Hanya Istri Siri

Hanya Istri Siri
Part_64


__ADS_3

Keesokan harinya Rio mulai melakukan penyelidikan mengenai Rara. dia mulai bertanya ke beberapa tetangga kontrakan yang pernah ditinggali Rara. tapi mereka tidak tahu masalah pribadi Rara. karena dia pribadi yang tertutup dan tidak suka ikut ngumpul-ngumpul dengan tetangga lainnya ketika mereka mengajak bergosip.


Rio berjalan meninggalkan area kontrakan itu. karena dia haus dia mampir ke warung depan di seberang jalan untuk membeli minuman.


"Bu, teh botol dingin satu!" pinta Rio kepada ibu warung.


Lalu ibu warung yang tak lain adalah Bu Helda, mengambilkan teh botol dan memberikannya kepada Rio.


Rio langsung meneguk habis teh botol miliknya. karena memang dia sedang kehausan.


"Haus sekali sepertinya Pak." ucap Bu Helda


"Iya Bu, saya haus sekali. saya lagi cari orang tapi belum ketemu juga." ucap Rio


"Nyari siapa Mas?" tanya Bu Helda


"Nona Mutiara Bu, biasa dipanggilnya Rara. dulu dia pernah ngontrak disekitar sini." ucap Rio


"Oh Rara, kebetulan saya mengenalnya."


Rio langsung menatap Bu Helda yang menyuruhnya mengatakan apapun yang dia ketahui.


"Apa ibu tahu jika Nona Mutiara sudah menikah?" tanya Rio


"Saya tahu Pak, saya merasa kasihan dengan Rara. awal dia mengontrak dia selalu membeli nasi bungkus disini. dia selalu berhemat, bahkan yang dia beli hanya nasi dan sayur saja. dia juga selalu berjalan kaki jika berangkat bekerja. yang saya lihat dia wanita pekerja keras. tapi saya juga merasa kasihan kepadanya. dia sudah menikah tapi masih kerja banting tulang." jelas Bu Helda


"Jadi Nona Mutiara selama ini selalu berjalan kaki saat berangkat kerja?" tanya Rio


"Iya Pak, ya memang seperti itulah."


Rio mulai berpikir, dia mengingat saat dirinya akan berangkat ke kantor dengan Juna. dia tidak sengaja melihat Rara yang sedang duduk di pinggir jalan. Rio begitu prihatin mengetahui semua ini.


Rio bertanya yang lainnya kepada Bu Helda.

__ADS_1


"Lalu apalagi yang Ibu ketahui mengenai Nona Mutiara?" tanya Rio yang masih ingin tahu kisah hidup yang dijalani Rara selama ini.


"Ini mengenai suaminya, saya sering melihat suaminya diantar jemput memakai mobil mewah. tapi saat saya tanya kepada Rara, dia mengira jika itu mungkin majikan suaminya yang mengantarkannya pulang. Rara sendiri tidak tahu pekerjaan suaminya. dan ini yang membuat saya berpikiran aneh. masa suami istri tidak saling terbuka satu sama lain. berarti hubungan mereka tidak sedekat pasangan suami istri lainnya. dan yang saya lihat, sepertinya suami Rara itu tidak menafkahi." jelas Bu Helda panjang lebar.


Rio memang sudah tahu mengenai perkataan yang dikatan Bu Helda barusan. karena dia sendiri yang selalu mengantar Juna.


"Lalu, apa Ibu tahu dimana Nona Mutiara tinggal sekarang? dan apakah Nona Mutiara sudah mempunyai anak? " tanya Rio yang masih mencari informasi lebih.


"Maaf, tapi Bapak dari tadi bertanya masalah pribadi Rara. memangnya apa hubungan Bapak dengannya?"tanya Bu Helda


"Saya kebetulan disuruh oleh kerabatnya untuk mencari Nona Mutiara. karena selama menikah Nona Mutiara tidak pernah memberikan kabar." ucap Rio memberikan alasan agar Bu Helda mempercayainya.


"Kalau masalah itu saya kurang tahu. tapi sepertinya Rara pindah karena suaminya sudah lama tidak pernah pulang. soalnya saya juga tidak pernah melihat mobil yang selalu mengantar jemput suaminya parkir didepan sana lagi." ucap Bu Helda sambil menunjuk pinggir jalan depan gerbang masuk kontrakan.


"Dan masalah anak, yang saya tahu selama disini dia belum mempunyai anak. tapi beberapa hari sebelum dia pindah dari sini, saya melihat wajahnya yang tampak pucat sekali. apa jangan-jangan saat itu dia hamil. ya, kalau memang saat itu dia sedang hamil pastinya sekarang dia sudah melahirkan." jelas Bu Helda


Rio memikirkan perkataan Bu Helda. ada benarnya juga yang dia katakan. apalagi Juna berkata bahwa Rara sudah mempunyai anak.


dan jika Rara sudah melahirkan anak dari suami barunya, itu tidak memungkinkan. karena jaraknya hanya baru beberapa bulan saja. kecuali jika Rara dulunya berselingkuh dari Juna. tapi itu tidak mungkin karena Rara terlihat sangat sholehah.


"Ya sudah Bu, terimakasih karena sudah memberitahukan saya informasi mengenai Nona Mutiara." ucap Rio


"Iya Pak sama-sama, semoga Bapak cepat menemukan keberadaan Rara."


"Iya Bu, mudah-mudahan." ucap Rio lalu dia mengambil uang di dalam dompetnya untuk membayar teh botol yang tadi dia minum.


"Ini Bu" Rio memberikan tiga lembar uang ratus ribuan kepada Bu Helda.


"Ini kebanyakan Pak kalau untuk membayar satu teh botol."


"Tidak apa-apa Bu, anggap saja ini bayaran karena ibu sudah mau memberikan informasi mengenai Nona Mutiara."


"Tapi ini kelebihan loh." Bu Helda memberikan lagi uang itu kepada Rio tapi dia tidak menerimanya.

__ADS_1


"Tidak Bu, saya pergi dulu." Rio memberikan uang itu lagi kepada Bu Helda. lalu dia segera pergi sebelum Bu Helda mengembalikan lagi uangnya.


"Eh Pak...." Bu Helda berteriak memanggil Rio tapi dia terus berjalan menjauh.


Rio kembali melajukan mobilnya. dia berencana menyelidiki teman terdekat Rara saat bekerja. jadi dia mengemudikan mobilnya menuju kantor. dia akan bertanya kepada teman kerjanya saat dia menjadi office girl.


siapa tahu diantara mereka ada yang menjadi teman terdekatnya.


Rio yang baru melangkahkan kakinya memasuki kantor, melihat Juna yang baru keluar dari lift.


"Siang Tuan" sapa Rio


"Siang juga, bagaimana? apakah ada informasi yang kamu dapat?"tanya Juna


"Saya hanya mendapat informasi mengenai kesehariannya Nona Mutiara saat tinggal


di kontrakan. dan mengenai anak, saya belum menemukan titik terang." kata Rio


"Baiklah, kamu cari tahu lagi informasi lebihnya. dan sekarang ayo ikut saya." Juna mengajak Rio menuju ke ruangannya.


"Bukankah Tuan baru saja akan keluar?"


"Iya, saya akan makan siang. tapi nanti saja, saya ingin mendengar informasi yang baru kamau dapat." ucap Juna


Lalu mereka memasuki lift menuju lantai atas.


Mereka sudah duduk berhadapan. Rio mulai menceritakan informasi yang dia dapat.


Juna tidak bisa menahan air mata yang keluar begitu saja dari sudut matanya. selama ini dia dibutakan oleh ambisinya sehingga dia tega memperlakukan Rara seenaknya sendiri. dia tidak pernah perduli dan tidak pernah mau tahu hal yang selalu Rara lakukan selama ini.


Juna juga tidak pernah memberikan uang sepeserpun kepada Rara. tapi yang dia lihat, Rara selalu perhatian. bahkan selalu membelikannya nasi bungkus walaupun dia tidak pernah memintanya.


Jika untuk keseharianmu saja sudah susah, ngapain masih memperdulikanku." batin Juna yang mengingat saat Rara selalu membelikannya nasi bungkus. tapi dia membiarkannya begitu saja tanpa menyentuhnya.

__ADS_1


°°°°


__ADS_2