
Setelah kepergian Zivana dan Ibunya, kini Eza juga keluar dari ruangan itu. dia akan melihat Alvin di ruangan sebelah.
Cklek
Eza masuk ke dalam ruangan itu. dia melihat ada tiga orang yang ada di dalam ruangan itu. namun yang dia tahu hanya Bi Salma saja.
"Wah banyak orang ternyata, saya kira hanya Bibi saja disini," Eza melangkah mendekati mereka.
"Iya Den, ini juga Bibi mau pulang dulu," ucap Bi Salma
"Pulang saja Bi, Bibi tidak usah menginap di rumah sakit. besok saja kesini lagi. biar Eza yang jagain Kak alvin."
"Tidak usah! biar aku saja yang jagain," sahut Sela angkat bicara.
"Sel, lebih baik kita pulang saja," Bu Luna tidak mau anaknya menginap karena takutnya akan berselisih dengan Zivana dan keluarganya.
"Tidak mau Mah, Sela disini saja. lagian kita masih satu keluarga dengan Kak Alvin."
"Tidak apa-apa Tan, lagian ada saya disini. saya bisa memastikan anak Tante baik-baik saja."
"Baiklah," Bu Luna akhirnya menyetujui jika Sela menginap.
Bu Luna dan Bi Salma langsung pulang setelah berpamitan. Bu Luna menawarkan tumpangan kepada Bi Salma. kebetulan Bi Salma menolak, namun karena merasa tak enak, akhirnya Bi Salma menyetujui ajakan Bu Luna.
Eza duduk di sofa yang ada di ruangan itu. dia menatap Sela yang saat ini duduk di dekat ranjang.
Sepertinya wanita ini menyukai Kak Alvin. oh tidak bisa, jangan sampai ada pelakor di antara hubungan Kak Alvin dan Kak Zie." batin Eza
"Ekhm..." Eza mencoba berdehem agar Sela menengok. namun ternyata Sela tidak menengok ke arahnya.
"Kamu siapanya Kak Alvin?" Eza memberanikan diri untuk bertanya.
"Saya?" Sela menatap ke arah Eza.
"Iyalah kamu, memangnya siapa lagi yang ada di ruangan ini."
__ADS_1
"Aku ini adik iparnya Kak Alvin, sekaligus mantan kekasih dan juga mantan partner ranjang."
"Waw... kau luar biasa Nona, baru kali ini ada wanita sejujur itu." ucap Eza
Seperti ******," Eza lanjut berucap di dalam hatinya.
Sela beranjak dari duduknya. dia beralih duduk di dekat Eza. Sela mengajak Eza mengobrol. mereka berdua asyik mengobrol hingga Eza mendengar ponsel miliknya berdering. ternyata itu panggilan masuk dari Ibunya. Eza mengatakan kepada Ibunya jika saat ini dia berada di ruangan Alvin.
Di ruang sebelah
Zivana menatap Ibunya yang baru selesai menelfon Eza.
"Eza dimana Mah?" tanya Zivana
"Lagi keluar cari angin," jawab Bu Rara
"Oh iya Mah, ponsel Zie dimana yah? Zie mau menelfon Mas Alvin."
"Mamah sama sekali tidak melihat ponsel kamu Nak," ucap Bu Rara
"Mamah juga tidak tahu Nak," jawab Bu Rara
Sepertinya aku harus meminta Bi salma untuk menyembunyikan ponsel milik Zivana yang ada di rumah." batin Bu Rara
"Mungkin ketinggalan di rumah yah Mah," ucap Zivana
"Iya Zie, sudahlah jangan bahas ponsel. lagian Alvin juga pasti sedang sibuk. kamu jangan menghubunginya dulu."
"Baiklah, tapi nanti kalau sudah sampai di rumah, Zie mau langsung menghubungi Mas Alvin."
°°°
Beberapa hari kemudian, Zivana sudah di perbolehkan untuk pulang. semua keluarganya ikut menjemputnya di rumah sakit. Zivana merasa senang karena sudah di perbolehkan pulang. sempat ada perdebatan kecil antara dia dan Bu Rara.
Bu Rara meminta Zivana pulang ke rumahnya. sedangkan Zivana ingin tetap pulang ke rumah Alvin. namun setelah di bujuk oleh ayah dan adik-adiknya, akhirnya Zivana mau menginap di rumah orang tuanya.
__ADS_1
Sebenarnya Zivana merindukan Alvin yang beberapa hari ini tidak dia temui. jadi itu alasan dia ingin tetap pulang ke rumah Alvin.
"Kak, tadi Eza sudah kirim pesan kepada Kak Alvin jika Kakak sudah melahirkan anak laki-laki. terus Kak alvin bilang jika akan pulang beberapa hari lagi." ucap Eza terpaksa berbohong.
"Yah, beberapa hari lagi itu kapan?"
"Sabar Zie, nanti juga suamimu pulang," sahut Bu Rara
Zivana hanya menghela nafasnya.
"Baiklah," Zivana tak lagi banyak bicara.
Zivana dan yang lainnya keluar dari ruangan itu. mereka melangkah keluar dari rumah sakit. namun Eza diam-diam menjauh dari mereka semua. dia akan menjaga Alvin karena dia tak percaya dengan Sela. bisa-bisa Sela mencari kesempatan di saat Alvin terbaring lemah.
Kini Zivana dan yang lainnya sudah ada di dalam mobil. namun Zivana tidak melihat Eza.
"Eza dimana Mah?"
"Mungkin sekalian pergi main, dia kan bawa motor tadi."
"Motor? sejak kapan Eza punya motor?"
"Sejak dia menjual mobilnya, entahlah Mamah juga tidak tahu kenapa dia beli motor dengan uang hasil menjual mobilnya. padahal bisa loh dia minta di beliin sama Papahmu kalau dia minta."
"Walaupun sering keluyuran, tapi Eza ini pasti tidak enak jika dia meminta di beliin mobil sama Papah," sahut Pak Juna
"Iyalah pasti tidak enak, dia itu belum kerja. tidak seperti Farizki yang membantu Papah di perusahaan," ucap Zivana
"Mamah yang melarangnya Zie, Mamah yang memintanya untuk fokus kuliah dulu," ucap Bu Rara
Mereka masih mengobrol di dalam mobil.
Pak Juna langsung mengemudikan mobil itu meninggalkan halaman rumah sakit.
°°°
__ADS_1
Like, Komennya jangan lupa😊😊 biar semangat UP gaess😊😊