
Semakin lama kandungan Zivana semakin membesar. namun Zivana tetap pergi ke kantor untuk bekerja. padahal Alvin sudah melarangnya. bagi Zivana, asal dia tidak kecapean dan lagian dia hanya ke kantor setengah hari saja. akhirnya Alvin hanya menurut dengan Istrinya. asal Istrinya itu lebih berhati-hati lagi menjaga kandungannya.
Kebetulan juga kerja sama Arganta Group dengan beberapa perusahaan di New York sangat sukses besar. bahkan perusahaan Arganta Grup sudah membuat perusahaan Pak Alex jadi perusahaan nomor dua di New York. dan yang terkenal sebagai perusahaan canggih ternama, yaitu cabang satu-satunya Arganta Group yang berada di New York. karena inilah, Zivana tetap bekerja untuk Arganta Group. karena Alvin harus bolak-balik ke luar negeri untuk memantau cabang perusahaannya disana.
Pagi ini Alvin sedang bersiap untuk pergi. Zivana yang baru keluar dari kamar mandi langsung menghampiri suaminya.
"Mas, bisakah kamu tidak pergi? rasanya aku berat untuk berpisah denganmu," Zivana mendekati suaminya dan berdiri di sampingnya.
"Mas hanya pergi sebentar kok, lagian besok pagi juga sudah pulang demi kamu dan anak kita," kata Alvin sambil mengusap perut buncit Istrinya.
"Tapi aku khawatir Mas," jujur saja Zivana masih sangat berat untuk melepas suaminya.
"Percaya sama Mas, pasti akan baik-baik saja," Alvin memeluk Istrinya sebentar lalu sekilas dia mencium kening Istrinya.
"Iya Mas, semoga Mas selalu baik-baik saja."
"Tapi ada syaratnya loh," kata Alvin sambil melepaskan pelukannya.
"Apa itu?" Zivana menatap suaminya menunggu apa yang akan di katakan oleh suaminya.
" Kamu jangan bawa Varo menginap disini selama Mas tidak ada."
"Astaga, Mas Alvin masih saja nih cemburu sama Varo."
"Cemburu dong, kalian begitu dekat. Mas takut nanti kamu akan jatuh cinta kepadanya."
"Tidak akan Mas, Alvaro itu saudara Zie loh."
"Mas percaya sama kamu," Alvin mengusap pipi Istrinya penuh rasa cinta.
"Biar Zie bantuin Mas Alvin berkemas."
"Baik sayang," jawab Alvin
__ADS_1
Kini Zivana mengambil pakaian yang ada di dalam lemari lalu memasukannya ke dalam koper. sedangkan Alvin diam-diam menghubungi Eza dan memintanya untuk menginap sementara disana menemani Zivana.
Setelah selesai berkemas, Zivana mengantar suaminya menuju ke depan rumah. Alvin menarik koper besarnya dan dia berjalan berdampingan bersama Istrinya hingga ke depan rumah.
"Hati-hati Mas," Zivana bersalaman dengan suaminya dan mencium punggung tangannya.
"Iya sayang," Alvin mengecup singkat kening dan Bibir Istrinya. setelah itu dia mengelus perut buncit Istrinya.
Zivana menatap kepergian suaminya hingga suaminya itu memasuki mobil. Alvin akan pergi ke bandara di antar oleh supir rumahnya.
Setelah kepergian Alvin, terlihat sebuah mobil hitam berhenti di depan gerbang rumahnya. Zivana masih di depan rumah dan melihat mobil itu. karena mobil itu mirip sekali dengan mobil ayahnya.
Zivana melihat dua orang memasuki gerbang rumahnya. dia sedikit mengerutkan keningnya karena yang datang ternyata bukan ayahnya. namun orang asing yang tidak dia kenal.
"Maaf, cari siapa yah?" Zivana bertanya kepada kedua orang itu.
Kedua orang di depan Zivana saling tatap.
"Ada ayah Nona di dalam mobil," ucap salah satu dari mereka.
"Kami body guard barunya, mari Nona ikut kami!" ucap lelaki yang berdiri persis di depan Zivana.
"Sebentar, saya tutup pintu dulu," Zivana membalikan badannya lalu menutup pintu rumah.
Zivana berjalan mengikuti kedua orang itu hingga di dekat mobil.
"Papah ak---" Zivana hendak bicara namun salah satu dari mereka membekap mulutnya dengan sapu tangan yang sudah di beri obat bius.
Zivana tak sadarkan diri. lalu dia dibawa masuk ke dalam mobil. mobil itu langsung pergi dari sana.
30 menit kemudian Eza datang. dia mengetuk pintu rumah Alvin. kebetulan Bi Salma yang membukakan pintu rumahnya.
"Maaf Bi, apa Kak Zivana ada?" tanya Eza
__ADS_1
"Tadi sih Neng Zie keluar rumah untuk mengantar Tuan Alvin namun belum kembali masuk ke dalam."
"Masa sih Bi? di luar tidak ada siapa-siapa loh." ucap Eza
"Coba Bibi cek lagi ke dalam, siapa tahu sudah di kamarnya."
"Aku ikut Bi," ucap Eza
"Ayo Den," ajak Bi Salma
Eza mengikuti Bi Salma ke kamar Zivana.
mereka tidak melihat Zivana disana.
"Apa Kak Zie ikut Kak Alvin yah," gumam Eza yang terlihat sedang menerka-nerka.
"Sepertinya tidak Den, Neng Zie tidak ikut?" ucap Bi Salma
"Coba deh aku telfon nomornya," Eza mengambil ponsel miliknya yang ada di dalam saku lalu dia menelfon nomor Zivana.
Eza mendengar suara ponsel Zivana dari dalam kamarnya.
"Kak Zie tidak bawa ponsel," ucap Eza dan langsung mematikan panggilan telfonnya.
"Bi, aku mau cari Kak Zie di sekeliling komplek yah, biar Bibi cari di dalam rumah."
"Baik Den," jawab Bi Salma
Eza mencari Zivana di sekeliling komplek perumahan itu. Bi Salma juga mencari di semua ruangan yang ada di rumah itu. namun keduanya tidak menemukan keberadaan Zivana. Eza mencoba untuk menghubungi Alvin, namun nomornya tidak aktif. lalu dia menghubungi nomor Ibunya, namun Ibunya mengatakan jika Zie tidak sedang ke rumah orang tuanya.
Sebenarnya dimana Kak Zie," batin Eza
Eza memilih untuk pergi ke kantor Arganta Group. dia akan mencari Zivana disana.
__ADS_1
°°°°