
Saat ini Eza dan Lina sudah sampai di rumah sakit. Sedangkan Pak Juna dan Bu Rara masih di perjalanan. Karena mereka pergi dengan mengendarai mobil yang berbeda.
Bu Luna melihat Eza yang sudah sampai disana.
"Bu, dimana Sela? Bagaimana keadaannya?" tanya Eza
"Sela masih di dalam sedang di tangani oleh Dokter. Kita doakan saja yang terbaik, semoga keduanya selamat."
"Amin, seandainya Eza tahu jika Sela sedang sakit, mungkin Eza bisa lebih tegas sama orang tua Eza. Eza kasihan melihat Sela berjuang sendirian."
"Sudahlah, Nak. Semuanya sudah terjadi. Bukan hanya kamu yang menyesal, tapi Ibu juga menyesal. Sela begitu pintar menyimpan penyakitnya. Bahkan Ibu sampai tidak tahu kalau rambut di kepalanya juga sudah rontok."
Eza merasa sedih sekaligus merasa bersalah karena dia tidak selalu di samping Sela.
Apa mungkin Sela memintaku untuk cepat-cepat menikahinya agar dia punya seorang pendamping di saat-saat dia sakit. Tapi apa? Aku tidak sedikitpun memberikannya perhatian. Aku hanya menemuinya karena ingin bertanggung jawab atas anak yang sedang di kandung olehnya.' batin Eza
Tak lama, Pak Juna dan Bu Rara sudah sampai disana. Mereka juga sudah memberitahu Zivana dan Alvin mengenai kondisi Sela saat ini.
"Luna, yang sabar yah. Sela dan anaknya pasti baik-baik saja," ucap Pak Juna
"Iya, semoga saja keduanya baik-baik saja," ucap Bu Luna sambil memaksakan diri untuk tersenyum. Padahal saat ini pikirannya sedang tak karuan.
Pak Juna dan Bu Rara duduk di kursi tunggu. Eza masih berdiri di depan ruang operasi. Perasaannya saat ini sangat gelisah.
Tak lama pintu ruangan itu terbuka. Terlihat seorang Dokter keluar dan menghampiri Bu Luna.
"Dok, Bagaimana operasinya? Apa anak dan cucu saya baik-baik saja?" tanya Bu Luna
"Alhamduliah semuanya lancar, cucu Ibu lahir dengan selamat. Dan Bu Sela masih belum sadarkan diri. Kita tunggu saja sampai siuman."
"Syukurlah, saya senang mendengarnya. Apa kita boleh menemuinya?"
"Nanti dulu, Bu. Bu Sela akan kami pindahkan ke ruang perawatan. sedangkan anaknya akan di pindahkan ke ruang bayi."
"Baik, Dok." jawab Bu Luna
Setelah mengatakan itu, Dokter yang menangani Sela kembali ke dalam dan kembali menutup pintu ruangan.
Pintu ruangan itu kembali terbuka. Beberapa perawat mendorong brankar pasien dimana Sela berbaring. Kebetulan Sela tidak memakai apa pun untuk menutup kepalanya. Bu Luna dan yang lainnya yang melihat itu terlihat sedih. Pak Juna dan Bu Rara juga tersentuh dan merasa prihatin melihat keadaan Sela.
Mereka mengikuti kemana Sela akan di pindahkan. Sedangkan Eza dan Bu Luna mengikuti perawat yang membawa bayi mungil yang baru di lahirkan oleh Sela ke ruang bayi.
Bu Rara hendak masuk ke ruangan Sela, namun dia mendengar ponselnya berdering.
"Sebentar, Pah! Mamah mau angkat telfon dulu," ucap Bu Rara menghentikan langkah suaminya.
"Kalau begitu Papah juga nanti saja," Pak Juna yang sudah ada di depan pintu, kembali menghampiri Istrinya yang sedang mengangkat telfon.
__ADS_1
Ternyata yang menelfon itu Zivana. Dia sudah ada di depan, namun dia tidak tahu dimana letak ruangan yang di tempati oleh Sela. Jadi dia menelfon ibunya.
"Siapa yang menelfon, Mah?" tanya Pak Juna.
"Zie, dia sudah di depan."
Bu Rara kembali memasukan ponselnya ke tas miliknya. Lalu dia dan suaminya masuk ke ruangan di depannya untuk melihat keadaan Sela.
°°°
Sela sudah siuman, dia melihat ada banyak orang di ruangannya.
"Mah," ucap Sela dengan suara lemahnya.
Bu Luna beranjak dari duduknya lalu menghampiri Sela. Begitu juga dengan yang lainnya.
Sela meraba kepalanya, ternyata dia sudah tidak memakai rambut palsu sebagai penutup kepalanya.
"Mah, dimana rambutku?"
"Ini Non," Lina mengambil wig yang tergeletak di atas meja kecil dekat ranjang pasien.
Lina membantu memakaikan wig itu di kepala Sela.
"Mah, dimana anakku?"
"Ada, sayang. Anak kamu masih di ruangan bayi."
"Nanti yah, Nak. Sekarang kamu istirahat dulu," ucap Bu Luna
"Maunya sekarang, Mah." kata Sela yang ingin segera melihat anaknya yang baru dia lahirkan.
"Nanti Mamah bicara sama Dokter dulu," ucap Bu Sela.
Bu Luna berlalu pergi keluar dari ruangan itu untuk menemui Dokter.
Kini Bu Luna dan Dokter sudah kembali bersama satu orang perawat. Perawat itu akan menemani Sela ke ruang bayi.
Sela disuruh duduk di kursi roda. Lalu dia di temani oleh Bu Sela dan perawat itu ke ruangan bayi. Ternyata Eza dan yang lainnya juga mengikuti Sela.
Sela melihat putri mungilnya yang begitu cantik. Dia meraba di balik inkubator tempat anaknya berada. Sela menatap perawat yang berdiri di sampingnya.
"Sus, apa boleh saya menggendong anak saya?" tanya Sela
"Sebentar, Bu!" Perawat itu mengambil bayi yang ada di dalam equbator lalu memberikannya kepada Sela.
"Tapi jangan lama-lama, Bu. Karena anaknya harus di hangatkan lagi."
__ADS_1
"Baik, Sus." jawab Sela
Sela menatap anaknya lalu menciuminya. Dia begitu senang karena di beri kesempatan untuk melahirkan seorang anak.
"Mah," Sela menatap Ibunya yang sedang berdiri di samping kanannya.
"Iya Nak," Bu Luna menatap anaknya yang terlihat bahagia dengan menggendong putri kecilnya.
"Nanti anak ini Sela kasih nama Alana calista."
"Nama yang cantik, Nak." ucap Bu Luna
Sela menatap Eza yang ada di belakangnya.
"Mas Eza, nanti bantu Sela menjaga anak ini yah," ucap Sela sambil memperlihatkan senyumannya.
"Iya, aku akan selalu menjaga anak kita," ucap Eza
"Boleh aku minta peluk?"
"Boleh," Eza mendekati Sela lalu memeluknya.
Sela menatap Bu Luna yang masih berdiri di tempatnya.
"Mamah juga ikut peluk yah," pinta Sela
"Iya, Nak." Bu Luna sedikit berbungkuk dan memeluk Sela.
Kini Sela berada di pelukan orang-orang yang dia sayang. Eza dan Bu Luna melepaskan pelukannya. Namun mereka melihat Sela yang masih memeluk anaknya. Cukup lama Sela berada di posisi itu.
"Sel, sudah dong peluk anaknya, kasihan dia."ucap Bu Luna
"Sel," Eza juga memanggil Sela.
Eza kembali berbungkuk lalu menatap Sela. Ternyata Sela memejamkan kedua matanya.
"Bu, dia pingsan?" tanya Eza
Bu Luna melihat Sela lalu dia memegang denyut nadinya.
"Sus, kok denyut nadinya tidak ada?" Bu Luna merasa panik.
Perawat wanita itu mendekati Sela lalu mengecek denyut nadinya. Dan juga menaruh tangannya di hidung Sela.
"Sepertinya Ibu Sela sudah meninggal," ucapnya
Bu Luna dan yang lainnya menangis karena tak menyangka Sela akan meninggalkan dunia ini begitu cepat. Perawat itu mengambil anak yang ada di gendongan Sela lalu menaruhnya lagi di inkubator. Namun bayi itu menangis, mungkin ikatan batinnya kuat dengan Ibunya. Jadi bisa merasakan juga kesedihan yang di rasakan oleh keluarganya. Eza tetap di ruangan bayi untuk menemani anaknya. Sedangkan yang lainnya keluar dari ruangan itu.
__ADS_1
Sela dibawa ke ruang jenazah. Bu Luna melihat anaknya yang sudah terbaring tanpa beban. Beban sakit yang dia rasakan selama ini sudah sirna. Namun Bu Luna sedih karena tidak ada di saat-saat terakhir anaknya.
°°°