Hanya Istri Siri

Hanya Istri Siri
S2_Episode 26


__ADS_3

Terlihat beberapa orang yang sedang mengintai kediaman Bu Luna. namun Bu Luna maupun Sela tidak tahu jika gerak-gerik mereka sedang ada yang mengintai.


Bu Luna keluar dari rumah karena hendak pergi. Bu Luna berjalan di sekitaran kompleks perumahan rumahnya menuju ke jalan raya. karena kebetulan mobilnya sedang di bawa pergi oleh Sela.


Bu Luna sejenak menghentikan langkahnya karena merasa jika ada yang mengikutinya. namun saat menengok ke belakang, tidak ada orang di belakangnya. Bu Luna kembali melanjutkan langkahnya. namun tiba-tiba ada yang mencekal kedua tangannya.


"Siapa kalian?" Bu Luna berteriak dan mencoba memberontak. namun malah mulutnya di bekap.


Bu Luna pingsan karena kain yang di gunakan untuk membekap mulutnya ada obat biusnya. Bu Luna langsung di bawa oleh beberapa orang itu.


Kebetulan Sela baru pulang dan melihat perempuan yang mirip seperti Ibunya.


Kok perempuan itu mirip Mamah, lalu siapa mereka?" gumam Sela lalu dia menepikan mobilnya.


Sela keluar dari mobil dan hendak menghampiri perempuan itu. namun keburu perempuan itu di masukan ke mobil. saat Sela berteriak memanggil Bu Luna, mobil itu langsung pergi dengan cepat dari sana.


Mungkin hanya mirip saja dengan Mamah, mending aku pulang saja untuk memastikan Mamah ada di rumah atau tidak," batin Sela


Sela kembali masuk ke dalam mobilnya. lalu dia mengemudikan mobilnya menuju ke rumahnya yang kebetulan dekat dari sana.


Sela sudah berada di rumah dan mencari keberadaan Bu Luna. namun ternyata Bu Luna tidak ada di rumah.


Jangan-jangan yang tadi itu Mamah," gumam Sela yang kini sudah merasa panik.


Sela segera menghubungi Alvin untuk meminta bantuan.


📞"Hallo Kakak sayang, tolong aku!" ucap Sela


📞"Minta tolong apa?"


📞" Sepertinya Mamah di culik," ucap Sela

__ADS_1


📞"Tante di culik? tenang saja nanti aku membantu mencari Tante Luna," ucap Alvin


Tapi setelah urusanku beres," ucap Alvin dalam hati.


Alvin langsung mematikan panggilan ponselnya. lalu dia menghubungi Pak Juna. setelah menghubungi Pak Juna, kini Alvin bergegas untuk pergi.


Saat ini Bu Luna sudah di bawa ke sebuah bangunan tua.


Bruk


Beberapa orang itu melempar tubuh Bu Luna begitu saja ke lantai.


Salah satu dari mereka ada yang mengambil air dan menyiramkan ke muka Bu Luna.


Bu Luna tersadar dan melihat beberapa orang di depannya.


"Siapa kalian? kalian mau apa?" Bu Luna mencoba untuk melepaskan ikatan tali yang mengikat di tangan dan kakinya. namun usahanya sia-sia karena ikatan tali itu sangat erat.


"Jadi ini ulah kalian?"


"Sudahlah Tante, aku tidak punya waktu untuk membahas yang tidak penting. lebih baik Tante jawab pertanyaanku." ucap Alvin sambil berjalan mendekati Bu Luna.


Alvin mengambil sesuatu dari kantong celananya.


"Ini apa maksudnya?" tanya Alvin sambil memperlihatkan gelang tangan yang dia pegang.


Itu kan seperti gelangku yang hilang, kenapa bisa ada sama Alvin," gumam Bu Luna


"Apa maksud dari gelang itu, Luna? bisa di jelaskan?" kini Pak Juna ikut bertanya.


"Itu em itu--" Bu Luna terlihat ragu untuk berkata.

__ADS_1


"Ini gelang yang Tante Luna pakai untuk menjebak Papah Juna, atau Tante menyimpan gelang ini karena Tante masih mencintai Papah Juna?" Alvin melontarkan pertanyaan langsung pada intinya.


Bu Luna tampak terdiam. dia mengingat lagi terakhir kali dia kehilangan gelang miliknya.


Astaga, aku kan kehilangan gelang itu saat Devan meninggal," batin Bu Luna


"Cepat mengaku, Luna!" Pak Juna menatap tajam Bu Luna yang sedang duduk di atas lantai.


"Cepat kasih gertakan!" ucap Alvin sambil menatap orang suruhannya yang berdiri di belakang.


Satu orang suruhan Alvin perlahan mendekat. dan membuka sebuah botol berisi air keras.


"Cepat jawab Tante! atau air keras ini akan mengenai wajah Tante," Alvin mencoba menggertak Bu Luna.


"Tuangkan!" Alvin menatap orang suruhannya.


"Tunggu!" Bu Luna angkat bicara karena tidak mau wajahnya yang masih terlihat cantik itu terkena air keras.


"Apa Tante? pasti Tante tidak mau kan wajah Tante ini terkena air keras."


"Iya, itu gelang milik saya. saya sengaja menyimpannya sebagai kenang-kenangan. namun saya tidak pernah memakainya. hanya saya simpan di dalam tas." jelas Bu Luna


"Lalu kenapa gelang itu ada di atas mayat Papah?"


"Apa maksudmu? Mamah tidak tahu sama sekali, tapi memang gelang itu hilang bertepatan dengan kematian Ayahmu," ucap Bu Luna


"Tante tidak usah berbohong!" Alvin terlihat tidak mempercayai perkataan Bu Luna.


Pak Juna menatap wajah Bu Luna yang terlihat bingung.


Sepertinya Luna tidak ada kaitannya dengan kematian Devan," batin Pak Juna yang memang dulu sangat mengenal Luna. jika melihat dari ekspresi wajahnya, Bu Luna sepertinya tidak tahu masalah itu.

__ADS_1


°°°


__ADS_2