Hanya Istri Siri

Hanya Istri Siri
S2_Episode 85


__ADS_3

Hari ini merupakan hari yang paling penting untuk keluarga Dirgantara. Farizki dan Eza hari ini akan di wisuda. Karena kampus mereka berbeda, Pak Juna hanya menghadiri acara wisuda salah satu dari mereka. Pak Juna dan Istrinya akan datang ke kampus Farizki. Sedangkan Alvin dan Zivana akan datang ke kampus Eza.


Alvin dan Zivana sudah datang ke kampus untuk menemani Eza. Mereka duduk di kursi yang telah di sediakan.


Rangkaian demi rangkain acara telah mereka saksikan. Saat ini ada acara hiburan yang akan di isi oleh Mahasiswa/ Mahasiswi perwakilan kampus.


Alvin dan Rara melihat Eza dan teman Bandnya naik ke atas panggung.


"Sayang, lihat tuh adik kamu. Kayaknya bakat jadi artis." ucap Alvin


"Jangan deh, mending jadi pegawai kantoran saja. Masa jadi artis sih, nanti malah gosip sana-sini."


Terlihat Eza menyanyikan sebuah lagu yang mampu menghipnotis semua orang yang menyaksikan. Eza begitu pintar membuat mereka menangis saat mendengarkan lagu melow yang di bawakan olehnya.


"Mas kamu kenapa?" Zivana melihat suaminya yang sedang mengusap sudut matanya.


"Mas terharu mendengar suara Eza. Dia seperti menghipnotis dengan suaranya."


"Astaga, kirain kenapa."


"Memangnya kamu tidak sedih?" tanya Alvin sambil menatap istrinya yang duduk di sebelahnya.


"Tidak, aku tidak suka lagu melow kaya gitu." jawab Zivana


Terdengar tepuk tangan yang begitu meriah saat Eza sudah menyelesaikan lagunya. Eza dan teman-temannya kembali turun dari atas panggung.


Kini acara wisuda telah selesai. Eza menghampiri Kakaknya yang menunggunya di depan aula.


"Kak," ucap Eza sambil melangkah mendekati Alvin dan Zivana.


"Wah, selamat bro, niatnya mau kerja dimana nih? atau mau lanjut S2 mungkin?" tanya Alvin sambil memeluk Eza.


"Niatnya sih ingin buka bengkel," kata Eza.


"Astaga, jangan malu-maluin dong, Za. Anak seorang pengusaha terkenal masa jadi montir."

__ADS_1


"Apa salahnya Kak? Lagian Eza juga maunya ambil jurusan otomotif, tapi Papah saja yang maksa ambil jurusan bisnis." ucap Eza


"Sudahlah, sayang. Kita turuti saja kemauan dia. Nanti kalau dia cape, pasti nyerah juga jadi montir," ucap Alvin.


"Terserah deh, lebih baik sekarang kita foto-foto dulu." ajak Zivana


Mereka bertiga mengambil beberapa foto sebagai kenang-kenangan. Setelah selesai berfoto, mereka langsung pergi. Karena keluarganya sudah menunggu untuk makan bersama sebagai perayaan wisuda Eza dan Farizki.


Saat ini mereka sudah sampai di sebuah restoran mewah. Mereka melangkah masuk ke restoran dan menuju ke ruangan khusus yang sudah di pesan oleh Pak Juna. Ternyata Pak Juna dan yang lainnya sudah ada di sana.


"Wah, kalian sudah datang. Sebaiknya kita ambil foto bersama-sama dulu sebelum makanan yang di pesan datang." ucap Pak Juna


"Oke, Pah." jawab Eza


Eza, Alvin, dan Zivana mendekat dengan keluarganya lalu mengambil beberapa foto.


Setelah selesai mengambil foto, kini mereka kembali membenarkan posisi duduknya.


Pak Juna melihat Eza yang duduk di depannya.


"Lancar, Pah." jawab Eza


"Syukurlah, oh iya adik kamu mau lanjut S2 loh. Kalau kamu, apa yang kamu rencanakan?" tanya Pak Juna


"Mau buka bengkel, Pah."


"Astaga, kalau buka bengkel mah bukan anak sekolah juga bisa. Ngapain coba kalau sekolah tinggi ujung-ujungnya hanya jadi montir." ucap Pak Juna


"Pah, biarkan saja. Ada Mas Alvin yang bertanggung jawab. Kalau Eza malah gulung tikar, nanti Mas Alvin yang akan mengurus Eza." ucap Zivana yang tak mau jika ayahnya memarahi Eza di momen kebahagiaan mereka.


Zivana menatap suaminya sambil mengedip-ngedipkan matanya. Alvin hanya tersenyum, dia tahu apa yang harus di lakukan.


"Benar, Pah. Alvin siap membimbing Eza jika nantinya dia ingin bekerja di perusahaan." ucap Eza


"Baiklah, ini akan menjadi tugas kalian," ucap Pak Juna sambil menatap Alvin dan Zivana secara bergantian.

__ADS_1


Aku yakin jika aku bisa sukses dengan niat membuka bengkel,' batin Eza.


Tak lama, makanan yang di pesan oleh Pak Juna sudah datang. Mereka memulai untuk makan bersama.


Setelah selesai makan bersama, mereka langsung pulang. Namun Eza terlebih dahulu pergi ke rumah Bu Luna untuk menemui anaknya.


Eza menghentikan motornya di depan toko mainan. Dia masuk ke toko untuk membeli boneka untuk anaknya. Setelah membayar, dia kembali pergi.


Kini Eza sudah sampai di depan rumah Bu luna. Dia mengetuk pintu rumah itu. Ternyata yang membukakan pintunya itu Lina.


"Silahkan masuk, Kak." ucap Lina


"Terima kasih, Lin." ucap Eza.


"Sama-sama," jawab Lina.


Eza menghampiri Bu Luna yang sedang bersama Alana.


"Hallo anak Papah, nih Papah bawa hadiah loh untuk Alana." ucap Eza sambil membuka boneka yang di bungkus dengan plastik putih.


"Makasih, Za. Tidak usah repot-repot, Za." ucap Bu Luna


"Eza sama sekali tidak merasa di repotkan kok, Bu."


"Oh iya Za, kebetulan Ibu mau pergi arisan nih. Boleh tidak kalau Ibu minta tolong kamu untuk jagain Alana." pinta Bu Luna


"Baik, Bu. Ibu kalau mau pergi, pergi saja tidak apa-apa kok." ucap Eza


Bu Luna pergi dari hadapan Eza. Niatnya akan berganti pakaian dulu sebelum pergi.


Saat di depan kamar, Bu Luna kembali menatap ke belakang.


Eza terlihat sangat menyayanyi Alana. Begitu juga dengan Lina, pasti Sela juga akan senang jika melihat Eza bersatu dengan Lina. Apalagi Lina sudah mengurus Alana sejak baru lahir.' batin Bu Luna sambil membuka pintu kamarnya.


°°°°

__ADS_1


__ADS_2