Hanya Istri Siri

Hanya Istri Siri
Part.149


__ADS_3

Hari ke-2 Rara di Rumah Sakit keadaannya masih sama. belum ada tanda-tanda jika Rara akan bangun. Juna setia berada di samping Istrinya. untung saja ada Rey yang menggantikan semua tugasnya di perusahaan. jadi Juna hanya bisa fokus ke Istrinya.


Bu Farah datang dengan membawa bungkusan makanan yang dia beli.


"Juna makan dulu yuk. kamu dari semalam belum makan loh." Bu Farah prihatin melihat anaknya yang tampak rapuh.


"Nanti saja Mah" Juna menolak tawaran Ibunya.


"Nanti sakit loh kalau tidak makan. kalau kamu sakit juga siapa yang akan jagain Rara." Bu Farah masih tetap membujuk anaknya.


Juna memikirkan perkataan Ibunya. ada benarnya juga yang di katakan olehnya.


"Baiklah"


Bu Farah senang karena berhasil membujuk Juna. walaupun Juna hanya memakan roti saja tapi Bu Farah senang karena anaknya itu mau mengisi perutnya.


"Nak, kamu sudah dapat nama yang cocok untuk si kembar?" tanya Bu Farah


"Belum Mah" jawab Juna


"Loh kok belum sih, coba kita cari nama yang cocok." Bu Farah memikirkan nama yang kira-kira cocok untuk cucu kembarnya.


"Nah Mamah tahu nama yang cocok untuk si kembar. gimana kalau kita kasih nama


Fareza Putra Dirgantara ( Kakak ),


Farizki Putra Dirgantara ( adik )." ujar Bu Farah memberikan sarannya.


"Bagus juga Mah, tapi Zivana nama panjangnya nggak pake Dirgantara. nanti kalau iri sama adik-adiknya gimana?"


"Nggak mungkin kan Zie cewek. nanti saja kita lihat kalau sudah besar Zivana mau tetap pake nama itu apa mau di tambah Dirgantara di belakang namanya. kalau mau ganti ya tinggal kita ganti." ujar Bu Farah


"Oke Mah, sekarang Juna mau ambil si kembar dulu. kata suster si kembar sudah boleh pulang." ucap Juna


"Ayo Mamah ikut juga Nak." Bu Farah berjalan berdampingan dengan anaknya menuju ke ruangan bayi.


Juna dan Bu Farah masing-masing menggendong bayi. mereka membawa si kembar untuk bertemu Ibunya.


"Rara sayang, lihat nih siapa yang datang. namanya Kakak Eza anak kita." ucap Juna memberi tahu Istrinya.


"Dan ini adiknya sama Mamah loh. namanya bagus juga Farizki panggilannya adek Iki." Bu Farah juga ikut memberi tahu kepada Rara nama si bungsu.


"Kamu cepat bangun yang sayang biar kita main sama-sam. kasihan loh si kembar butuh Ibunya." kata Juna


Rara yang masih memejakan matanya mimpi bertemu dengan ayahnya.


"Ayah, Rara ikut ayah saja. Rara kangen sama Ayah." Rara memeluk ayahnya yang sudah meninggal dalam mimpinya.


"Jangan Nak, kasihan anak-anak kamu. kamu harus kembali kepada mereka."


"Tapi Ayah, Rara sudah kehilangan Mas Juna. Rara mau disini saja sama Ayah dan cari Mas Juna." tampak Rara menangis sesegukan.


"Tidak Nak, suami kamu masih hidup. sekarang suamimu dan anak-anakmu menunggumu Nak."


"Tapi Rara lihat sendiri jika Mas Juna beneran sudah meninggal."

__ADS_1


"Apa kamu melihat wajahnya?"


Rara tampak diam karena memang dia tidak melihat wajah suaminya.


"Percayalah sama Ayah, kamu sekarang pulang karena suami dan anak-anakmu sedang menunggumu."


"Tapi bagaimana caranya Rara untuk pulang? "


"Kamu berjalan saja mengikuti arah cahaya itu. nanti kamu juga sampai." Ayah menunjuk cahaya terang yang ada di belakang anaknya.


"Ayah, nanti Rara bakalan kangen sama Ayah." Rara memeluk Ayahnya.


"Kamu sebut nama Ayah di setiap do'a-do'amu Nak. Insyaallah Ayah akan baik-baik saja."


"Oke Ayah" ucap Rara lalu berbalik badan dan mulai mengikuti arah cahaya itu. sesekali Rara menengok ke belakang dan tersenyum kepada Ayahnya.


Juna dan Bu Farah hendak membawa si kembar untuk pulang. namun sebelum itu Juna menelfon Putri agar mau menemani Rara sebentar.


"Bagaimana Nak, Putri mau?"


"Iya Mah Putri mau" jawab Juna


"Ya sudah kita tunggu Putri datang baru kira pulang."


"Iya Mah" Juna hendak menghampiri Bu Farah yang sedang duduk di sofa namun baru saja dia akan melangkah, dia merasakan ada yang memegang bajunya.


Juna menoleh dan melihat Istrinya sedang menatapnya.


"Sayang kamu sudah bangun?" Juna senang saat melihat Rara sudah sadar.


"Iya sayang, kamu salah paham. yang kamu lihat di Rumah Sakit itu bukan Mas."


Juna langsung memeluk Rara dengan Eza yang masih berada di gendongannya.


"Ini anak kita Mas?"


"Iya sayang namanya Eza."


"Rara lihatlah ini adek Iki." Bu Farah juga sudah berdiri si samping Juna.


Rara senang melihat kedua Putranya tampak baik-baik saja.


"Sebentar yah sayang, Mas mau panggilkan Dokter dulu."


"Iya Mas"


Juna langsung pergi memanggil Dokter.


Dokter sudah memeriksa keadaan Rara. Juna bertanya kepada Dokter mengenai kondisi Rara.


"Bagaimana kondisi Istri saya Dok?" tanya Juna


"Istri Bapak baik-baik saja. hanya perlu perawatan intensif saja." jawab Dokter


"Syukurlah" Juna merasa senang karena Rara baik-baik saja.

__ADS_1


Dokter yang memeriksa Rara sudah pergi meninggalkan ruangan itu.


Rara meminta suaminya untuk menidurkan Si kembar disamping kanan kirinya. Rara begitu senang melihat kedua anaknya.


Beberapa saat kemudian Putri sudah datang ke Rumah Sakit bersama Baby Zie.


"Rara sudah sadar?" Putri begitu senang melihat Rara sudah sadar.


"Iya Put alhamdulilah."


Baby Zie menatap adik kecil yang di tidurkan di sebelah Mamahnya.


"Ini adik kecil siapa?" Baby Zie dengan polosnya bertanya kepada Rara.


"Ini adiknya Zie sayang."


"Ini dedek yang ada di perut Mamah. kapan keluarnya kok Zie tidak tahu?"


Semua yang berada disana hanya tertawa gemas mendengar ocehan Baby Zie.


Baby Zie juga melihat sebelah kiri Ibunya ada adek kecil lagi.


"Kok adek kecil ada dua?"


"Iya sayang, adek Zie ada dua." ucap Juna


"Yey Zie punya adek dua yey." Baby Zie tampak girang.


"Zie senang yah punya adek dua?" Bu Farah bertanya kepada cucunya.


"Senang dong, nanti kalau sudah besar Zie ada yang mijitin sama nyuapin. Zie tinggal duduk manis saja." ucap Baby Zie


Mereka yang berada disana terkejut dengan apa yang Baby Zie katakan.


"Sayang, masa adek sendiri di suruh-suruh sih?"


"Biarin" Baby Zie melipat kedua tangannya di dadanya.


"Put, kamu sudah menghubungi Rey jika Rara sudah siuman?" tanya Bu Farah


"Sudah Mah, sekarang Mas Rey sedang menuju kesini." ucap Putri


Mereka semua menatap kedua bayi yang sedang menangis.


"Loh si kembar kenapa Ra?" tanya Bu Farah yang melihat kedua cucunya menangis. padahal tadi tidak menangis.


"Zie nakal Mah, masa adek sendiri di toel-toel." ucap Rara


"Zie nggak boleh gitu dong sama adek." ucap Bu Farah


"Huwaaa semuanya sayang adek, nggak ada yang sayang Zie." ucap Zie berkaca-kaca lalu berlari keluar dari ruangan itu.


"Zie" Rara berteriak memanggil Baby Zie.


"Biar Mas yang mengejar Zie." Juna langsung pergi keluar mengikuti Baby Zie.

__ADS_1


__ADS_2