Hanya Istri Siri

Hanya Istri Siri
Part_37


__ADS_3

Sudah lima bulan pernikahan Juna dan Luna begitupun usia kandungan Rara sudah semakin membesar. Rara sangat sabar menjalani hari-harinya. apalagi keinginannya mengidam banyak yang tidak terpenuhi karena memang dia mengidam makanan yang mahal-mahal. sedangkan uang yang dia punya hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari saja karena setengah dari gaji yang dia dapat di tabung untuk biaya lahiran nanti.


"Ayo cepat Ra, taxi onlinenya sudah menunggu di depan." teriak Putri dari depan mess.


"Iya iya sabar dikit ngapa, kasihan nih sama ibu hamil." ucap Rara yang baru muncul dari balik pintu.


Putri berjalan dengan menggandeng Rara. mereka memasuki taxi online yang tadi di pesannya.


Taxi yang mereka naiki sudah sampai di Rumah Sakit. setelah membayar, mereka segera turun.


Setelah masuk ke Rumah Sakit, keduanya langsung menuju ke tempat biasa mereka menunggu antrian. setelah mengambil nomor antrian, Rara pamit kepada Putri untuk ke belakang sebentar.


Rara yang hendak keluar dari toilet melihat pasangan suami istri yang sedang berdiri di depan toilet yaitu Juna dan Luna.


Rara kembali masuk ke dalam karena tidak mau keduanya melihat keberadaannya.


Setelah Keduanya pergi, barulah Rara keluar dari tempat persembunyiannya.


"Ra kamu lama sekali sih,untung yang mengantri masih satu lagi." Putri menunjuk pasangan suami istri yang duduk tidak jauh dari mereka.


"Tenang saja Put jangan panik gitu dong. lagian aku sudah disini ini juga."


Kini saatnya Rara yang masuk untuk periksa kandungannya. alhamdulilah kandungannya sehat dan tidak ada kendala apapun. Rara sangat bersyukur walaupun saat-saat dia ngidam sering tidak terpenuhi tapi bayinya tetap kuat. dan dia harap setelah lahirpun anaknya nanti bisa di ajak hidup sederhana sepertinya.


"Ayo Ra kita pulang, eh tapi aku lapar sekali nih." Putri perutnya merasa keroncongan.

__ADS_1


"Ya sudah lebih baik kita makan di pinggir jalan depan RS ini." ajak Rara yang ingin mencicipi makanan yang di jual pedagang kaki lima di depan RS.


"Kenapa tidak di kantin saja?" tanya putri


"Ini keinginan dia" sambil mengelus perut buncitnya.


"Uluh uluh ponakan ateu lapar yah." Putri mengelus perut Rara sambil mengajaknya bicara.


"Iya ateu cantik, adek lapar sekali." ucap Rara menirukan ucapan anak kecil.


"Cup cup cup" Putri mencium perut Rara berkali-kali dari luar pakaian yang dikenakan Rara.


"His malu di lihatin orang Put."


Rara dan Putri menikmati mi ayam yang di pesannya. biarpun di pinggir jalan tapi rasanya tak kalah enak dengan mi ayam yang di jual di restoran mewah. hanya porsinya saja yang sedikit karena harganya juga terjangkau sekali. cocok untuk mereka kalangan bawah.


Juna dan Luna hendak meninggalkan Rumah Sakit. ada sedikit kekecewaan di hati luna karena dia belum hamil juga. dia tidak enak hati kepada Bu Farah yang sudah mendambakan seoarang cucu tapi dia belum juga hamil.


"Sabar sayang, kita bisa berusaha lagi kok. lagian kita juga baru nikah lima bulan. "Juna mencoba menguatkan Luna.


"Tapi bagaimana dengan mamah, aku sudah mengecewakan mamah."


"Tenang sayang, mamah juga akan mengerti kok." sambil membelai wajah istrinya.


"Ayo kita masuk sayang" Juna mengajak Luna untuk masuk ke dalam mobilnya karena mereka akan pulang.

__ADS_1


Juna yang mengemudikan mobilnya tak sengaja menoleh ke arah seberang jalan dan melihat seseorang yang di kenalnya.


Apa benar dia Rara, tapi kok seperti sedang hamil. ah mana mungkin itu Rara, mungkin hanya salah lihat saja." batin Juna karena akhir-akhir ini dia sering memimpikan Rara.


Juna juga sering memimpikan dia sedang menimang anak kecil. makannya pagi ini dia mengajak istrinya cek kehamilan. tapi nyatanya istrinya belum hamil juga.


Setibanya di rumah, mereka langsung di tanya berbagai pertanyaan oleh bu Farah.


"Bagaimana hasilnya? apa Luna beneran hamil?" tanya bu Farah


"Mamah sudah tidak sabar untuk menimang cucu." ucapnya lagi


"Bagaimana Juna, kenapa kalian terlihat lesu?" Bu Farah bertanya lagi.


"Maaf "Luna hanya bisa mengatakan kata itu kepada mertuanya.


Bu Farah sudah paham dengan perkataan Luna. dia langsung meninggalkan mereka berdua yang masih berada di ruang keluarga.


"Mamah... mah..." Juna berteriak memanggil Bu Farah yang sedang melangkah pergi namun Bu Farah sama sekali tidak menengok ke arah Juna.


"Sabar yah sayang, nanti aku akan coba bicara ke mamah." Juna mencoba memberi pengertian kepada istrinya.


"Tapi mas aku pusing kalau harus memikirkan keinginan ibumu itu. aku juga ingin hamil tapi kalau memang kita belum diberi kepercayaan, kita bisa apa." Luna berucap pasrah


"Sudah jangan pikirkan lagi, ayo lebih baik kita istirahat dulu." Juna mengajak Luna ke kamar mereka.

__ADS_1


__ADS_2