Hanya Istri Siri

Hanya Istri Siri
Part.147


__ADS_3

Part.147


Usia kandungan Rara sudah sembilan bulan. kebetulan saat ini juga hari ulang tahun Rara. di kehamilan yang ke sembilan bulan sekaligus hari ulang tahun Istrinya, Juna akan memberikan kejutan yang spesial untuknya.


Juna sudah menyewa restoran mewah yang sudah di dekor sedemikian rupa. dan acara Diner romantis mereka nanti malam.


Putri sedang membantu Rara memilih pakaian yang akan di kenakan nanti malam.


"Put, kenapa pakaianku kekecilan semua. iishh bingung pakai yang mana. kenapa tinggal pakaian yang jelek saja yang muat di badan." Rara mengobrak abrik isi lemarinya.


"Iya yah, sepertinya harus beli pakaian baru untuk di kenakan nanti malam." ujar Putri


"Cus otw butik" Rara mengajak Putri pergi ke butik.


"Kamu yakin mau pergi Ra, perut kamu sudah besar banget. pasti susah jalan nanti."


"Kan cuma ke butik doang nggak mampir kemana-mana lagi. Rara kuat jalan kok nggak mungkin kecapean." ucap Rara percaya diri


"Ya sudah ayo kita siap-siap."


Rara dan Putri pergi ke butik di antar oleh supir. sesampainya di butik Rara langsung mencari gaun yang cocok dan muat di badannya. Rara memilih gaun ungu muda yang menurutnya sederhana namun terlihat bagus. setelah mendapatkan gaun yg dipilih Rara langsung membayar. setelah itu mereka langsung pulang tanpa singgah ke tempat lain.


Tak terasa waktu berjalan begitu cepat. dan kini sudah menjelang malam. Putri datang ke rumah Rara untuk membantu merias wajahnya. di rumah itu hanya ada Rara dan para pembantunya. sedangkan Juna tidak tahu lagi dimana. begitupun Rey yang belum pulang. mungkin mereka sedang menyiapkan kejutan untuk Rara.


Juna hanya mengirim pesan kepada Rara untuk datang ke restoran X nanti jam 7 malam. setelah itu dia tidak menghubunginya lagi.


Rara berangkat menuju restoran di antar oleh supir. saat sampai disana terlihat suasana sangat sepi. bahkan tidak ada penerangan sama sekali. namun saat Rara melangkahkan kakinya hanya baru beberapa langkah, terlihat lampu penerangan menyala. bahkan ada lampu hias yang dibuat bentuk I Love You Rara. Rara sangat senang mendapatkan kejutan seperti ini. karena baru pertama kalinya dalam hidup Rara mendapatkan kejutan spesial.


Saat Rara hendak masuk ke dalam restoran, dia mendengar suara nyaring dari jalan raya.

__ADS_1


Brak


Seperti sesuatu yang tertabrak. Rara tak jadi masuk namun dia langsung berbalik dan menghampiri suara itu. saat Rara sudah sampai disana ternyata banyak orang berkerumun dan beberapa kendaraan berhenti. bisa Rara tebak itu ada kecelakaan. karena dia melihat orang mengendong seseorang yang sepertinya korban tabrak lari. Rara bertanya kepada salah satu orang disana.


"Maaf Pak, itu kecelakaan siapa korbannya?"


"Itu seorang lelaki muda namanya Juna. Juna siapa saya lupa tadi."


Raa terkejut saat mendengar korban kecelakaan itu bernama Juna.


"Keadaannya parah tidak Pak?" tanya Rara dengan sedikit gemetar.


"Parah sekali bahkan tidak tahu masih tertolong atau tidak." jawabnya


Rara semakin sedih dan sesak. dia tidak pernah berfikir jika kejadian ini menimpa suaminya.


Mas Juna jangan tinggalin Rara." gumam Rara pelan.


"Rumah Sakit pelita." jawab lelaki itu


"Terima kasih Pak, kalau begitu saya permisi." Rara buru-buru mencari taxi yang lewat. tak perlu ditanya lagi bagaimana perasaanya saat ini. dia begitu terpukul mendengar berita duka ini.


Akhirnya Rara mendapatkan taxi. dia langsung meminta supir untuk mengantarkannya ke Rumah Sakit.


Kini taxi yang di tumpanginya sudah sampai di depan Rumah Sakit. setelah membayar, Rara langsung masuk dengan jalan agak cepat. Rara bertanya kepada perawat yang lewat dan terlihat sedang terburu-buru.


"Permisi Mba, korban tabrak lari yang barusan datang di bawa kemana yah?"


"Di bawa ke ruang UGD, kebetulan saya juga mau kesana."

__ADS_1


"Kalau begitu saya ikut."


"Anda siapanya?" tanya perawat itu.


"Saya keluarganya." jawab Rara


Rara mengekor perawat itu menuju ke ruang UGD.


Rara menunggu di luar ruang UGD sambil duduk di kursi tunggu. dia tampak tidak tenang sebelum mendengar kondisi suaminya.


Tak lama pintu ruangan itu terbuka. tampaklah Dokter keluar diikuti oleh salah satu perawat.


"Maaf dengan keluarga pasien."


"Iya saya Dok" ucap Rara yang masih panik.


"Saya minta maaf sebelumnya. saya sudah berusaha semaksimal mungkin. namun tuhan lebih menyayanyinya. pasien meninggal karena banyak mengeluarkan darah." jelas Dokter merasa prihatin.


"Mas Juna....." Rara berteriak keras lalu langsung masuk begitu saja ke dalam ruangan itu.


Tampak mayat sudah tertutup kain putih. dan wajahnya rusak tak bisa di kenali.


Rara menangis histeris mengetahui jika suaminya meninggal.


"Mas Juna huhu jangan tinggalin Rara Mas." ucap Rara disela-sela isak tangisnya.


"Mas bangun Mas, anak kita sebentar lagi lahir. jangan tinggalin Rara sendirian Mas." Rara begitu rapuh dan tak ada semangat lagi. orang yang menjadi semangatnya sekarang sudah tiada.


"Rara tak mungkin mengurus anak kita sendirian Mas."

__ADS_1


Akhhhhh


Rara merasakan sakit pada perutnya. sepertinya kontraksi mau melahirkan. namun beberapa saat Rara tak sadarkan diri. untung saja ada orang yang menopang tubuhnya. karena kebetulan orang tersebut tadi melihat Rara hendak jatuh.


__ADS_2