Hanya Istri Siri

Hanya Istri Siri
Part_54


__ADS_3

Bu Farah melihat anaknya yang sedang berjalan sambil menggondang menantunya.


"Luna kenapa Jun?" tanya Bu Farah kepada anaknya.


"Luna kakinya sakit Mah." ucap Juna


"Ya sudah kamu bawa kekamar saja." ucap Bu Farah meminta anaknya untuk membawa menantunya kedalam kamar. padahal dia ingin bertanya kemana perginya menantunya itu. tapi sepertinya sekarang bukan waktu yang tepat untuknya bertanya.


Juna merebahkan istrinya di ranjang mereka.


"Aku duduk saja Mas" lalu Luna duduk dengan kakinya yang selonjoran.


"Biar Mas pijitin kamu yah sayang." ucap Juna lalu memijat kaki istrinya.


Kebetulan Luna mengebakan dress pendek. dan itu membuat Juna memijat kaki istrinya secara langsung. tangannya menempel ke kulit tanpa penghalang.


"Angkat dulu sayang kakinya." Juna menyuruh istrinya mengangkat sedikit kaki bagian kiri.


Juna mulai memijat kaki bagian bawah istrinya. saat dia memijat semakin ke atas, dia tidak sengaja melihat tanda merah di paha kaki istrinya sebelah dalam.


"Ini kenapa merah sayang?" Juna menyentuh tanda merah merekah itu.


Luna melihat tanda merah yang disentuh oleh suaminya. Luna langsung kaget dan dia mengingat percintaannya tadi dengan Devan.


Ahh sial Devan pakai ninggalin jejak." batin Luna dan dia masih mencari alasan untuk berbicara kepada suaminya.


"Em tadi itu kebentur" ucap Luna yang sudah sangat panik.


"Tapi kok ini seperti...." Juna tak mampu mengucapkan lagi perkataannya. dia tidak mau menuduh istrinya yang tidak-tidak.


"Ah tidak sayang, ya sudah biar Mas kompres yah." ucap Juna


"Tidak usah Mas" Luna menolak suaminya yang berniat untuk mengompres.

__ADS_1


"Ya sudah kalau begitu Mas tinggal keluar dulu ya sayang." Juna segera keluar dari kamarnya setelah berpamitan dengan istrinya.


Juna memikirkan tanda merah yang dia lihat tadi. dia mulai mencurigai istrinya. apalagi istrinya yang sering izin keluar. tapi dia harus bersikap biasa saja. dia tidak mau jika istrinya mengetahui jika dirinya menyimpan sebuah kecurigaan.


Bu Farah heran saat melihat anaknya berhalan menuruni tangga tapi dengan tatapan yang entah kemana. Bu Farah langsung menegurnya.


"Juna, kalau jalan jangan melamun." ucap Bu Farah yang sudah berjalan menghampiri tangga.


"Juna" Bu Farah berteriak memanggil anaknya yang terlihat melamun.


"Eh" Juna yang kaget sampai hampir terjatuh kebawah. untung saja dia segera berpegangan erat hingga tidak jadi terjatuh.


Juna memegangi dadanya, dia baru sadar jika dirinya sekarang sedang berjalan menuruni tangga. Bu Farah juga terlihat menunggu anaknya yang hendak berjalan turun. dia ikut kaget saat melihat anaknya yang hendak jatuh kebawah.


"Sayang kamu lagi mirin apa? kenapa jalannya tidak fokus?" tanya Bu Farah kepada anaknya.


"Tidak kok Mah, Juna hanya sedikit melamun saja tadi." ucap Juna lalu dia segera berjalan menghampiri ibunya yang sudah menunggunya dibawah.


"Ada masalah apa? tidak biasanya kamu melamun. apa kamu ada masalah dengan Luna?" Bu Farah bertanya kepada anaknya.


Bu Farah dan Juna sudah duduk bersantai diruang keluarga. Bu Farah yang sedang membaca majalah fashion tak sengaja menatap anaknya yang masih melamun.


dia merasa aneh melihat anaknya yang sejak tadi seperti memikirkan sesuatu.


Juna masih sibuk dengan pikirannya. dia memikirkan Luna istri yang dicintainya.


Sebenarnya apa tanda itu? kenapa terlihat seperti bekas ke*cu*pan? rasanya aku sudah lama tidak melakukannya dengan Luna." batin Juna yang masih memikirkan tanda merah dipaha istrinya.


"Sudahlah sayang jangan melamun terus. kalau kamu ada masalah, kamu bisa cerita sama Mamah." ucap Bu Farah membuyarkan lamunan anaknya.


"Eh tidak kok Mah, aku tidak melamun."


"Kalau bukan melamun, terus tadi kamu diam saja seperti itu namanya apa?" tanya Bu Farah kepada anaknya.

__ADS_1


"Aku lagi pusing mikirin pekerjaan saja Mah." ucap Juna


"Sudah dong sayang, ini sudah dirumah loh, jadi lupakan pekerjaan sejenak."


"Iya mah"ucap Juna menjawab perkataan ibunya.


Bu Farah kembali membaca majalahnya sedangkan Juna izin keluar rumah untuk mencari udara segar disore hari.


°°°°


Putri menghampiri Rara yang sedang memakaikan baju kepada anaknya. karena Baby Zie baru saja selesai mandi.


"Rara" ucap Putri memangil namanya.


"Ada apa Put?" tanya Rara saat melihat Putri yang sudah duduk di sebelahnya.


"Apa kamu akan tetap menyembunyikan kebenaran Baby Zie dari ayahnya?" tanya Putri


"Sepertinya itu lebih baik Put, lagian aku tidak mau jika Mas Juna tahu jika Baby Zie anaknya. bisa saja dia mengambil Baby Zie dariku. dan aku tidak mau semua itu terjadi Put."


"Kok seperti itu Ra?" tanya Putri


"Karena memang awalnya Mas Juna hanya mempermainkan aku. jadi aku takut jika nanti dia juga mengambil satu-satunya harta terindahku." ucap Rara sambil menatap Baby Zie.


"Tapi kasihan Ra kamu kerja banting tulang sendirian." ucap Putri tak tega


"Sudah biasa Put, sejak pertama kali menikah juga aku kerja banting tulang untuk mencukupi kebutuhanku. aku yakin kok jika aku bisa." ucap Rara


"Baiklah Ra, tapi jika ayah Baby Zie suatu saat mengetahui jika Baby Zie anaknya, apa yang akan kamu lakukan Ra?" tanyanya lagi


"Entahlah, itu pikirkan saja nanti. sekarang pikirkan saja untuk masa sekarang."


Setelah bertanya seperti itu, Putri kembali keluar dari kamar Rara.

__ADS_1


°°°°


__ADS_2