
Farizki berkata kepada Ibunya, jika Eza pergi menemui Sela. Bu Rara tidak habis fikir dengan anaknya yang satu itu. Sudah di larang keras untuk berhubungan dengan Sela, tapi tetap saja menentangnya.
Bu Rara sengaja bangun tengah malam untuk menunggu anaknya pulang.
"Dari mana kamu?" Bu Rara melihat Eza yang dengan mudah membuka pintu rumahnya.
"Aku--" Eza terlihat memikirkan alasan yang tepat.
"Jawab!"
"Hanya cari angin, Mah." jawab Eza
Bu Rara melangkah mendekati Eza. Lalu mengambil kunci rumah yang di pegang oleh Eza.
"Oh, jadi kunci duplikat pintu depan di pegang kamu. Pantas saja bisa keluar masuk rumah dengan mudah."
"Hehe iya Mah, Kok Mamah belum tidur sih?" Eza balik bertanya untuk mengalihkan pembicaraan.
"Mamah lagi tanya ke kamu, tapi kamu malah balik nanya." sejenak, Bu Rara menghentikan perkataannya. "Mamah tahu kok jika kamu habis menemui Sela. Sebenarnya apa sih yang kamu pikirkan? kenapa kamu berurusan dengannya lagi?"
"Maaf, tapi Eza terpaksa melakukan itu semua." ucap Eza
"Apa maksudmu?"
"Sela hamil, dan itu anak aku." ucap Eza
Bu Rara terkejut mendengar penuturan anaknya.
"Apa itu benar?" Bu Rara memijat keningnya yang tak sakit.
"Iya, Mah."
"Apa sudah tes DNA?"
"Belum, katanya kalau usia kandungan masih muda jangan melakukan tes DNA karena bisa membahayakan janin."
"Lalu, kenapa kamu percaya begitu saja jika belum ada buktinya?"
"Karena saat Eza dan Sela melakukan itu, kebetulan kita berdua tidak ada yang pakai pengaman. Sela lupa meminum obat pencegah kehamilan."
"Kenapa kamu bertingkah bodoh seperti itu, Za? sudahlah, Mamah pusing kalau membicarakan ini sendirian. Besok saja kita bahas lagi sama keluarga." tanpa menunggu jawaban dari Eza, kini Bu Rara pergi begitu saja.
Huft
__ADS_1
Eza menghembuskan nafas kasarnya. Dia melangkah menuju ke kamar.
°°°
Pagi ini Bu Rara memgumpulkan semua keluarganya di ruang keluarga.
"Mah, Ngapain nyuruh kita kumpul?" tanya Pak Juna
"Ada yang ingin Mamah bicarakan, Pah. Sebenarnya semalam Mamah mau bicara sama Papah, tapi Papah di bangunin tidak bangun juga."
Semua yang ada disana menatap Bu Rara. Mereka menunggu untuk mendengarkan hal yang akan di katakan oleh Bu Rara. Sedangkan Eza terlihat menunduk takut.
"Selama ini Eza sering menyelinap keluar rumah untuk menemui Sela. Saat Mamah tanya alasannya, Eza bilang jika Sela sedang hamil anaknya." jelas Bu Rara
"Apa? Hamil?" Pak Juna terkejut mendengar perkataan Istrinya. "Astaga, memalukan sekali. Memangnya kamu sudah memastikam jika itu memang anak kamu?" kini Pak Juna menatap anaknya.
"Belum Pah, kandungannya masih sangat muda," ucap Eza
"Ngapain sih kamu pacaran pakai buka-bukaan segala? mending kalau sama yang masih PW, lah ini sama bekasan orang," sahut farizki ikut bicara.
"Kita harus memikirkan jalan keluarnya," ucap Bu Rara
"Tapi Papah tidak setuju jika harus menikahkan mereka." ucap Pak Juna
"Mamah juga tidak setuju, Pah."
"Kalau dia tidak setuju?" tanya Eza
"Kita paksa saja," jawab Farizki
"Papah juga setuju, tapi kalau memang dia berbohong dan ternyata anak itu bukan anakmu, kita kasih Sela pelajaran." ucap Pak Juna
"Apa Zie kita kasih tahu juga, Pah?" Bu Rara bertanya kepada suaminya.
"Silahkan, Mah."
Bu Rara mengambil ponsel miliknya yang tergeletak di atas meja. Lalu Bu Rara menghubungi Zivana.
°°
Alvin menatap Istrinya yang sedang membaca pesan. Namun raut wajah Zivana berubah.
"Sayang, kamu kenapa?"
__ADS_1
"Lihat sendiri!" Zivana memberikan ponsel yang sedang dia pegang kepada suaminya.
Alvin mengambil ponsel itu, dia juga terkejut saat membaca pesan yang di kirimkan oleh Bu Rara.
"Aku tidak habis fikir jika Sela bisa sebodoh itu," gumam Alvin
"Kok Sela sih? Eza loh," ucap Zivana
"Maksudnya Sela itu kan sudah berpengalaman. Masa iya dia bisa hamil karena ceroboh."
"Oh maksud kamu berpengalaman di ranjang?"
Alvin melihat Istrinya yang sedang menatapnya tajam.
"Eh maaf sayang, kamu jangan cemberut dong," Alvin memegang tangan kanan Istrinya lalu mengusapnya pelan.
"Mas Alvin paham sekali, malah jadi betah bahas Sela," Zivana memalingkan arah pandangnya.
"Sayang, Maafin Mas dong. Bukannya betah bahas Sela, tapi memang ini menyangkut Sela sama Eza. Masa cuma nama Eza saja yang boleh di sebut."
Zivana kembali menatap suaminya.
"Iya Mas, aku tidak marah kok. Hanya berpura-pura saja."
"Dasar," Alvin menggelitik pinggang Istrinya sehingga Istrinya tertawa.
"Hahaha.. Mas, berhenti!" Zivana menjauhkan diri dari Alvin.
Alvin berhenti menggelitik Istrinya. Namun dia malah memeluk Istrinya dari belakang.
"Mas, ini belum waktunya romantis-romantisan loh. Kita lagi bahas masalah Eza."
"Iya sayang, tenang saja. Lagian orang tua kamu pasti sudah memikirkan solusinya."
"Bukan dengan menikah kan?"
"Kalau itu sih Mas tidak yakin, lebih baik sekarang kita bersiap ke rumah orang tua kamu."
"Iya Mas, Tapi kita ajak Kak Desi atau tidak?"
"Tidak usah, sayang"
"Baiklah"
__ADS_1
Kini Zivana dan Alvin akan bersiap-siap karena akan pergi ke rumah orang tuanya.
°°°°