Hanya Istri Siri

Hanya Istri Siri
S2_Episode 40


__ADS_3

Pagi ini suasana hati Zivana cukup baik. beda dengan Alvin yang sedikit lemas karena semalam tidak bisa bermesraan dengan Zivana karena Istrinya itu ketiduran.


Kini keduanya bersiap untuk pergi ke beberapa perusahaan. karena kebetulan sudah membuat janji temu lewat online.


Alvin melihat Istrinya yang sedang bercermin sambil merapihkan rambutnya.


"Sudah belum sayang?" Alvin bertanya kepada Istrinya.


"Sayang?" Zivana menatap lekat wajah suaminya. tidak biasa suaminya memanggilnya sayang.


"Memangnya tidak boleh kalau aku memanggil sayang?"


"Boleh saja sih," Zivana menyambar tas slempang miliknya yang tergeletak di atas sofa.


Zivana menghampiri Alvin yang sedang berdiri di dekat ranjang.


"Ayo!" Zivana mengajak suaminya langsung pergi.


Kini keduanya keluar dari kamar. mereka berjalan berdampingan. sesekali Zivana menyingkirkan tangan suaminya yang memeluk pinggangnya.


"Kenapa di lepasin?"


"Malu Mas, di lihatin orang tuh," Zivana menatap beberapa bule yang sedang menatapnya.


"Abaikan saja, lagian kita ini suami istri."


"Tapi aku tidak mau hm."


"Baiklah," Alvin tak lagi merengkuh pinggang Istrinya.


Keduanya memasuki lift menuju ke lantai paling bawah. kebetulan supir dan kendaraan yang mereka sewa sudah menunggu mereka di depan hotel.


Keduanya masuk ke dalam mobil. mereka akan pergi ke kantor yang paling terdekat dari hotel itu. hingga saat ini mobil yang mereka naiki sudah sampai di depan bangunan perkantoran yang terlihat sangat mewah. Alvin meminta supir sewaannya untuk menunggu. karena nanti juga akan pergi ke beberapa perusahaan lainnya.


°°°


Berkat kepintaran Zivana dalam hal bicara, serta wawasan yang dia punya, Zivana mampu membuat kagum semua CEO dari perusahaan yang dia kunjungi. bahkan mereka tertarik untuk bekerja sama dengan Arganta Group.


Keduanya kembali ke hotel dengan perasaan bahagia. sebenarnya Arganta Group tidak berniat mencari rekan kerja baru karena memang sudah sukses. namun demi kepentingan pribadi, Alvin berniat bekerja sama dengan perusahaan sukses yang ada di New York.


"Ah lelahnya," Zivana merebahkan dirinya di atas ranjang.


"Bumil yang satu ini hebat sekali," Alvin melangkah mendekati Istrinya. lalu dia mendudukan dirinya di pinggir ranjang.

__ADS_1


"Hebat dong, siapa dulu, Zivana gitu loh."


"Iya deh iya Mas akui kalau kamu hebat. Mas saja sampai kalah."


"Besok-besok CEO Arganta Group di ganti aku saja," ucap Zivana sambil menatap wajah suaminya.


"Oh jangan, nanti malah suaminya tidak terurus."


"Tidak terurus atau takut kalah saing," Zivana mencoba untuk meledek suaminya.


"Kamu apaan sih," Alvin menyondongkan tubuhnya sehingga kini tubuhnya ada di atas Zivana. namun badan Alvin tidak menempel karena dia menahan tubuhnya dengan tangan agar tidak mengenai perut Istrinya.


"Mas, cepat turun!" Zivana merasa tak nyaman berada di posisi seperti itu.


"Kalau aku tidak mau, kamu mau apa?"


"Cepat turun ih, aku capek mau istirahat."


"Baiklah Istriku yang cantik," Alvin kembali duduk di pinggiran ranjang.


Alvin membuka jas yang dia pakai karena merasa gerah.


"Ganti bajunya jangan disini, di dekat sofa saja," pinta Zivana


"Malu lihatnya," ucap Zivana


"Dasar malu-malu tapi mau."


"Ih apaan sih," Zivana membalikan tubuhnya sehingga dia tidak melihat Alvin.


Alvin sudah selesai berganti pakaian. lalu dia menghampiri Istrinya dan kembali duduk di pinggiran ranjang.


"Sayang, kita mau langsung pulang atau liburan dulu? enaknya liburan dulu deh sekalian kita honeymoon."


"Boleh juga sih kita liburan."


"Yes," Alvin terlihat senang jika Istrinya menyetujui untuk liburan.


"Seneng gitu?"


"Seneng dong, itu berarti kita bisa ekhm ekeh di kamar."


"Tidak mau, kasihan debaynya."

__ADS_1


"Palingan Mamahnya yang tidak mau, bukan debaynya." ucap Alvin


Zivana hanya tersenyum menatap suaminya.


°°°


Hari ketiga di New York, Zivana dan Alvin mengunjungi beberapa tempat wisata. sebenarnya masih banyak tempat lain yang ingin Zivana kunjungi. namun Alvin melarangnya karena khawatir dengan kondisi kandungan Istrinya.


Kini keduanya sedang berada di sebuah cafe sambil menikmati minuman hangat yang mereka pesan.


"Habis ini kita pulang yah sayang," Alvin menatap Istrinya yang sedang duduk di depannya.


"Beli oleh-oleh dulu untuk keluarga di rumah."


"Baiklah, setelah ini kita langsung berbelanja," Alvin menuruti permintaan Istrinya.


Lima belas menit kemudian, Alvin dan Zivana keluar dari cafe. keduanya pergi ke toko tas dan sepatu dengan merk ternama di seluruh dunia.


Alvin hanya mengekor Istrinya yang sedang memilih tas yang akan dia beli.


"Sayang, kamu cari yang seperti apa sih?"


"Ini Mas, cari tas yang cocok untuk Mamah," Zivana masih melihat-lihat deretan tas mahal yang di pajang di stand.


"Bu Rara sepertinya cocok sama yang ini," Alvin mengambil satu tas mewah namun terlihat sederhana.


"Nah bagus juga pilihan Mas Alvin," Zivana mengambil tas yang sedang di pegang oleh Alvin.


Setelah mencari tas untuk Ibunya, Zivana juga mencari tas untuk dirinya. setelah dia dapat yang cocok, dia langsung membayarnya di kasir.


"Berapa semuanya Kak?" Zivana bertanya dengan berbahasa Inggris.


"800 juta"


Alvin langsung menyodorkan kartu black card miliknya untuk membayar tas yang di beli oleh Istrinya.


"Mas, aku punya uang sendiri kok," ucap Zivana


"Sudah, tidak masalah kok hanya 800 juta," jawab Alvin


Keduanya segera keluar dari toko itu lalu menuju ke toko sebelahnya. kebetulan sebelah toko tas itu toko sepatu. Zivana juga membelikan suaminya,ayahnya, adik-adiknya sepatu mahal. namun tetap saja, saat dia akan membayar, Alvin meminta untuk membayar semuanya.


°°°

__ADS_1


__ADS_2