
Pagi ini Zivana dan Farizki sudah bersiap untuk pergi bertemu dengan klien dari luar negeri.
Bu Rara melihat anak-anaknya yang sudah rapih.
"Aduh, anak-anak Mamah pada mau kemana nih?" Bu Rara bertanya saat melihat Zivana dan Farizki yang sudah rapih dengan pakaian mereka.
"Mau ketemu klien Mah, nih Iki minta di temani Zie," ucap Zivana
"Kalian hati-hati Yah."
"Iya Mah, kami pamit dulu," Zivana bersalaman dengan Ibunya. begitupun Farizki yang juga ikut bersalaman.
Bu Rara menatap kepergian anak-anaknya hingga mereka menjauh dari pandangannya.
Saat ini mobil yang di kendarai Farizki sudah sampai di depan hotel tempat mereka bertemu klien. keduanya langsung keluar dari dalam mobil.
"Ayo Kak!" Farizki mengajak Zivana masuk ke dalam.
Kini keduanya berjalan berdampingan memasuki hotel. mereka langsung menuju ke restoran hotel tempat mereka bertemu klien. hanya lima menit menunggu, akhirnya klien yang mereka temui baru datang. Zivana dan Farizki langsung menyambut kedatangan klien mereka yang bernama Mr.William.
Zivana langsung membicarakan kerja sama yang di ajukan oleh perusahaannya. ternyata Mr.William menyimak dan merasa jika apa yang di sampaikan oleh Zivana sangat luar biasa. bahkan Zivana juga di puji oleh Mr.William bahwa dia pantas menjadi penerus perusahaan ayahnya.
Setelah setuju dengan kerja samanya, kini mereka memilih untuk memesan makanan dan mereka akan makan bersama.
Mr.William mengagumi Zivana yang menurutnya sangat pintar.
Setelah selesai makan bersama, mereka memilih untuk pulang. sedangkan Mr.William tetap di sana karena dia menginap di hotel itu.
"Kak, sepertinya Mr.William menyukaimu," ucap Farizki yang sedang fokus mengemudi.
"Kamu apa-apaan sih," Zivana menatap adiknya.
"Ya tidak apa-apa, itu berarti saingan Kak Alvin bertambah," ucap Farizki
"Jangan asal deh kalau bicara," Zivana mengalihkan arah pandangnya ke luar kaca mobil. dia menatap kendaraan yang berlalu lalang.
Farizki hanya tersenyum menatap Zivana. lalu dia kembali fokus mengemudi.
°°°
Saat ini Alvin sedang menyelidiki mantan pacar Ayahnya. namun tidak ada sesuatu yang mencurigakan. apalagi perempuan paruh baya itu sudah berbahagia dengan keluarganya. tinggal menyelidiki mantan Ibunya dan Bu Luna. namun ternyata Ibu kandung Alvin tidak mempunyai mantan. ayahnya satu-satunya kekasihnya sejak dulu.
__ADS_1
Sepertinya harus selidiki orang terdekat dari Tante Luna." batin Alvin
Alvin memakai jas kerjanya yang dia taruh di atas sandaran kursi. dia akan keluar dari kantor untuk melakukan penyelidikan secara langsung.
Sepertinya aku harus tanya Papah Juna saja," gumam Alvin lalu dia membuka pintu mobilnya.
Alvin mengendarai mobilnya menuju ke kantor Dirgantara Group untuk bertemu dengan Pak Juna.
Cukup lama mengemudi, kini Alvin sudah ada di depan perusahaan Dirgantara Group. dia langsung menemui kedua resepsionis yang sedang berjaga.
"Maaf Nona, apa Pak Juna ada di ruangannya?"
"Ada Pak, sebentar saya hubungi Pak Juna dulu," ucap salah satu dari mereka.
Resepsionis itu sudah memberitahu Pak Juna jika ada tamu yang datang. dan ternyata Pak Juna menyuruhnya langsung ke ruangannya.
Alvin langsung menuju ke ruangan Pak Juna untuk bertemu dengannya.
Saat ini Alvin memasuki lift. namun ternyata di belakangnya ada yang ikut masuk juga. ternyata orang itu Zivana.
Zivana hendak keluar lagi namun Alvin menahan tangannya.
"Lepasin, aku mau keluar," Zivana mencoba melepaskan diri namun Alvin memegang tangannya sangat erat.
"Kenapa berhenti?" Zivana merasa panik, dia memeluk dirinya sambi berjongkok.
"Jangan panik! biar aku hubungi Pak Juna dulu," Alvin mengambil ponselnya yang ada di dalam saku celana. lalu dia langsung menghubungi Pak Juna. dia memberitahukan jika dia dan Zivana terjebak di dalam lift.
Alvin melihat Zivana yang terlihat panik. dia ikut berjongkok dan mendekatkan badannya. dia memberanikan diri untuk memeluk Zivana. ternyata Zivana tidak memberontak. dia malah memeluk Alvin begitu erat. mungkin karena dia merasa ketakutan.
Pak Juna sudah menyuruh teknisi memperbaiki lift. hampir 20 menit menunggu, kini lift itu sudah di perbaiki. kini lift itu berhenti di lantai atas dan pintu lift langsung terbuka.
Semua yang ada di luar senyum-senyum sendiri melihat dua orang yang sedang berpelukan.
"Ekhm," Pak Juna berdehem dan Alvin langsung menoleh menatap beberapa karyawan yang sedang berdiri di depan lift.
"Zie, cepat buka matamu!" bisik Alvin kepada Zivana yang masih memeluknya erat sambil memejamkan mata.
"Tidak mau, nanti jatuh," Zivana masih menutup kedua matanya.
"Kita sudah di lantai atas loh," ucap Alvin yang kembali berbisik.
__ADS_1
Zivana membuka kedua matanya. dia menoleh menatap cahaya dari luar lift. dia sangat malu melihat beberapa karyawan yang sedang menatapnya. Zivana segera melepaskan pelukannya dari badan Alvin. dia berjalan menerobos kerumunan orang yang tadi menatapnya.
Alvin sedikit menyunggingkan senyumnya. dia merasa senang karena bisa berpelukan seperti tadi dengan Zivana.
"Pak Juna, bisakah kita bicara!" Alvin menatap Pak Juna yang saat ini berdiri tak jauh darinya.
"Ayo ke ruangan saya!" Pak Juna melangkah terlebih dahulu. sedangkan Alvin mengikutinya.
Farizki menghampiri Zivana yang tadi masuk ke ruangannya.
"Kak, so sweet sekali sih pakai pelukan segala," Farizki menggoda Zivana yang sedang memegangi dadanya.
"Apaan sih, biasa saja," ucap Zivana
"Kalau biasa saja ngapain itu pakai pegang dada segala, pasti dag dig dug ser tuh rasanya," Farizki kembali menggoda Zivana.
"Isshhh kamu jadi ngeselin ih," Zivana berlalu pergi dari hadapan Farizki. dia keluar dari ruangan itu.
Saat ini Alvin dan Pak Juna sudah duduk saling berhadapan.
"Maaf Pah jika kedatangan saya mengganggu. tapi sepertinya lebih baik saya datang kesini dari pada ke rumah nanti ada Mamah Rara yang mendengar obrolan kita." ujar Alvin
"Tidak mengganggu kok, kamu mau bicara apa Vin?"
"Alvin mau tanya mantan Tante Luna selain Papah," kata Alvin
"Tidak tahu sih, Papah hanya tahu jika Luna saat itu berselingkuh dengan Ayahmu," ucap Pak Juna
"Emang dasar Tante Luna, pantas saja Alvin melihat Tante Luna seperti tidak tulus," ucap Alvin
"Lebih baik sekarang kamu korek informasi melalui orang terdekat Luna," ujar Pak Juna memberikan saran.
"Anaknya dong, ih malas sekali harus berurusan dengan dia lagi," kata Alvin
"Memangnya sebelumnya akrab?"
"Bukan akrab lagi Pah, tapi dia mantan kencan Alvin dan Alvin tidak mau Zivana semakin benci sama Alvin jika melihat Alvin bersama Sela lagi."
"Tapi itulah jalan satu-satunya Vin, lagian kamu harus bermain cantik. jangan sampai Zivana tahu dan jangan sampai kamu tergoda oleh Sela."
"Baiklah, akan Alvin fikirkan lagi," ucap Alvin
__ADS_1
Setelah selesai mengobrol, Alvin berpamitan untuk pergi.
°°°°