
Putri dan Rey sudah berada di dalam taxi. niatnya Putri akan mengantarkan Rey kerumahnya. namun Rey tidak mau jika dia pulang ke rumah dalam keadaan mabuk. bisa-bisa nanti dia dimarahin habis-habisan oleh Mamahnya.
"Jangan antar pulang ke rumah. terserah kamu mau bawa aku kemana." ucap Rey
"Ya sudah kita ke rumahku saja. kebetulan orangtuaku sedang pergi keluar kota."
Kini taxi yang dinaiki oleh keduanya sudah sampai di depan gerbang rumah Putri.
Putri segera turun dan memapah Rey untuk masuk ke dalam.
"Sekarang Kak Rey tidur disini yah." kata Putri yang sudah berdiri di depan pintu kamar tamu.
Cklek
Putri membuka pintu kamar itu dan memapah Rey untuk masuk kedalam. setelah mendudukan Rey di ranjang, Putri berniat untuk pergi. namun Rey menahan tangannya. sehingga Putri masih diam di tempat tidak bisa beranjak pergi.
"Jangan pergi Ra, aku ingin ditemani olehmu untuk malam ini saja." ucap Rey yang dalam keadaan setengah sadar.
"Kamu kenapa sih Kak? jangan aneh-aneh deh." kata Putri dan mencoba melepaskan diri dari cekalan tangan Rey.
"Apa tidak ada sedikitpun hatimu yang tersisa untukku Ra?" tanya Rey sambil menatap lekat wajah Putri yang dia lihat adalah Rara.
"Ngomong apa sih Kak? jangan ngelantur deh! siapa lagi itu Ra? aku bukan Ra....." Putri tak lagi melanjutkan perkataannya. sekarang dia terpikir ke sebuah nama seseorang.
Apa yang dimaksud Kak Rey aku adalah Rara? jika memang Rara, sebenarnya ini ada apa? kenapa Kak Rey bertingkah seperti ini?
apa jangan-jangan Kak Rey menyukai Rara.
Ah tidak-tidak, itu tidak mungkin. masa suka sama Kakak Ipar sendiri sih kayak di sinetron saja." Putri masih bergelut dengan pikirannya. dan dia tidak menyadari jika sekarang Rey sudah menariknya sehingga dia sudah duduk berhadapan dengan Rey.
Putri kaget saat Juna mendekatkan wajahnya ke arah Putri.
"Mmmm mau apa?" Putri hendak memalingkan wajahnya. tapi keburu Juna memegang kedua
pipinya.
__ADS_1
"Temanilah aku untuk malam ini saja Ra." ucap Rey lalu dia membungkam Putri dengan ciumannya.
"Emmmmm......"Putri memukul-mukul dada Rey, namun Rey masih tidak melepaskan ciumannya.
Beberapa menit kemudian Rey melepaskan ciumannya. Putri langsung menampar kedua pipi Rey.
Plak plak
"Bisa-bisanya yah pakai cium orang sembarangan." kata Putri
"Tidak usah jual mahal Ra, lagian itu juga bukan yang pertama untukmu. tadinya aku hanya ingin menciummu. tapi melihat tingkahmu yang sok jual mahal, sepertinya lebih enak jika kita bermain-main saja." Rey tertantang untuk berbuat lebih. dia mengira jika Putri adalah Rara. dan penolakan itu baginya sebuah tantangan.
Putri hendak pergi namun Rey menarik tangannya. kini Putri sudah terlentang
di atas kasur. Rey menarik kedua tangan Putri ke atas kepala. sekarang Rey memegang tangan Putri sehingga dia tidak bisa bergerak bebas.
"Lepaska......."Sekarang bibir mungil itu hanya diam tak bersuara.
"Jangan membuatku penasaran Ra." ucap Rey
"Aku bukan Rara, aku Putri." Putri berkata dengan keras.
Putri sudah was-was dan memejamkan kedua matanya. beberapa menit dia menutup mata namun tidak ada pergerakan apa-apa dari Rey. akhirnya Putri memberanikan diri untuk membuka matanya. ternyata dia melihat Rey yang sudah tertidur. Putri mengelus dadanya tanda bersyukur. untung saja dia masih bisa menjaga kesuciannya. walaupun ciuman pertamanya sudah diambil secara paksa.
Putri segera keluar dari kamar itu dan menuju ke kamarnya sendiri. Putri langsung ke kamar mandi. dia mencuci bibirnya dan menggosok-gosoknya.. dia masih membayangkan perbuatan yang dilakukan oleh Rey tadi.
Dasar cowok rese akkhhhhhhhh...." teriak Putri
Pagi harinya Rey mengerjapkan kedua matanya. dia menatap ruangan yang tampak asing baginya. karena itu bukan kamar yang biasa dia pakai untuk tidur.
Dimana ini? kenapa aku tidak tidur dikamarku sendiri? " gumam Rey
lalu Rey mengingat-ingat kembali kejadian malam tadi. dia mengingat jika sore harinya dia pergi ke club hingga malam hari. setelah itu dia tidak mengingat apa-apa lagi. tapi dia mengingat jika ada seorang perempuan yang mengajaknya pulang.
Rey keluar kamar itu dan melihat-lihat sekeliling. dia mencium aroma bau masakan. dan langsung saja dia menghampiri asal aroma itu.
__ADS_1
Hmm harum juga, siapa kira-kira yang sedang masak." batin Rey sambil berjalan ke arah Dapur.
Rey melihat seorang wanita yang sedang memasak.
"Sedang masak Bi?" tanya Rey yang melihat seorang wanita yang memakai daster rumahan dari arah belakang.
Putri hanya acuh tak menjawab perkataan Rey. dia tahu jika itu Rey karena dia sudah hafal suaranya.
"Bi, kenapa diam saja?hm bibi ini masih muda sepertinya." ucap Rey sambil menatap kaki Putri yang putih mulus.
Putri masih diam saja tanpa menjawab perkataan Rey.
Rey yang tak mendapat jawaban segera menghampiri Putri.
"Hey Bi...." Rey menepuk pundak Putri dan spontan Putri menoleh.
"Apaan sih cerewet amat?"
"Loh kamu ngapain ada disini?" tanya Rey
"Terserah aku dong kalau aku mau dimanapun, karena ini rumahku."
"Jadi ini rumahmu? lalu kenapa aku bisa ada disini?" tanya Rey
"Kak Rey pikir saja sendiri." ucap Rara lalu kembali melanjutkan untuk memasak.
Rey keluar dari dapur dan menuju ke ruang keluarga. dia duduk disana sambil mengingat-ingat lagi kejadian malam tadi. dia ingat jika semalam dia bertemu seorang perempuan yang dia anggap jika itu Rara. bahkan dia juga mengingat saat dirinya dipapah sampai ke dalam kamar dan memintanya untuk tetap tinggal.
Astaga, apa semalam aku cuma mimpi. lalu kalau mimpi bagaiman bisa terlihat nyata." batin Rey sambil mengingat jika semalam dia saling bertatapan bahakna berciuaman dengan seorang perempuan yang dia anggap adalah Rara.
Apa wanita itu Putri? apakah memang bukan Rara. lagian mana mungkin Rara ada disini.
"Arrgggghhhhh dasar bodoh Rey." ucap Rey berbicara sendiri.
"Ngapain teriak-teriak? ayo cepat sarapan!" perintah Putri kepada Rey.
__ADS_1
Kebetulan tadi setelah masak, Putri berniat untuk mengajak Rey sarapan. walaupun dia masih sebal terhadap Rey, tapi dia tidak tegaan. apalagi jika makan sendirian padahal dirumahnya sedang ada tamu.
°°°