
Keesokan harinya Putri bangun terlebih dahulu. dia melepaskan tangan suaminya yang masih memeluknya. Putri berjalan menuju ke kamar mandi dengan keadaan polos tanpa busana.
Putri membersihkan dirinya dari sisa-sisa percintaannya semalam. dia hanya tersenyum kecut saat membayangkan kejadian semalam. dimana suaminya menyebut nama wanita lain disaat malam pertama mereka.
Putri cepat-cepat menyelesaikan mandinya karena dia tak tahan menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya. seolah-olah seperti orang habis terjatuh.
Putri menatap sekilas suaminya yang masih tertidur. Putri langsung shalat subuh sendirian. dia tak membangunkan suaminya untuk berjama'ah.
Rara melihat Putri membuka pintu kamar Al. karena kebetulan Rara sudah bangun juga.
"Sudah bangun Put? tanya Rara
"Sudah Ra" jawab Putri cuek dan tampak diam. beda dari biasanya Putri yang selalu ceria.
Putri langsung menghampiri Baby Al yang masih tidur. diam-diam Rara memperhatikan Putri dan cara jalan dia yang beda dari biasanya.
Sebenarnya apa yang terjadi sama Putri? apa semalam dia telah melakukan itu. Hm,tapi kok raut wajahnya tampak murung seperti itu. jadi bikin penasaran saja.
baiklah nanti aku akan cari tahu sendiri." batin Rara sambil menatap gerak-gerik Putri.
"Put, aku mau masak dulu yah. kamu disini saja jagain Baby Al." ucap Rara
"Iya Ra" jawab Putri
Rara langsung berlalu pergi dari kamar Al.
Hm betul dugaanku pasti terjadi sesuatu sama Putri. biasanya jika aku mau masak Putri selalu ikut bantuin. tapi sekarang dia tampak berbeda." gumam Rara lalu dia kembali melanjutkan langkahnya.
Rey sudah terbangun dari tidurnya. dia meraba-raba di sebelahnya. namun tidak ada keberadaan Putri. spontan Rey langsung membuka kedua matanya. dia menatap dirinya yang dalam keadaan polos.
Rey mengingat lagi percintaannya semalam. dia merasa bersalah sama Putri karena dia melakukan itu tanpa rasa cinta.
Dimana dia? apa dia marah karena semalam. kenapa tidak bangunin aku?" gumam Rey lalu dia duduk di pinggiran ranjang.
"Rasanya lelah sekali, bahkan aku tak ingat semalam tidur pukul berapa." gumannya lagi lalu Rey pergi untuk membersihkan diri.
Rara sudah selesai memasak. dia memanggil yang lainnya untuk sarapan bersama.
__ADS_1
"Put, ayo kita sarapan bersama." ajak Rara kepada Putri.
"Nanti saja Ra, kalian duluan saja." Putri menolak ajakan Rara karena dia belum mau bertemu Rey.
"Tapi kalau makan sendirian tidak enak loh. enak juga kalau makannya rame-rame." ucap Rara
"Nanti saja Ra" Putri tetap menolak ajakan Rara.
"Ya sudah kalau begitu aku duluan yah." lalu Rara segera pergi dari sana.
Rara kembali ke ruang makan dan bergabung dengan mereka.
"Dimana Putri?" tanya Bu Farah
"Putri di kamar Baby Al Mah, tapi dia menolak untuk sarapan bersama." ucap Rara
"Loh kenapa?"
"Mungkin belum lapar Mah, lebih baik kita makan duluan saja." kata Rara
Akhirnya mereka memulai sarapan. tidak ada yang bersuara diantara mereka. hanya suara dentuman sendok yang tedengar.
Setelah selesai sarapan, Bu Farah mengatakan sesuatu kepada Rey.
"Rey temuilah istrimu dan sekalian bawakan makanan untuknya." pinta Bu Farah
"Iya Mah" Rey langsung mengambil piring kosong lalu memasukan nasi dan lauk untuk istrinya.
Tok tok
Rey mengetuk pintu kamar anaknya. lalu dia langsung masuk begitu saja. Putri melihat kedatangan Rey. namun dia hanya cuek dan tidak mengatakan apa-apa.
"Put, cepat makan dulu. nanti bisa sakit loh kalau telat makan." ucap Rey sambil menaruh nampan yang dia bawa di meja yang ada di kamar itu. lalu dia langsung duduk di sofa.
"Biar aku temenin, cepat makan dulu." ucapnya lagi.
"Nanti saja Kak, lebih baik Kak Rey siap-siap untuk pergi ke kantor.
__ADS_1
"Tapi Put--" Rey memperhatikan tingkah istrinya yang tampak beda.
"Kamu marah sama aku karena semalam?" tanya Rey langsung pada intinya.
"Putri tidak marah kok, lagian itu sudah kewajiban Putri sebagai istri." jawab Putri
"Syukulah, kalau begitu aku mau siap-siap dulu. kamu jangan lupa makan loh." ucap rey lalu dia bangkit dari duduknya.
Rey menghampiri Baby Al terlebih dahulu dan mencium kedua pipinya sebelum dia keluar dari kamar itu.
Rey sedang bersiap dengan pakaian kantornya. begitupun juga Juna yang sedang bersiap-siap ditemani oleh istrinya.
"Mas, Rara boleh bicara sesuatu tidak." kata Rara sambil menatap suaminya yang sibik mengancingkan kancing kemejanya.
"Bicara apa sayang?" tanya Juna yang sudah menatap wajah istrinya.
"Pagi ini Putri aneh sekali loh. sepertinya semalam terjadi sesuatu sama dia dan Rey. cara jalannya juga sedikit berbeda." ucap Rara
"Jadi semalam mereka melakukan itu. syukurlah berarti semuanya berjalan dengan lancar." ucap Juna
"Jadi semua itu rencana Mas Juna?"
"Iya sayang, kalau bukan dengan cara seperti itu pasti mereka akan lama melakukan malam pertama. karena belum ada rasa cinta di hati Rey." ucap Juna
"Tapi Mas, kasihan Putri loh. sekarang saja dia murung begitu seperti sedang kecewa." ujar Rara
"Kamu tenang saja sayang, paling dia cuma takut melihat Rey telanjang. semalam kan Rey melakukan itu karena pengaruh obat perangsang. mungkin juga ada sedikit pemaksaan." ucap Juna mengatakan dugaannya.
"Iishh jahat sekali sih Mas. hm, sepertinya Mas Juna perlu di hukum biar tidak usil lagi." Rara tersenyum memikirkan sesuatu.
"Loh kok jadi Mas yang kena hukuman sih?" Juna sudah mulai menduga hukuman apa yang akan diberikan oleh istrinya.
"Nanti malam jangan sentuh Rara sedikitpun." ucap Rara sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Tuh kan bener dugaan Mas, pasti hukumannya itu."
"Makannya kalau mau berbuat sesuatu pikirkan dulu konsekuensinya." ucap Rara lalu pergi meninggalkan kamarnya.
__ADS_1
°°°°°°