Hanya Istri Siri

Hanya Istri Siri
Part_52


__ADS_3

Rey terus membuntuti motor yang dikendarai Pak Sam dan Bu Susan. dia melihat Bu Susan masuk gang kecil belakang Toko Kue. Rey hanya melihatnya dari kejauhan karena dia takut jika Bu Susan curiga jika ada yang mengikutinya. tak lama kemudian Rey pergi dari sana dan dia berniat akan datang kesana lagi lain waktu. dia hanya mau memastikan tempat keberadaan Rara


Bu Susan dan Pak Sam sudah sampai di Mess karyawan. mereka berjalan memasuki Mess.


"Assalamu'allaikum" ucap keduanya


"Waalaikum'salam" jawab Putri yang sedang bersantai.


"Bagaimana kabarmu Put?" tanya Bu Susan yang sudah menghampiri Putri.


"Alhamdulilah Bu, saya sehat begitupun Rara dan Baby Zie." jawab Putri


"Alhamdulilah, syukur kalau begitu.


lalu Rara dimana?" Bu Susan bertanya keberadaan Rara.


"Ada dikamar lagi nidurin Baby Zie."


Rara terlihat berjalan keluar dari kamarnya. dia menghampiri ketiga orang sedang duduk sambil berbincang santai.


"Bu Susan sudah pulang kerja?" tanya Rara yang baru datang.


"Sudah Ra, sini kamu duduk bareng kita Ra." Bu Susan menyuruh Rara duduk di hadapannya.


Bu Susan segera menanyakan alasan Rara dan Putri kembali secepat ini ke kota. karena sebelumnya Rara mengatakan jika dirinya akan kembali ke kota jika Baby Zie sudah genap satu tahun.


"Berhubung kalian berdua sudah disini, ibu mau langsung bertanya sama kalian." ucap Bu Susan menatap keduanya.


"Nanya apa Bu?" Rara penasaran dengan apa yang akan ditanyakan Bu Susan. karena dari tatapan wajahnya tampak serius.


"Sebenarnya apa alasan kalian kembali lagi kekota?" tanya Bu Susan


"Kami diusir Bu, rumah Nenek sudah dijual dan ganti pemilikan. kami diusir karena rumahnya akan diratakan dan tanahnya akan dijadikan perkebunan." jelas Rara


Bu Susan sangat kaget mendengar berita itu. dia sama sekali tidak tahu apa-apa soal perjual belian tanah dan rumah Neneknya.


"Loh ko bisa? Nenek mana mungkin menjual rumah itu? apa lagi saya? mana tega saya menjual rumah yang ada penghuninya." ucap Bu Susan heran

__ADS_1


"Tapi memang itu kenyataannya Bu." Putri ikut angkat bicara.


"Sebentar, sepertinya ini ada kesalahan." ucap Bu Sudan lalu menoleh ke arah suaminya.


"Oke Mah, Papah akan selidiki masalah ini. Mamah dan yang lainnya tenang saja. biar ini jadi urusan Papah." Pak Sam berniat menyuruh orang untuk menyelidiki ini.


Pak Sam segera menghubungi orang yang bisa dia sewa untuk menyelidiki masalah tanah Nenek.


°°°


Rey yang baru sampai kerumahnya melihat keluarganya sangat harmonis. Bu Farah yang biasanya sedikit cuek dengan Luna kini terlihat sangat perhatian. apalagi Rey melihat Bu Farah sedang memijat kaki Luna.


"Mah kok Mamah mijitin Luna?" tanya Rey yang baru datang.


"Iya sayang, ini Mamah lakukan karena Mamah lagi bahagia. akhirnya kakak ipar kamu ini hamil juga." ucap Bu Susan yang masih memijat kaki menantunya.


"Wah selamat Kak Luna, aku ikut bahagia mendengar kabar baik ini."


"Terimakasih Rey" Luna tersenyum menatap Rey


Rey berlalu pergi memasuki kamarnya. dia masih termenung memikirkan Rara.


"Ini sayang pesananmu sudah datang. ayo kita makan dulu." ucap Juna yang sudah duduk di depan istri dan ibunya.


"Iya Mas" Luna mau membenarkan posisi duduknya tapi Bu Farah menolaknya.


"Sudah Lun, biar seperti ini saja. ibu masih mau mijitin kamu." ucap Bu Farah


"Tapi Luna mau makan Bu" ucap Luna


Bu Farah menatap anaknya yang sedang sibuk menata makanan pesanan luna diatas meja depan mereka.


"Biar Juna saja yang menyuapimu." ucap Bu Farah


"Iya sayang, biar aku saja ya yang menyuapimu." Juna memang berniat menyuapi istrinya. karena memang sejak mengetahui kehamilan istrinya, dia semakin perhatian.


Luna akhirnya disuapi oleh suaminya dan Bu Farah juga masih memijat kakinya.

__ADS_1


Disela-sela kegiatan makannya, Luna mencoba membicarakan sesuatu kepada Juna dan Bu Farah.


"Mas Juna, Mamah, kalau Luna mau minta izin boleh tidak?" tanya Luna kepada suami dan mertuanya.


"Loh memangnya kamu mau kemana sayang?" tanya Juna


"Aku niatnya besok akan pergi ke kontrakan Santi dan Inara. mau main disana seharian." ucap Luna


"Tapi Mas tidak mau kamu kecapean sayang." Juna bwgitu menghawatirkan istrinya yang sedang hamil.


"Luna tidak ngapa-ngapain kok Mas.kalau cuma ngobrol-ngobrol doang mana mungkin kecapenan." ucap Luna meyakinkan mereka.


"Ya sudah Mas izinin kalau itu maumu. tapi ingat, kamu jangan sampai kecapean." Juna akhirnya mengizinkan istrinya pergi.


"Mamah juga setuju sayang, asal kamu bisa menjaga diri kamu dan calon cucu mamah." ucap Bu Farah


"Terimakasih Mas, Mah" Luna tampak senang


"Sama-sama sayang" Bu Farah ikut senang melihat menantunya terlihat bahagia.


Keesokan harinya Luna sudah berpamitan untuk pergi. dia menaiki taxi online yang dipesannya. Juna menawarkan untuk mengantar tapi Luna menolaknya.


Luna sudah sampai ditempat tujuan. dia keluar dari taxi setelah membayar ongkos.


Luna berjalan menuju Apartemen mewah yang beberapa hari ini tidak dia kunjungi.


setelah memencet tombol pasword, dia segera melangkah masuk kedalam.


"Kamu sudah datang sayang" Devan tampak menyambut kedatangan kekasihnya.


"Iya sayang, aku sudah lama memendam kangen sama kamu." ucap Luna yang sudah mengalungkan tangannya dileher Devan.


"Aku juga kangen sekali sama kamu sayang." dengan tidak sabar Devan sudah memulai aksinya.


"Kamu sungguh tidak sabar sayang."ucap Luna yang memang suka dengan perlakuan Devan.


"Mana mungkin aku bisa sabar kalau tidak menyentuh kamu sayang." ucap Devan

__ADS_1


Lalu Devan menggangkat Luna dengan posisi saling berhadapan dan Luna masih mengalungkan tangannya di leher Devan.


Devan membawa Luna menuju kamar miliknya dan langsung merebahkannya di atas ranjang.


__ADS_2