
Juna tampak pusing memikirkan keberadaan Rara. baru saja dia mendapat telepon dari orang suruhannya bahwa mereka sampai saat ini belum menemukan keberadaaan Rara. bahkan di kampung halamannya pun tidak ada tanda-tanda keberadaannya.
Toktok
Rio baru saja memasuki ruangan atasannya.
"Selamat siang tuan" Sapa Rio kepada atasannya.
"Iya, apa ada informasi yang kamu dapat mengenai Rara?" Juna langsung bertanya tanpa basa-basi.
"Belum tuan, saya sudah bertanya ke teman kerja dia yang sebelumnya tapi tidak ada yang mengetahui keberadaannya." Jelas Rio
"Ah sial kenapa semua orang suruhanku tidak ada satupun yang menemukan dia, ini sangat aneh sungguh aneh. seolah-olah Rara sudah tahu jika kita sedang mencari dia. makannya dia menghilang tanpa jejak." Juna berfikir jika Rara bukan wanita sepintar itu. jadi mana mungkin bisa pergi tanpa meninggalkan jejak sama sekali. pasti ada pihak lain yang membantunya.
"Lalu apa langkah kita selanjutnya tuan?" tanya Rio kepadanya
"Ya cari dia sampai ketemu, kalian saya gaji mahal-mahal tapi untuk menemukan satu orang perempuan pun tidak bisa." Juna sudah kalut memikirkan keberadaan Rara. dia tidak ingin jika ibunya yang terlebih dulu menemukannya.
Lalu Rio pamit keluar dari ruangan atasannya.
Setelah kepergian Rio, nampak wanita cantik memasuki ruangan itu. dia Luna istri sah Juna. Luna melihat suaminya tampak termenung memikirkan sesuatu.
__ADS_1
"Sayang, ayo kita makan siang dulu." ucap Luna yang baru memasuki ruangan itu sambil menenteng rantang berisi makan siang untuk suaminya.
"Tidak berselera" hanya itu kata yang diucapkan oleh Juna.
"Ayolah sayang, biar aku yang suapin yah." Luna berusaha membujuk Juna.
Luna melihat Juna yang sedang termenung memikirkan sesuatu. dia tidak mau bertanya lebih. mungkin saja suaminya sedang pusing memikirkan pekerjaan." pikirnya
Akhirnya Juna mau dibujuk istrinya. dia makan disuapi oleh Luna.
setelah Juna selesai makan, Luna langsung membereskan rantang yang dia bawa. dia ingin berbincang-bincang dulu dengan suaminya. tapi Juna malah menyuruhnya untuk pulang. ada sedikit kekeceweaan di hati Luna. tapi dia harus sabar dulu, mungkin suaminya itu benar-benar sedang pusing memikirkan pekerjaan.
Luna sudah sampai ke rumahnya. dia melihat Bu Farah yang sudah berpakaian rapih dan sepertinya akan pergi keluar.
"Mamah mau arisan, kok kamu cepat sekali pulangnya?" tanya Bu Farah
"Iya mah, tadi mas juna sepertinya sedang pusing memikirkan pekerjaan. jadi Luna pulang saja karena takut mengganggunya."
"Bagaimana kalau kamu ikut mamah arisan." Bu Farah berniat mengajak menantunya untuk ikut bersamanya.
"Boleh mah, dari pada Luna di rumah sendirian. tapi sebentar mah, Luna ke dalam dulu menaruh ini." sambil menunjukan rantang yang di bawanya.
__ADS_1
"Sekalian mau memperbaiki make up." ucapnya lagi
Luna segera menuju ke dapur untuk menaruh rantang kotor yang dia bawa. lalu dia menuju ke kamarnya untuk memperbaiki make up yang dia pakai.
Kini keduanya sudah sampai di tempat arisan. arisan ibu-ibu sosialita ini di adakan di sebuah cafe. beberapa dari mereka juga ada yang membawa anaknya.
"Eh Jeng Farah sudah datang, ini menantunya yah Jeng?" tanya salah satu teman Bu Farah.
"Iya Jeng ini menantu saya." ucap Bu Farah
"Wah Cantik sekali Jeng, saya baru lihat loh." ucapnya lagi memuji kecantikan Luna.
"Jeng dulu tidak datang sih ke acara nikahan anak saya."
"Jeng tahu sendiri kan saat itu saya sedang berada di luar negeri untuk nengokin anak saya. oh iya kebetulan anak saya juga ikut kesini. sebentar saya panggilkan dulu." lalu ibu itu memanggil anaknya.
Beberapa saat kemudian dia sudah datang bersama anak lelakinya.
"Perkenalkan Jeng, ini anak saya Devan." sambil mengenalkan anaknya kepada Bu Farah dan Luna.
"Hallo Devan, saya Bu Farah." Bu Farah dan Devan saling berjabat tangan.
__ADS_1
Lalu Devan berkenalan dengan Luna. ada sedikit rasa kagum saat dia menatap wajah cantik Luna.