Hanya Istri Siri

Hanya Istri Siri
Part_62


__ADS_3

Sampai selesai makan malam, Juna dan Putri hanya diam saja. berbeda dengan orangtua mereka yang tampak antusias menceritakan perjodohan mereka.


Setelah cukup puas mengobrol, Bu Farah mengajak semuanya untuk pulang saja. berhubung mereka juga sudah cukup lama berada di restoran itu.


Di dalam perjalanan pulang, Juna hanya diam saja. dia tidak hanya mendengarkan Bu Farah bercerita mengenai keseharian Putri. rupanya Bu Farah sudah suka dengan Putri. mengingat Putri tipe wanita yang mandiri dan pekerja keras.


"Menurut Mamah, Putri itu cocok loh sama kamu, apalagi dia tidak neko-neko orangnya." ucap Bu Farah


"Hm" jawab Juna


"Kok dari tadi kamu ham hem terus sih, memangnya kamu tidak suka dengan Putri?" tanya Bu Farah


"Tidak"


"Coba kamu buka hati kamu untuk orang lain Nak, lupakan Luna yang tidak tahu diri itu." pinta Bu Farah


"Entahlah Mah, Juna masih ragu-ragu untuk membuka hati lagi." ucap Juna karena memang dia tidak tertarik dengan Putri. apalagi dia tahu jika Putri itu teman dari mantan istrinya.


Juna tidak mau mengambil langkah yang salah. cukup sekali dia menyia-nyiakan seorang wanita dan cukup sekali dia di khianati seoarang wanita. bahkan dia belum sempat menebus semua kesalahan


di masalalu kepada Rara, tapi kini ibunya sudah punya rencana yang lain. jujur saja dia masih bingung, saat dia melihat Rara, dia selalu mengingat wanita yang sudah merebut ayahnya. tapi disisi lain dia merasa kasihan, Rara yang tidak tahu apa-apa selalu mendapat perlakuan tidak adil darinya.


Sekarang mobil yang dikendarai Juna sudah sampai di depan rumahnya. mereka segera turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah.


Bu Farah masih bercerita mengenai Putri. sedangkan Juna berjalan mendahuluinya karena sama sekali tidak tertarik mendengar ocehan ibunya. Bu Farah yang melihat tingkah putranya, langsung berjalan mengikutinya sampai di depan kamar. tapi ketika hendak membuka pintu, tidak bisa karena Juna sudah menguncinya dari dalam. memang tadi Juna langsung mengunci pintu agar tidak ada yang mengganggunya. apalagi ibunya yang tidak berhenti mengoceh.


°°°°


Pagi harinya, Juna bersiap untuk pergi


ke kantor. dia sengaja tidak sarapan dirumah untuk menghindari ocehan ibunya.


Sesampainya di kantor sudah ada Rio yang juga baru datang.


"Selamat pagi Tuan" sapa Rio

__ADS_1


"Pagi" ucap Juna dan langsung jalan melewati Rio.


Rio heran saat melihat atasannya hanya menjawab sapaan dan langsung pergi. biasanya dia bertanya mengenai pekerjaan atau janji dari klien. Rio berfikir mungkin atasannya itu lagi sibuk atau lagi ada masalah.


Tring tring (Ponsel milik Rio berbunyi)


Rio mengangkat panggilan itu dan ternyata itu panggilan telpon dari atasannya. Rio segera menuju ke ruangan atasannya setelah mendapat telpon.


Tok tok


Setelah di persilahkan masuk, Rio segera masuk ke dalam.


"Permisi Tuan, ada yang bisa saya bantu?" tanya Rio kepada atasannya.


"Saya mau mendengar saranmu. jujur saya sekarang sedang ada masalah serius."


"Bicaralah Tuan, saya siap mendengarkan."


"Saya disuruh menikah lagi. saya di jodohkan dengan anak teman Mamah."


"Iya, Mamah sudah sangat menginginkan cucu."


"Lalu, apakah Tuan menerima perjodohan itu?" tanya Rio


"Entahlah saya masih ragu-ragu. lagian saya tidak mencintai dia. dan yang lebih membuat saya ragu-ragu itu karena dia sahabatnya Rara."


"Maksud Tuan Nona Mutiara?" tanya Rio


"Iya" ucap Juna


"Menurut saya, jika anda menikah dengan sahabatnya, Nona Mutiara akan terluka untuk yang kedua kalinya. karena saat saya terakhir kali melihatnya, terlihat jelas dari pancaran matanya jika Nona Mutiara masih menyimpan rasa cinta untuk Tuan. tapi, mungkin Nona Mutiara tidak bisa berbuat apa-apa. karena Tuan sudah memiliki Nona Luna sebagai istri sah." jelas Rio


"Tapi semenjak saya sengaja pergi meninggalkannya, dia sama sekali tidak memohon kepada saya untuk tetap tinggal." ucap Juna


"Ya, itu karena Nona Mutiara sudah merelakan Anda untuk Nona Luna. dia itu wanita yang sholeha, jadi tidak mungkin berani mengusik rumah tangga orang lain. dia sebagai wanita pasti faham, bagaimana jika saat itu Nona Luna tahu bahwa Nona Rara istri Anda juga."

__ADS_1


Juna termenung memikirkan perkataan yang dikatakan oleh atasannya. ada benarnya juga yang dia katakan itu.


"Tapi jika saya kembali kepada dia juga sudah terlambat. dia sudah menikah lagi bahkan sudah mempunyai anak." jelas Juna


"Menikah? mungkin kalau menikah saya percaya. tapi kalau punya anak, saya rasa tidak akan secepat itu. apa yang Tuan maksud itu Nona Mutiara sedang hamil?" tanya Rio kepada atasannya.


"Bukan hamil, tapi dia sudah punya anak." ucap Juna


"Punya anak? saya rasa jika Nona Mutiara sudah menikah lagi, tidak mungkin jika dia sudah melahirkan." Rio merasa aneh dengan perkataan atasannya.


Juna mulai mengingat-ingat saat dia pergi begitu saja dari Rara. memang kalau dipikir belum ada satu tahun, tapi kenapa Rara sudah melahirkan.


"Yang kamu katakan ada benarnya juga. apa selama menikah dia sudah berhubungan dengan lelaki lain atau jangan-jangan..." Juna ragu melanjutkan perkataannya.


"Jangan-jangan anak Nona Mutiara itu anak Tuan." ucap Rio


"Anak saya" Juna terkejut mendengar perkataan Asistennya.


Ada benarnya juga apa yang dikatakan Rio. tapi bukankah kita hanya melakukannya sekali." Juna masih bergelut dengan pikirannya.


"Rio, saya punya tugas penting untuk kamu." ucap Juna


"Apa Tuan?


"Saya mau kamu cari informasi mengenai Rara. harus lengkap dan jangan sampai ada informasi yang tertinggal sedikitpun."


"Baik Tuan, Apa masih ada yang harus saya lakukan?" tanya Rio


"Tidak, kamu keluarlah!"


Lalu Rio segera keluar dari ruangan atasannya.


Setelah kepergian Rio, Juna kembali termenung memikirkan apa yang dikatakan oleh Asistennya.


°°°

__ADS_1


__ADS_2