Hanya Istri Siri

Hanya Istri Siri
S2_Episode 102


__ADS_3

Hari pertama tanpa Desi, Zivana tampak kewalahan. Apalagi Baby Rayan yang tak mau diam saat di ajak ke kantor.


Alvin menghampiri istrinya yang sedang membereskan mainan anaknya yang acak-acakan. Saat ini ruangan Alvin terlihat seperti kapal pecah, karena mainan berserakan dimana-mana.


"Sayang, sini Rayan sama Mas. Mau di ajak keliling kantor." Alvin mendekati Rayan yang sedang duduk di belakang Zivana.


"Iya, Mas. Zie cape nih, sekalian nanti minta salah satu office girl untuk membantuku yah."


"Siap, sayang," Alvin menggendong anaknya. Lalu dia keluar dari ruang kerjanya.


Kebetulan Asiten Tio baru keluar dari ruangannya. Dia melihat Alvin pergi bersama anaknya.


Mungkin ini saat yang tepat untuk aku bertanya kepada Nona Zivana," batin Asisten Tio.


Asisten Tio mengetuk pintu ruangan Alvin.


"Masuk saja!" ucap Zivana dari dalam.


Kini Asisten Tio sudah masuk ke dalam.


"Nona, saya mau bertanya," ucap Asiste Tio yang sedang berdiri tak jauh dari Zivana.


Zivana beranjak dari jongkoknya. Kini dia menatap Asisten Tio.


"Tanya apa?"


"Desi kemana yah? Kok tidak ikut ke kantor?"


"Memangnya Kak Tio tidak tahu kalau Desi resign dari kerjaan?" tanya Zivana.


"Tidak, dia tidak mengatakan apa pun," ucap Asisten Tio.


Kenapa dia resign? Apa karena kemarin aku melecehkannya." Asisten Tio tampak bergelut dengan pikirannya.


"Nona Zie, saya mau tanya lagi. Apa Desi itu wanita baik-baik?"


"Kak Desi itu wanita baik-baik, jika dia tidak baik mungkin sejak dulu dia sudah menggoda Mas Alvin." ucap Zivana


"Tapi dia kok sudah tidak pw," Asisten Tio semakin penasaran dengan sosok Desi.


"Apa Kak Tio bilang? Dari mana Kak Tio tahu jika dia tidak PW? Lagian wajarlah, dia itu janda."

__ADS_1


"Ah tidak, saya permisi dulu," Asisten Tio pergi dari hadapan Zivana.


Aneh sekali, kenapa dengannya? Dari mana dia tahu jika Kak Desi sudah tidak PW? Apa mungkin Kak Desi yang memberitahunya, tapi rasanya tidak mungkin." batin Zivana.


Tok tok


Zivana kembali mendengar ketukan pintu dari arah luar. Dia membuka pintu dan mengira jika Asiten Tio kembali lagi. Ternyata yang datang office girl yang akan membantunya beres-beres.


°°°°


Alvin sudah kembali bersama dengan anaknya. Dia melihat istrinya sedang tidur di atas sofa. Mungkin karena kelelahan bekerja sambil menjaga anaknya.


Zivana mengerjapkan kedua matanya saat merasakan tangan mungil sedang memegang pipinya.


"Sayang, kamu bangunin Mamah?" Zivana membenarkan posisi duduknya.


"Iya nih, Rayan laper katanya. Dia minta makan sama kita." ucap Alvin dengan menirukan suara anak kecil.


"Uluh-uluh, itu Papah kamu bawa apa sayang, banyak sekali?"


"Ini Papah dede tadi beli cemilan anak kecil sama makanan untuk kita," kata Alvin.


"Boleh dong, sayang. Mau panggil Papah Dede, atau Ayah Rayan, bisa juga cintaku, suamiku tercinta, terserah kamu saja." ucap Alvin sambil tersenyum menatap istrinya.


"Kok Papah dede jadi lebay sih."


"Hehehe, bukan lebay sayang. itu kan panggilan sayang dari kamu untuk Mas."


"Papah dede saja deh, kalau di depan orang-orang, Zie tetap panggil Mas."


"Siap, sayang. Yuk sekarang kita makan siang dulu." ajak Alvin.


"Oke," Zivana membuka bungkusan makanan yang ada di atas meja.


°°°°


Alvin melihat istrinya yang baru keluar dari kamar mandi. Sekarang giliran dia yang akan mandi karena takut keburu kemalaman.


Setelah selesai mandi, Alvin menghampiri istrinya yang sedang duduk sambil memainkan ponsel.


"Sayang, kamu lagi ngapain?" tanya Alvin lalu mendudukan dirinya di samping istrinya.

__ADS_1


"Nih tadi Zie habis telfon Mamah. Zie meminta Mamah untuk menjaga Rayan saat Zie pergi ke kantor. Tapi Mamah malah minta kita tinggal di rumah Mamah untuk sementara selama Zie hamil." ucap Zivana


"Apa kamu setuju?"


"Zie juga tidak tahu, Mas. Kalau menurut Mas bagaimana?"


"Mungkin ini yang terbaik untuk kamu, sayang. Lagian kalau disana kan ada Mamah yang bantuin kamu jagain Rayan."


"Baiklah, Besok kita berkemas saja. Nanti Zie bilang dulu sama Mamah."


"Oke, sayang."


Zivana kembali menaruh ponsel miliknya ke atas meja.


"Mas, aku keluar dulu yah. Mau lihat Rayan, tadi dia main sama Bi Salma." ucap Zivana


"Mas ikut deh," Alvin bersanjak dari duduknya, begitu juga dengan Zivana. Keduanya keluar kamar dengan saling bergandengan tangan.


Zivana melihat anaknya sedang main mobil-mobilan.


"Sayang, Rayan mau jadi supir yah?" Zivana mencium gemas pipi anaknya. Rayan menatap Zivana sekilas, Lalu dia kembali fokus memainkan mobil-mobilan miliknya.


"Zie, nanti Rayan tidur sama siapa?" tanya Alvin.


"Sama kita, Mas. Memangnya sama siapa lagi?"


"Kenapa tidak sama Bibi saja?" tanya Alvin sambil menatap Bi Salma yang tak jauh dari mereka.


"Kasihan Bibi, sudah kerja seharian masih harus mengurus Rayan." ucap Zivana


"Tapi bagaimana dengan Mas?"


"Maksudnya?" Zivana tidak mengerti dengan maksud perkataan suaminya.


Alvin membisikan sesuatu ke telinga istrinya.


"Mas lupa yah, Mas Alvin kan sedang puass panjang."


"Astaga, Mas lupa." Alvin menepuk keningnya sendiri. Dia lupa jika dirinya harus berpuasa panjang karena istrinya sedang hamil.


°°°°

__ADS_1


__ADS_2