
Sudah satu minggu Rara tinggal dirumah itu. tentunya sangat nyaman karena dia baru pertama kali tinggal di rumah yang terlihat mewah menurutnya. ya, memang untuk kalangan orang biasa, rumah milik Bu Susan itu terlihat mewah.
Pagi sekali Rara sudah membersihkan rumah. dia hanya bebersih sendirian karena dirumah itu tidak ada pembantu.
Toktok
Terdengar ketukan pintu dari arah luar. Rara yang baru juga duduk, langsung melangkah menuju ke arah pintu depan rumah.
Cklek
"Eh Mas Reza, silahkan masuk! Ayo Pak mari kita masuk!" ucap Rara mempersilahkan Reza dan lelaki yang datang bersamanya.
"Assalamu'alaikum" Reza mengucapkan salam saat akan memasuki rumah.
"Waalaikum'salam" jawab Rara
Mereka sudah berada di ruang keluarga. lelaki yang bersama Reza membuka tas miliknya dan mengambil dokumen surat pemindahan warisan yang harus di tandatangani oleh Rara.
"Maaf, apa dengan Nona Rara?"tanyanya
"Iya, saya Rara pak." kata Rara
"Begini, saya membawa dokumen yang harus Nona tandatangani." ucapnya sambil memberikan dokumen itu kepada Rara.
Rara membaca isi dari dokumen itu. disana sudah tertera bahwa Rara satu-satunya hak waris atas harta yang dimiliki oleh Pak Sam dan Bu Susan.
Setelah menandatangani dokumen pemindahan surat warisan, Rara berpamitan untuk ke dapur sebentar menyiapkan suguhan. namun Reza dan pengacaranya menolak dengan alasan ada urusan lain di luar.
"Mas Reza yakin mau langsung pergi, tidak mau bersantai dulu sebentar."
"Tidak Ra,Mas masih banyak pekerjaan dikantor. ini juga mau kembali lagi ke kantor."
"Ya sudah, hati-hati Mas, Pak." ucap Rara lalu mereka berdua pergi meninggalkan rumah itu.
Rara kembali ke kamarnya untuk menengok Baby Zie. karena tadi Baby Zie sedang tidur.
Cklek
Huuuwwaaaa Mamah, Apah" Baby Zie menangis memanggil Mamah dan Papahnya.
"Cup cup cup sayang kenapa nangis? sudah besar loh, jangan nangis." ucap Rara menenangkan.
"Apah Apah" Baby Zie memanggil-manggil Papahnya.
"Jangan cari Papah Nak, belum tentu diluar sana Papah juga mencari kita." kata Rara dan seketika wajahnya berubah sendu.
__ADS_1
"Apah Apah" Baby Zie masih saja memanggil Papahnya.
"Stt jangan nangis lagi sayang, sini Mamah gendong." lalu Rara menggendong Baby Zie dan mencoba untuk menenangkannya.
Malam harinya, Juna sudah sampai di Kota dengan mengendarai motor miliknya. dia berniat mencari kontrakan untuk sementara. karena tidak mungkin jika dia pulang ke rumahnya. bisa-bisa Bu Farah menyuruhnya untuk menikah dengan wanita pilihannya.
Setelah menemukan kontrakan yang lumayan layak, Juna langsung menyewa untuk satu bulan ke depan. kini dia memilih untuk langsung beristirahat. karena kontrakan itu sudah dibersihkan oleh pemiliknya, jadi Juna bisa langsung beristirahat tanpa harus bersih-bersih dulu.
Pagi harinya,Juna terbangun dari tidurnya. waktu sudah menunjukan pukul 7 pagi. dia kesiangan dan tidak melaksanakan shalat subuh. dia teringat jika biasanya Rara yang suka membangunkannya untuk shalat. tapi sekarang dia harus bangun sendiri.
Juna segera membersihkan dirinya. karena semalam dia ketiduran dan lupa mandi.
sekarang dia sudah berpakaian rapih. dia berniat untuk membeli nasi bungkus untuk mengganjal perutnya yang kosong dan sudah keroncongan.
Juna keliling mencari warung yang sudah buka. dia berhenti di pinggir jalan raya. dia melihat warung kecil yang cukup rame. Juna menuju kesana karena penasaran.
"Permisi" ucap Juna lalu memasuki warung kecil itu.
"Silahkan masuk, mau pesan apa Mas? tanua pemilik warung.
"Yang paling murah saja Bu." kata Juna karena dia sedang berhemat.
"Semua yang disini murah Mas, makannya banyak yang berkunjung." ucapnya
"Sebentar saya siapkan dulu, Mas boleh memilih tempat untuk duduk."
Lalu Juna segera mencari tempat untuk dia duduki.
"Tuan Juna" ucap seseorang yang berdiri dihadapan Juna.
Juna mendongkakkan kepalanya. dia melihat Rio mantan Asistennya. lebih tepatnya bawahannya saat dia dulu menjabat sebagai CEO.
"Rio, lama kita tidak berjumpa." ucap Juna setelah dia meneguk air mineralnya.
"Saya juga tidak menyangka bisa ketemu dengan Tuan Juna disini." ucapnya sambil memperhatikan penampilan Juna yang terlihat sederhana.
Rio mendudukan dirinya di depan Juna. dia mencoba mengajak mantan atasannya itu untuk berbicara. Juna sama sekali tidak mempermasalahkan saat mantan Asistennya bertanya ini itu mengenai kehidupan yang dia lalui setelah hidup menjadi orang biasa.
bahkan Juna juga bercerita jika saat ini dirinya ke kota untuk mencari anak dan istrinya.
Rio merasa kasihan kepada Juna. dia berniat untuk membantunya mencari keberadaan Rara.
"Lalu, sekarang Tuan Juna tinggal dimana? bagimana jika ikut saja dengan saya tinggal di Apartemen saya." tawarnya
"Saya tinggal dikontrakan dekat sini. ah, tidak usah nanti merepotkan." tolaknya karena Juna merasa tidak enak. baru juga sampai di kota sudah merepotkan orang lain.
__ADS_1
"Tidak sama sekali Tuan, justru saya merasa senang jika Tuan tinggal bersama saya. nanti kita bisa cari Nona Rara sama-sama." ucapnya
Ingin sekali Juna menerima tawaran Rio. namun dia kasihan dengan kontrakan yang sudah dia sewa untuk satu bulan jika tidak ditempati.
"Tidak usah, saya minta nomer ponselmu saja. nanti kita bisa bertemu lagi lain waktu." ucap Juna
"Baiklah" Rio merogoh kantong celananya dan mengambil kartu nama. lalu dia kasihkan kepada Juna.
Setelah berbincang cukup lama, Rio memilih untuk pergi terlebih dahulu. karena dia niatnya mampir sebentar untuk membeli nasi bungkus. tapi malah larut dalam obrolan dengan Juna.
Juna tidak kembali ke kontrakan. namun dia berkeliling untuk mencari pekerjaan.
setelah lelah berkeliling, akhirnya Juna mendapatkan pekerjaan walaupun itu hanya sebagai pelayan restoran. semoga saja pekerjaan itu cukup untuk kebutuhannya sehari-hari.
Rio baru sampai dikantor. dia melihat atasannya sudah datang terlebih dahulu.
Tok tok
Setelah mengetuk pintu, Rio masuk dan menghadap atasannya.
"Maaf Pak, saya telat." ucapnya
"Hm, saya mencarimu dari tadi. tidak biasanya loh kamu telat seperti ini." kata Rey
"Maaf Pak, tadi saya ada kepentingan mendadak. jadi telat datang ke kantornya."
"Ya sudah, kembalilah bekerja!" pintanya
Setelah kepergian Rio, terlihat Putri memasuki ruangan atasannya. dia berpenampilan lebih feminim dari biasanya. bahkan rok yang dia pakai lebih pendek.
"Kak Rey, ini berkas yang harus ditandatangani." sambil menyodorkan dokumen yang dia bawa.
"Duduklah dulu!" perintahnya
Putri duduk di sofa depan Rey. karena atasannya saat ini sedang duduk di sofa tempat bersantai yang ada diruangannya.
setelah menandatangani semua berkas itu, Rey berniat untuk memberikan dokumen itu kepada Putri. namun pandangannya tertuju pada paha mulus yang sedikit terlihat.
Rey bangkit dari duduknya. dia mendekati Putri. Rey melepaskan Jas miliknya dan dia menaruhnya diatas pangkuan Putri.
"Lain kali pakailah pakaian yang lebih panjang. saya tidak mau karyawan saya dilirik oleh mata keranjang."
"Baik Pak" jawab Putri
Kak Rey perhatian sekali kepadaku. emm, apa kak Rey juga punya perasaan yang sama terhadapku." batin Putri
__ADS_1