Hanya Istri Siri

Hanya Istri Siri
S2_Episode 69


__ADS_3

Zivana baru pulang dari rumah orang tuanya. Dia melihat suaminya yang sedang duduk sendirian di ruang keluarga.


"Sayang, kamu habis ngapain ke rumah orang tuamu? Kok tidak bilang ke Mas sih, kan tadi Mas dari kantor bisa langsung pergi ke sana," ucap Alvin kepada Istrinya.


Zivana menghampiri suaminya. Dia duduk di depan suaminya.


"Maaf Mas, Zie lupa untuk mengabari Mas Alvin. Tadi Zie di telfon Papah dan di suruh untuk menjemput Eza di mess."


"Memangnya kenapa?"


"Eza di suruh pulang sama Papah.


Papah sudah tahu jika Eza diam-diam sering menemui Sela. Zie heran deh, kok bisa yah Sela pergi dari Vila dan sekarang tinggal di Apartemen mewah." Zivana tampak bergelut dengan pikirannya.


Alvin mendadak diam, dia takut Istrinya tahu jika Sela tinggal di Apartemen miliknya. Bahkan Apartemen itu masih baru. Alvin sengaja beli Apartemen itu secara diam-diam. Bukan untuk Sela, namun dia hanya meminjamkannya sebentar.


Zivana menatap suaminya yang sedang diam.


"Mas, kok kamu diam saja sih? Apa kamu tahu sesuatu?"


"Tidak, Mas tidak tahu."


Maaf sayang, sampai detik ini aku masih harus berbohong. Aku tidak mau kamu marah.' batin Alvin


"Mas, ke kamar yuk, aku mau mandi nih."


Alvin terlihat senang saat Istrinya mengajaknya ke kamar. Apalagi Zivana mengatakan jika dia akan mandi.


"Ayo, Mas selalu siap," kata Alvin sambil tersenyum menatap Istrinya.


"Kenapa Mas Alvin senyum-senyum seperti itu?"


"Kamu mau mengajak Mas mandi bareng kan?"


"Ih ngaco, Zie hanya meminta Mas Alvin untuk mengantar Zie. Lagian Mas Alvin sudah mandi loh," Zivana menatap suaminya yang sudah memakai pakaian santai.


"Bisa mandi lagi, sayang."


"Ih tidak mau, nanti malah jadi lama di kamar mandi kalau Mas Alvin ikutan mandi," Zivana beranjak dari duduknya. Lalu dia melangkah menuju ke kamarnya.


Alvin mengikuti Istrinya yang sudah melangkah duluan.


Zivana sudah berada di kamar. Dia langsung masuk ke kamar mandi. Dia bersenandung sambil melepaskan pakaian yang melekat di badannya.


"Ah, geli" Zivana menatap ke bawah karena merasa ada yang mengusap kakinya.

__ADS_1


Ternyata Alvin sedang berjongkok di bawah sambil melancarkan aksinya.


"Ih, Mas Alvin ngapain disitu?"


Alvin langsung berdiri. Zivana menutupi bagian sensitivnya yang terlihat.


"Ngapain kamu tutupin? Lagian Mas sudah sering melihatnya."


"Mas Alvin kapan sih masuk kesini? Kok Zie tidak tahu," Zivana bertanya kepada suaminya.


"Tadi, kamu sih asyik nyanyi-nyanyi sendiri."


"Terus ngapain masih disini? Cepat keluar!"


"Ayolah sayang, sebentar saja," Alvin memohon dengan tatapan memelas.


"Nanti malam saja," kata Zivana


"Berarti sekarang tidak?"


"Tidak ada jatah untuk sekarang, lagian sudah menjelang malam. Tidak baik kalau lama-lama di kamar mandi."


"Baiklah, Mas keluar dulu," Alvin melangkah keluar dari kamar mandi.


°°°


°°°


Sela mencoba menghubungi nomor Eza. namun nomornya tidak aktif. Sudah beberapa hari ini Eza tidak datang. Bahkan Eza tidak memberikan kabar.


Lina mengampiri Sela yang terlihat lesu.


"Non Sela kenapa?"


"Eza tidak ada kabarnya sampai sekarang," ucap Sela


"Mungkin Kak Eza sedang sibuk," Lina mencoba menenangkan Sela agar tidak terlalu kepikiran. Karena tidak baik jika dia terlalu banyak pikiran. Apalagi kondisi penyakitnya yang sudah semakin parah.


"Mungkin saja," ucap Sela dengan sedikit lesu. "Lebih baik aku menghubungi Mamah saja," Sela mencari nomor ibunya lalu mengirimkan pesan.


Sela meminta tolong kepada Ibunya agar mencari tahu informasi keberadaan Eza. Karena tidak mungkin jika dia yang mencari tahu sendiri dengan kondisinya yang seperti ini.


"Aku mau ke kamar dulu," Sela beranjak dari duduknya. Namun tiba-tiba dia merasa sakit di kepalanya.


"Non Sela, Non sakit lagi?"

__ADS_1


"Iya Lin, kepalaku sakit sekali," ucap Sela sambil memegangi kepalanya.


"Non Sela, kita ke dokter dulu yah. Lagian Non Sela sudah telat satu minggu tidak ke dokter."


"Iya Lin, kamu pesankan taxi online yah," pinta Sela


"Baik Non," Lina membantu Sela untuk kembali duduk.


Tak lama, taxi online yang di pesan Lina sudah datang. Lina menyuruh Pak supir untuk membantunya memapah Sela. Keduanya melangkah menuju ke Apartemen. Lalu mereka membantu memapah Sela hingga sampai di mobil.


Kini Pak supir segera mengemudikan mobilnya menuju ke rumah sakit yang biasa Sela datangi.


Sesampainya di rumah sakit, Pak supir juga mengantar Sela sampai ke dalam. Karena melihat Sela yang kesakitan seperti itu jadi merasa kasihan. Apalagi melihat Sela sedang hamil besar dan badannya sangat kurus.


Lina berterima kasih kepada Pak supir karena sudah membantunya.


Saat ini Sela langsung di bawa ke ruang UGD. Lina menunggu di luar, dia begitu khawatir dengan keadaan Sela.


Lina sedikit gelisah, dia ingin sekali menghubungi Bu Luna dan Eza. Namun jika Sela tahu pasti akan melarangnya.


Terlihat pintu ruangan terbuka. Pak Dokter menghampiri Lina yang sedang duduk di kursi tunggu.


"Permisi, dengan keluarga pasien?"


"Saya pembantunya Dok, bagaimana keadaan Nona Sela?"


"Maaf Nona, tapi untuk saat ini Ibu Sela benar-benar kritis. Dan harus melakukan operasi persalinan. Karena jika tidak di operasi sekarang, takut janinnya tidak bisa di selamatkan. Bahkan keduanya bisa saja tidak selamat."


Lina tampak terkejut mendengar penuturan dari Dokter.


"Lakukan saja yang terbaik, Dok!" ucap Lina


"Tapi harus ada pihak keluarga yang menandatangi persetujuan operasi," ucap Dokter


"Saya mau menghubungi orang tuanya dulu, kata Lina


"Baiklah, saya permisi dulu." Dokter yang menangani Sela pergi dari hadapan Lina.


Lina mengambil ponselnya lalu menghubungi Bu Luna. Dia menceritakan semuanya termasuk penyakit yang di derita oleh Sela. Lina juga meminta agar Bu Luna segera datang. Karena pihak rumah sakit butuh persetujuannya, agar Sela bisa langsung di tangani.


Mendengar kabar itu, tentu saja Bu Luna sangat sedih. Dia berpikir jika sudah menjadi Ibu yang bodoh. Ibu yang tidak bisa menemani anaknya di saat anaknya sedang sakit keras.


Bu Luna buru-buru ke rumah sakit karena begitu mengkhawatirkan anak dan cucunya.


°°°

__ADS_1


__ADS_2