera merebut senjata itu lalu mengarahkannya ke arah penjaga itu, Penjaga itu kaget dan langsung mengangkat tangannya.
"Jangan teriak kalau lo gak mau peluru ini menembus perut lo yang sexy itu," ujar Inge
"Mundur...," penjaga itu pun mundur teratur
"Ambil pisau yang ada di saku lo dan lempar ke sini," suruh Inge, penjaga itu pun menuruti kemauan Inge.
"Jangan sekali-kali lo mencoba untuk berteriak, kalau tidak mau kepala lo pecah." Inge mengambil pisau itu lalu memotong tali yang mengikat kakinya.
"Sekarang lo duduk ," suruhnya, penjaga itu pun duduk di Kursi tempat Inge duduk tadi.
"Buka mulutnya ,"
Inge memasukkan kain kedalam mulut penjaga itu lalu dia mengikat kaki dan tangan penjaga itu sehingga penjaga itu sekarang yang menjadi tawanannya.
"Karena lo sudah baik memberikan senjata buat gue, gue akan membiarkan lo hidup, tapi lo harus gantiin gue di sini ya," bye..bye.." ucap Inge
"Eh tunggu-tunggu... kalau gue gak nutup kepala lo nanti ketahuan dong sebaiknya gue tutup saja kepala lo itu tapi pakai apa ya ," ucap Inge sambil mencari-cari sesuatu yang bisa dia gunakan buat menutup kepala penjaga itu.
"Pakai ini aja deh," Inge mengambil kardus bekas minuman lalu menaruhya di kepala penjaga itu.
Inge sekarang sudah berada di luar gedung itu, namun dia melihat kalau ada dua penjaga di depan gedung dan ada dua penjaga yang berada di samping gedung itu.
"Gimana ini, gimana gue bisa pergi dari sini ya, sepertinya di sini sudah di pasang banyak jebakan deh, gue lihat tidak banyak penjaganya," inge mulai merayap diantara gedung satu dengan yang lain.
Kaki Inge tak sengaja menginjak sebuah kaleng bekas minuman, sehingga suaranya membuat seorang penjaga mencari-cari dari mana asal suara itu.
"Siapa di sana ?" tanya penjaga itu
"Kucing..." jawab Inge lalu menutup mulutnya.
Ni mulut kenapa malah menjawab kek gitu sih, penjaga itu pasti cutiga nanti,, batin Inge sambil memukuli mulutnya pelan.
"Ooo kucing," ucap penjaga itu hendak pergi, namun dia merasa ada yang aneh dengan suara tadi lalu dia pun berhenti.
"Kenapa suara kucing seperti itu ya, ini pasti bukan kucing, biar gue cek ke sana dulu," ujarnya lalu mendekati ke arah tempat Inge bersembunyi.
Inge mengambil ancang-ancang hendak memukul penjaga itu, namun seekor kucing melompat ke arah Penjaga itu sehingga penjaga itu menjadi kaget.
__ADS_1
"Ternyata beneran kucing," ucap penjaga itu, namun Inge tetap memukul tengkuk Penjaga itu sehingga membuat Penjaga itu terkapar tak berdaya.
"Ha..ha..Inge di lawan ," ucapnya lalu menarik tubuh pria itu dan menyembunyikannya di pojokan dan menutupnya dengan benda-benda yang ada di sekitarnya.
"Huff..capek juga ya, badannya berat banget, gue jadi haus," ucap Inge, Sesaat netranya melihat ada sebuah ponsel tergeletak di lantai tempat Penjaga itu tadi terkapar.
"Kalau sudah rejeki emang gak kemana ," ucapnya lalu memungut ponsel itu dan pergi dari sana.
Inge mulai kembali merangkak, dia akhirnya masuk ke sebuah gedung yang tidak sebesar gedung tadi.
"Mmmm sepertinya ini gedung peristirahatan deh," ujar Inge yang melihat banyak kasur tergeletak di sana.
"Sebaiknya gue menelpon kak Devan dulu agar dia tidak khawatir," guman Inge
Drrrrt...drrrttt...
Devan melihat sekilas ponselnya, namun dia mengabaikannya, tapi nomor itu mulai menelpon lagi, tapi Devan tetap mengabaikannya, dia kembali menjelaskan strategi kepada pasukan Ninjanya. Nomor itu masih juga menelponnya.
"Bos sebaiknya bos angkat saja dulu telponnya, siapa tau itu penting," ucap salah satu dari pasukan Ninja tersebut.Devan pun mengangkatnya, tapi dia kaget mendengar suara itu
"Kak Devan lama amat sih ngangkatnya, aku sudah pegal tau gak terus nelponin kamu, awas nanti ya kamu gak aku kasih jatah ," ujar Inge kesal
"Sayang...ini beneran kamu ?" tanya Devan
"Bukan..ini mak lampir, ya iya lah ini aku, kamu gimana sih, tega ya kamu gak ngenalin suara istri sendiri," ujar Inge
"Bukan begitu sayang, aku hanya kaget, kok kamu bisa menelpon aku sih sayang," tanya Devan
"Kamu gak usah banyak tanya deh, kamu ke sini cepetan, istri kamu sudah kelaparan nih, kamu bawa Pizza..Burger...dan jangan lupa spagety juga ya,"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sudah pada mampir belom di Novel miss N yang berjudul "
*MALAM KELAM PRINCES SOMPLAK*
Kalau belum, ayo buruan mampir ya,
miss N tunggu loh ...Dan jangan lupa tinggalkan jejaknya ya...Makasih 🙏🙏🙏
__ADS_1