
Beberapa saat kemudian Rara sudah bangun dari tidurnya. dia segera memakai kembali jilbab instan yang dia taruh di atas kursi.
dia keluar dari kamar karena merasa sangat haus. ternyata disana ada Bu Susan yang sedang duduk di sofa dekat dispenser.
"Sudah bangun Ra "bu Susan berucap tanpa mengalihkan pandangannya dari ponsel miliknya.
"Eh iya bu, ibu mau minum apa biar Rara buatkan."tawar Rara
"Tidak Ra jangan repot-repot, saya hanya ingin bicara serius denganmu."Bu Susan sudah menatap ke arah Rara.
"Ah iya ibu mau bicara apa?"tanya Rara yang melihat ekspresi wajah bu Susan tampak serius.
"Kita bicarakan di kamarmu saja."Bu Susan tidak ingin jika ada orang yang mendengar pembicaraannya yang belum tentu benar itu.
Di dalam Kamar
"Ra, ibu mau kamu jujur sama ibu." Bu Susan menatap lekat manik mata Rara.
"Jujur mengenai apa bu?"tanya Rara yang memang belum mengerti maksud dari perkataan Bu Susan.
"Semuanya, semua tentang kehidupanmu atau masalalumu mungkin. ibu tidak mau kamu menutup-nutupi semuanya dari ibu apapun itu."Bu Susan berucap tanpa penolakan.
"Baiklah "Rara mencoba meyakinkan dirinya untuk berbicara mengenai masalah pribadinya kepada orang lain untuk pertama kalinya.
__ADS_1
Rara mulai menceritakan awal mula ke datangannya dari kampung bersama sang suami. hingga dia bekerja di luna florist dan di pecat karena di tuduh mencuri. kedekatannya dengan Rey yang dia anggap sebagai dewa penolong. hingga bertemunya dia dengan Bu Susan yang tak kalah baik dengan Rey. dan yang terakhir dia menceritakan tentang CEO Dirgantara Group yang ternyata adalah Juna suaminya yang selama ini dia anggap hanya sebatas tukang sayur.
Bu Susan tampak prihatin mendengar cerita Rara. sekaligus dia kaget mengetahui jika atasan yang selalu bersikap manis dan baik kepada semua karyawan tapi ternyata dia seorang lelaki yang tidak bertanggung jawab.
"Jadi apakah Pak Juna sudah tahu mengenai kehamilanmu Ra?" tanya Bu Susan
"Belum bu, Rara ingin menutupi ini semua dari mas Juna. percuma saja Rara bicara karena status pernikahan kita yang hanya sah di mata agama ini sudah tidak jelas lagi. Rara tidak ingin jika nantinya mas Juna malah mengambil anak ini dari Rara. Rara tidak mau kehilangan satu-satunya harta berharga yang Rara punya. "Rara sudah tidak bisa lagi menahan air matanya yang lolos begitu saja.
"Sabar Ra, akan datang waktunya untukmu meraih kebahagiaan. kamu lebih baik fokus ke anakmu dan jangan memikirkan hal-hal yang lain." Bu Susan berusaha menguatkan Rara.
"Iya bu, Rara akan berusaha tegar menjalani semua ini untuk kedepannya.
"Ya sudah kamu istirahat saja, saya mau keluar dulu sebentar nanti kesini lagi." Bu Susan segera berpamitan untuk pergi.
Bu Susan menemui suaminya yang berada di toko. dia mengajak suaminya untuk membicarakan perihal kehamilan Rara. setelah mereka mengobrol di cafe terdekat, mereka langsung pergi ke supermarket untuk membelikan beberapa cemilan untuk Rara termasuk susu ibu hamil. setelah merasa cukup, mereka segera pergi kembali ke mess yang di tempati oleh karyawannya.
"Waalaikum'salam bu" Rara menyambut ramah kedatangan bu susan dan suaminya.
"Belanjanya banyak banget bu, mau makan-makan nih kita kayaknya." ucap putri dengan pedenya.
"Iya ini tadi saya belanja banyak untuk kalian. " Bu Susan mengeluarkan barang belanjaannya dan membagi menjadi tiga.
"Loh kok ada susu ibu hamil bu?
__ADS_1
Ibu lagi hamil? " tanya Putri penasaran
"Ini untuk Rara "lalu Bu Susan langsung menatap ke arah Rara. " Jangan lupa kamu minum yah Ra, ibu sudah repot-repot belikan untukmu loh.
"Rara jadi tidak enak sama ibu, selama ini sudah sering merepotkan ibu." ucap Rara
"Jangan sungkan-sungkan Ra, lagian saya lihat kamu belum pernah meminum susu ibu hamil." ujar Bu Susan
"Saya belum sempat membelinya bu, lagian saya mengetahui kehamilanku juga dari dua hari yang lalu."jelas Rara
"Jadi kamu beneran hamil Ra?" Putri tampak kaget mendengar kenyataan itu. karena dia mengira Rara itu wanita single.
"Iya Put tapi ya seperti yang kamu lihat, aku dan suamiku tidak sedekat itu." Rara tersenyum getir mengingat nasib pernikahannya.
"Lah tadinya mau jodohkan kamu sama kakak Putri eh malah sudah menikah." Putri berekspresi merajuk
"Emang ini jaman Siti Nurbaya pakai jodoh-jodohkan segala." sahut Bu Susan menyela.
"Ya biar kaya di novel-novel yang Putri baca bu."
"Astaga Putri Putri, sudah 2021 masih percaya saja sama kisah novel."Bu Susan heran dengan Putri yang selalu membayangkan kisah-kisah novel dan mengaitkannya dengan dunia nyata.
"Suka-suka putri dong, Putri kan calon istri Presdir tampan." Sambil membayangkan tokoh lelaki tampan di novel yang dia baca.
__ADS_1
"His jangan di dengarkan Ra, dia memang begitu orangnya suka menghayal."Ucap Bu Susan sambil menatap ke arah Rara.
Rara hanya tersenyum mendengar perkataan bu Susan. lalu mereka melanjutkan lagi perdebatan mereka yang masih seputar novel.