Hanya Istri Siri

Hanya Istri Siri
Part_114


__ADS_3

Juna dan yang lainnya sudah sampai di bandara. mereka langsung menghampiri supir yang sudah menunggu kedatangan mereka.


Kini semua anggota keluarga Dirgantara berkumpul di ruang keluarga.


Bu Farah menceritakan awal mula hilangnya Baby Zie. dia juga memberikan surat ancaman yang dia temukan di depan rumah kepada Juna.


"Hm, sepertinya ini sudah direncanakan." gumam Juna


"Menurut Mamah juga seperti itu." timpal Bi Farah


"Mas, cepat cari Baby Zie, Rara tidak mau jika Baby Zie terluka." sahut Rara penuh kekhawatiran.


"Sabar sayang, Mas janji akan segera menemukan anak kita." ucap Juna sambil mengelus kepala istrinya yang tertutup hijab.


"Lalu apa yang akan kita lakukan selanjutnya?" tanya Rey angkat bicara.


"Lebih baik kita pergi ke alamat yang ada di surat ini. tapi kita harus berhati-hati demi keselamatan kita juga."


"Bagaimana jika kita pergi bersama polisi saja." ujar Rey


"Jangan! kalau penculik itu tahu kita membawa polisi, yang ada keselamatan Baby Zie akan terancam." ucap Juna


"Lalu, kita hanya pergi berdua? bagaimana jika mereka melukai kita?" tanya Rey


"Iya kita pergi berdua, tapi kita ajak polisi untuk memantau kita dari jauh. saat kita dalam bahaya, kita kasih kode kepada polisi itu untuk beraksi." ujar Juna sambil memikirka ide yang ada di dalam pikirannya.


"Boleh juga ide Kakak, Rey setuju." ujar Rey


Semuanya menyetujui saran Juna. walaupun itu terlihat berbahaya. Juna melarang Rara dan Bu Farah untuk ikut. namun Rara tetep meminta untuk ikut. Juna sebenarnya khawatir jika Rara ikut bersamanya. bisa saja sesuatu yang bahaya terjadi kepadanya. namun Rara tetap memaksa sehingga Juna tidak bisa menolak.


Kini Juna, Rey dan Rara sudah sampai di lokasi. mereka turun dari mobil dan segera masuk ke dalam gudang kosong itu. Juna masuk melalui pintu depan. sedangkan Rara dan Rey mencari jalan lain untuk masuk. Juna meminta mereka untuk segera menyelamatkan Baby Zie. biar Juna yang mengalihkan para penculik agar hanya fokus kepadanya.


Rara dan Rey masuk melalui jendela kayu yang tidak terlalu tinggi. mereka segera mencari Baby Zie. mereka melihat satu ruangan yang pintunya tertutup. setelah sampai disana ternyata pintu ruangan itu terkunci.


"Mas Rey, bagaimana ini? pintunya tertutup?"


"Biar aku yang mendobraknya." ujar Rey

__ADS_1


"Tapi kalau di dobrak nanti menimbulkan suara." Rara takut jika penculik itu datang menghampiri mereka.


"Tidak ada cara lain." lalu Rey mendobrak pintu ruangan itu.


Rara melihat Baby Zie yang sedang duduk dipojokan. Rara dan Rey langsung menghampirinya.


"Sayang, ayo kita pulang Nak." Rara langsung menggendong Baby Zie.


"Amah, Zie main sama om badut." ucao Baby Zie


"Om badut? dimana sayang? disini tidak ada om badut loh." ucap Rara


"Itu om badutnya." Baby Zie menunjuk preman berambut putih yang berdiri di pintu masuk.


Rara terkejut saat melihat dua preman yang sudah berada disana.


"Biar aku yang hadapi! cepat kalian pergi dari sini!" pinta Rey


Rara langsung pergi dengan menggendong Baby Zie. mereka keluar lewat jendela tadi. tidak mungkin Rara keluar lewat pintu depan. karena beberapa preman berada disana.


"Hey, mau kemana kalian?"


"Mamah, ini Rara Mah." Rara merasa bahagia melihat Mamahnya berada disana. dia belum sadar jika Mamahnya yang menculik Baby Zie.


"Sini mendekat ke Mamah." Bu Dewi berbicara dengan sedikit halus.


Rara menghampiri Ibunya dan hendak memeluknya. namun Bu Dewi malah merebut Baby Zie yang ada di dalam gendongan Rara.


"Cepat serahkan uang yang saya minta atau anak ini dalam bahaya." Bu Dewi mengambil pisau dan mendekatkan di leher cucunya.


"Mah, jangan sakiti Baby Zie. dia cucumu Mah."Rara panik namun dia juga tidak berani mendekat karena jika satu langkah saja dia berjalan, nyawa anaknya yang akan menjadi taruhannya.


Juna dan Rey sudah berhasil melumpuhkan penjahat. mereka segera menghampiri Rara di belakang gudang karena sejak tadi belum kelihatan juga.


"Rara, Baby Zie, kalian tunggu Papah, Papah akan menyelamatkan kalian." Juna menghampiri Rara dan memeluknya.


Sedangkan Rey mengirim pesan kepada polisi yang memantau mereka dari jauh agar mendekat.

__ADS_1


Baby Zie sudah menangis karena merasa ketakutan. Rara merasa sakit mendengar tangisan putri tercintanya.


"Sayang, biar Mas membantu Rey untuk mengambil Baby Zie." Juna melepaskan pelukannya lalu dia bwrjalan menhampiri Rey.


"Mau apa kalian? jangan macam-macam atau anak ini dalam bahaya." Bu Dewi semakin mendekatkan pisau itu di leher Baby Zie.


Dan tiba-tiba terdengar suara pistol.


dor dor


Polisi menembakan peluru dan mengenai kaki Bu Dewi.


"Awww arrgghhh" Bu Dewi merasa kesakitan lalu dia menjatuhkan pisau yang dia pegang. Rey mengambil pisau itu. dan Juna mengambil Baby Zie.


"Mamah, Mah, Mamah tidak apa-apa bukan?" Rara mendekati Bu Dewi.


"Puas kamu, gara-gara kamu Mamah jadi seperti ini." ucap Bu Dewi


Dua orang polisi menghampiri Bu Dewi untuk di bawa ke kantor. Rara merasa tidak tega melihat Ibunya. namun dia tidak bisa berbuat apa-apa. karena Ibunya sudah bertindak kriminal.


"Tunggu! seseorang datang saat polisi hendak membawa Bu Dewi.


"Pah, tolong Mamah Pah." rengek Bu Dewi saat melihat suaminya.


Juna dan Rey terkejut melihat ayahnya sedang berdiri di hadapan mereka. Juna melihat penampilan Ayahnya yang sangat sederhana. bahkan baju yang dia pakai compang-camping. dan sandal yang di pakai juga beda warna. Juna sangat prihatin melihat ayahnya. namun disisi lain, dia masih membenci ayahnya yang sudah menelantarkan dia, Rey dan Ibunya.


"Bawa saja istri saya, pak polisi. saya sudah lelah menasehatinya agar dia berubah." ucap Pak Dirgantara


Polisi itu langsung membawa Bu Dewi pergi dari sana. Pak Dirga hendak melangkah pergi, namun Juna memanggilnya.


"Papah" ucap Juna dan seketika Pak Dirga menoleh.


Pak Dirga merasa malu bertemu dengan anaknya. dia langsung pergi dari sana dengan sedikit mempercepat langkahnya.


"Pah, Papah jangan pergi!" teriak Juna namun Pak Dirga semakin mempercepat langkahnya.


"Biar Rey yang mengejarnya. kalian ke mobil saja dulu, nanti langsung mengejar kita dari belakang." pinta Rey lalu berjalan mengejar Pak Dirga.

__ADS_1


__ADS_2