
"Lo lagi...! ucap Xindy
"Iya..he..he..," jawab Rico cengengesan.
"Lo gak ada kerjaan lain ya, kenapa lo masih nunggu gue di sini hah," bentak Xindy
"Eh geer amat lo,gue di sini memang tadi habis ngantar pelanggan, waktu gue mau balik gue lihat lo sudah keluar, gue samperin saja siapa tau lo butuh jasa ojek gue buat pulang," ujar Rico
"Gak usah deh, uang gue sudah habis buat belanja, gue pulang jalan kaki saja," ujar Rico
"Jangan dong, nanti kaki jenjang kamu jadi lelah, biar gue antar aja ya gratis kok," ujar Rico
"Gak usah Rico, gue gak enak sama lo, lo kan nyari nafkah juga, gue gak mau ngerepotin lo," ujar Xindy, Rico memutar otaknya mencari cara agar Xindy mau di antar sama dia.
"Gimana kalau Lo bayarnya pakai makan malam saja, anggap saja gue beli makanan dari lo gimana ?" ujar Rico
"Emmmmmm, gimana ya ?
"Mau ya..ya.." ujar Rico lagi, Xindy memikirkan tawaran Rico
Kalau gue pulang jalan kaki pasti sangat melelahkan, lebih baik gue terima saja tawarannya,, batin Xindy
"Oke..gue terima tawaran lo," ujar Xindy lalu naik ke motor itu.
Sebuah senyum terbit di bibir Rico, dia sangat senang Xindy menerima tawarannya, ini menjadi awal yang baik untuk lebih dekat dengannya.
Saat sudah hampir sampai di Gang Rumah Xindy ,Rico mengambil jalan memutar.
"Loh kok belok sih Ric, kan udah mau nyampek," tanya Xindy heran
"Tadi saat gue lewat sana gue lihat di sana macet," ujar Rico padahal dia masih ingin lama-lama berduaan dengan Xindy.
"Loh ini kan kampung Ric, kok bisa macet sih, gue gak pernah tuh lihat ada kemacetan di sini," ujar Xindy
"Eh...gue juga gak tau, sepertinya ada kecelakaan deh," alasan Rico
"Ooo bisa jadi kalau begitu," tiba-tiba Rico menghentikan motornya di depan sebuah gerobak penjual Es Dawet.
"Loh kok berhenti sih ?" tanya Xindy
"Gue haus banget nih, panas-panas gini enak kali ya minum es dawet," ujar Rico, Xindy merasa Risih karena dia teringat sama Ayahnya yang sedang sakit.
"Ayo kita minum dulu yuk," Rico menarik tangan Xindy.Xindy pun tidak bisa menolaknya walaupun hatinya masih gelisah memikirkan ayahnya.
"Mas Es dawetnya dua , satu gak pakai dawet ya," ujar Rico yang membuat penjual itu mengernyitkan keningnya
"Maksud mas gimana, kalau gak pakai dawetnya berarti Es doang dong," ujar Penjualnya.
"Ya bapak pintar Ngerti yang saya mau," ujar Rico
"Loh Ric kok gitu sih, kenapa kamu beli es nya saja," tanya Xindy binggung dengan Rico
"Soalnya gue gak bisa minum Sembarangan,gue takut sakit perut," ujar Rico
__ADS_1
"Jadi maksud mas dagangan saya bikin sakit perut ?" ucap Penjual itu marah.
"Bukan begitu maksud saya pak," ujar Rico, terlihat bapak itu mengambil centongnya.
"Lari Xindy.." ujar Rico lalu mrnarik tangan Xindy lalu menaiki motornya lalu melajukannya dengan kecepatan tinggi.
Setelah di rasa sudah jauh dari penjual es itu, Rico menghentikan motornya dengan nafas masih terengah-engah.
"Untung saja centong sakti tidak melayang," ucap Rico masih terengah-engah.
"Lo sih, kenapa harus ngomong begitu tadi," ujar Xindy sambil tertawa
"Gue jujur kok, kenapa dia marah ya," ujar Rico binggung
"Ya jelas dia marah lah, kalau ada orang yang dengar pasti dagangannya gak akan ada orang yang beli lagi," ujar Xindy
"Emang sampai segitunya ya, kejujuran berakibat Fatal dong judulnya," ujar Rico
"Udah aah, kita pulang yuk udah sore nih," ajak Xindy
"Ayuk," ujar Rico lalu kembali melajukan motornya, Senang sekali hati Rico bisa melihat tawa lepas Xindy seperti itu.
Mereka sudah sampai di gang Rumahnya Xindy, Xindy pun turun lalu melangkah ke arah rumahnya.
"Xindy...!" panggil Rico
"Ya..." Xindy menoleh
"Apaan tuh ?" tanya Xindy
Rico tersenyum lalu segera melajukan motornya . Xindy masih binggung dengan apa yang di katakan oleh Rico, sehingga dia mengulangnya beberapa kali.
"Te amo"
"Ayah Xindy pulang," ucapnya lalu menuju ke dapur dan menata bahan makanannya yang di belinya tadi di kulkas.Setelah selesai dia kemudian berjalan menuju kamar ayahnya.
Saat dia membuka pintunya dia tidak melihat ayahnya di kamarnya, dia menjadi panik.
"Ayah...ayah dimana ?" panggil Xindy dengan nada khawatirnya, saat Xindy mau keluar dia menabrak seseorang.
Bruuukkk...
"Hati-hati nak Xindy, Ayah kamu tadi sudah di bawa ke rumah sakit oleh suami saya, dia tadi memaksa keluar rumah dan dia pingsan di jalan," ujar Bu Susi tetangganya Xindy
"Ayah saya di bawa ke rumah sakit mana Bu ?" tanya Xindy
"Ayo kita ke sana, saya di suruh menjemput kamu nak Xindy," ujar bu Susi
Mereka pun kemudian pergi ke rumah sakit dengan menggunakan motornya Bu Susi.
Di atas motor perasaan Xindy semakin gelisah, dia sepertinya merasakan sesuatu akan terjadi tapi dia tidak tau apa itu.
Xindy sekarang berada di samping ayahnya yang sudah terpasang alat bantu pernafasan dan Infus itu.
__ADS_1
"Uang dari mana ya Allah agar aku bisa membayar biaya operasi Ayah," gumannya dengan air mata terus mengalir di pipinya.
Beberapa menit yang lalu....
"Ayah kamu mengidap penyakit tumor otak, beruntungnya tidak terlalu ganas, masih bisa di sembuhkan dengan melakukan tindakan operasi," ujar Dokter itu
"Kira-kira berapa biaya Operasinya Dok ?" tanya Xindy
"80 juta" jawab dokter itu
Jedaar...
"Apa tidak ada keringanan lagi Dok ?
"Itu memang sudah di kurangi juga nak, biasanya biayanya berkisar 120 juta, tapi mengingat kalian bukan orang berada dengan kebijakan rumah sakit ini makan biayanya jadi segitu.
"Kalau begitu saya permisi dulu Dok," ujar Xindy lemah.
"Baiklah, segera selesaikan biayanya ya nak, agar ayah kamu bisa segera di Operasi," ujar Dokter itu
"Saya usahakan Dok," ujarnya lalu pergi dari sana.
Drrrt...drrrtttt...
Suara ponsel mengagetkannya, di sana tertera nama kang Rohman yang dia tau kalau itu adalah Rico, dia kemudian langsung mengangkatnya.
"Iya Rico..ada apa,"
"Lo di mana sih Xin ? kok lo gak ada di rumah sih, gue sudah di rumah lo nih," ujar Rico, Xindy baru menyadari kalau dia sudah janji sama Rico mau bayar ojeknya dengan makan malam.
"Ric, maaf ya makan malamnya lain kali saja ya," ucap Xindy lemah
" Emangnya lo di mana sih Xin ?" tanya Rico
"Gue di rumah sakit," ujar Xindy
"Apa...lo sakit Xin ?
"Bukan, Tapi ayah gue yang sakit," ujar Xindy
"Di rumah sakit mana, kamar berapa ?
"Buat apa ?
"Jawab saja,"
"Rumah sakit X kamar 128 b"
Tut...tut...
Sambungan telpon terputus, Xindy kembali menatap wajah pucat ayahnya dan kembali menangis.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1