
Terlihat Alvin dan Zivana keluar dari dalam hotel. kebetulan Tio yang merupakan Asisten Alvin sekaligus supir pribadi sudah menunggu. keduanya langsung masuk ke dalam mobil yang saat ini sudah terparkir di depan hotel.
"Tujuan kita kemana Tuan?" tanya Tio kepada majikannya.
"Kita ke rumah utama." jawab Alvin
Setelah menempuh perjalanan sekitar satu jam, kini mobil itu sudah sampai di halaman rumah yang sangat luas dan mewah. Tio membukakan pintu untuk Alvin. sedangkan Zivana sudah keluar sendiri.Zivana menatap bangunan mewah yang ada di depannya.
"Ngapain bengong? ayo masuk!" ajak Alvin
Zivana segera mengekor untuk masuk ke dalam.
Ketiga pembantu yang ada di rumah itu menyambut hangat kedatangan tuannya. bahkan mereka berjejer di depan pintu masuk.
"Bi, ambil dua koper itu!" pinta Alvin sambil menunjuk koper yang sedang di bawa oleh Tio.
"Baik Tuan" jawab salah satu dari mereka yang bernama Bi Salma.
Lalu Alvin menatap Tio.
"Tio, kamu ke ruang kerjaku! nanti aku menyusul." ucap Alvin menyuruh Asistennya untuk pergi terlebih dahulu.
"Baik Tuan" Tio segera pergi dari hadapan mereka.
"Bi, antar wanita ini ke kamar belakang!" pinya Alvin kepada Bi Salma.
"Tapi Tuan, di belakang itu kamar pembantu."
"Bibi mau melawan saya?" Alvin menatap tajam pembantunya itu.
"Baik Tuan" ucap Bi Salma, lalu menatap ke Zivana. "Silahkan Nyonya, biar saya antar." ucap Bi Salma ramah.
"Iya Bi, tapi nanti dulu, saya mau bicara sama Mas Alvin." ucap Zivana lalu dia langsung berbicara kepada suaminya.
"Mas Alvin, kenapa aku harus ke kamar pembantu? bukankah seharusnya aku ke kamar utama?" Zivana bertanya kepada suaminya.
"Mulai sekarang kamu tidur di kamar pembantu. karena kebetulan kamar itu kosong. dan juga semua pembantu disini tinggalnya di paviliun belakang." ucap Alvin kepada Istrinya.
"Tapi kenapa?" tanya Zivana yang masih merasa heran.
"Tidak usah banyak tanya!" kata Alvin smabil menatap tajam Zivana. lalu Alvin kembali berbicara dengan Bi Salma. "Bi, tolong ajak Zivana pergi!" pinta Alvin
"Nyonya, sebaiknya Nyonya menurut saja sebelum Tuan murka." ucap Bi Salma kepada Zivana. namun tak terdengar jelas oleh Alvin.
"Baik Bi" jawab Zivana lalu segera mengikuti Bi Salma melangkah menuju ke kamar belakang.
__ADS_1
Setelah kepergian Zivana dan Bi Salma, kini Alvin segera menemui Tio di ruang kerjanya.
Zivana menatap ruangan kecil dengan kasur yang ukurannya juga kecil. bahkan di ruangan itu tidak ada AC. hanya ada kipas angin kecil. bahkan lemari pakaian juga berbahan plastik.
Zivana mendudukan dirinya di pinggiran ranjang.
"Terima kasih Bi, Bibi sudah mengantar saya." ucap Zivana kepada Bi Salma.
"Sama-sama Nyonya, kalau ada perlu apapun tinggal panggil Bibi saja." ucap Bi Salma sambil tersenyum menatap Zivana.
"Baik Bi, tapi Bibi jangan panggil Nyonya yah, aku merasa tidak terbiasa. lebih baik Bibi panggil Zie saja." ujar Zivana yang merasa kurang nyaman.
"Tapi Nyonya itu majikan saya juga." jawab Bi Salma
"Plis, Bibi mau yah"
"Baiklah, tapi Bibi panggilnya Neng Zivana." kata Bi Salma
"Terserah Bibi saja, yang penting jangan panggil Nyonya."
Setelah selesai mengobrol, Bi Salma segera keluar dari kamar itu. Bi Salma merasa kasihan karena Zivana harus tidur di kamar kecil seperti itu.
Zivana menatap ruangan yang sangat kecil itu. dia merasa jika Alvin menganggapnya sebagai pembantunya. bukan sebagai Istrinya. dia tidak tahu sebenarnya kenapa Alvin memperlakukannya seperti itu. padahal saat mereka berpacaran Alvin sangat baik. namun saat ini ibarat bukan Alvin yang dia kenal selama ini. Alvin yang sekarang terlihat arogan dan dingin.
Tok tok
Zivana mendengar pintu kamarnya di ketuk dari luar. dia segera membuka pintu itu. dia melihat suaminya sedang berdiri di depan pintu.
Alvin melempar daster rumahan kepada Zivana.
"Pakai ini!" ucap Alvin
"Tapi, aku juga punya baju banyak. ngapain pakai baju seperti ini?"
"Kalau tidak menurut, malam ini kamu tidur di luar rumah." ucap Alvin mengancam Zivana.
"Baiklah" Zivana kembali menutup pintu kamarnya karena dia akan berganti pakaian.
Berani-beraninya dia menutup pintu saat aku masih berdiri disini." gumam Alvin sambil menatap pintu kamar yang sudah tertutup.
Alvin menghampiri Bi Salma yang sedang membawa alat-alat kebersihan.
"Bi, apa sudah semua?" tanya Alvin
"Sudah Tuan, sapu, alat pel, lap, sudah ada semuanya. tapi ini buat apa Tuan?"
__ADS_1
"Bibi pegang dulu saja, nanti juga Bibi tahu." ucap Alvin kepada Bi Salma.
Kemana sih ini orang lama sekali." gumam Alvin lalu kembali mendekati kamar Zivana.
Brak brak brak
Alvin mengetuk keras pintu kamar itu. Zivana keluar dari dalam. Alvin menarik Zivana dan kini sudah berdiri di luar kamar.
"Bi, kasih semua alat kebersihan itu kepada dia." ucap Alvin sambil menatap Bi Salma dan menunjuk Zivana dengan tangannya.
"Baik Tuan" Bi Salma hanya menurut. dia tak mau banyak membantah karena resikonya sangat besar. bisa saja dia di pecat dari pekerjaannya.
"Untuk apa ini?" tanya Zivana yang melihat alat kebersihan sudah tertata rapi di depannya.
"Kamu bersihkan semua sudut ruangan ini. jangan sampai ada debu sedikitpun." ucap Alvin menyuruh Istrinya.
"Tapi kenapa harus aku? disini ada Bibi loh." Zivana membantah perintah suaminya. menurutnya itu sangat berlebihan jika dirinya harus melakukan semua itu.
"Mulai sekarang ini semua tugasmu." ucap Alvin
"Tapi--" Zivana hendak menolak namun Alvin sudah menatapnya tajam. sehingga dia bungkam tak melanjutkan perkataannya.
Pantas saja Tuan Alvin meminta jika hari ini kita jangan beres-beres. mungkin sengaja dia lakukan agar Istrinya yang mengerjakan semuanya. tapi Bibi kasihan sama Neng Zivana." batin Bi Salma
"Kenapa Bibi masih disini?" tanya Alvin sambil menatap Bi Salma.
"Eh maaf Tuan, kalau begitu saya permisi." setelah mengatakan itu Bi Marni segera pergi dari hadapan majikannya.
"Kenapa masih diam? cepat kerjakan!" ucap Alvin memerintah Istrinya.
"Baik Mas Alvin" jawab Zivana
"Mulai sekarang panggil saya Tuan seperti pelayan lainnya. karena derajat kamu dan mereka itu sama." ucap Alvin
"Tapi aku ini Istrimu yang sah secara hukum dan agama. Mas Alvin tidak boleh memperlakukanku seperti ini. aku bisa saja menuntut Mas Alvin." entah keberanian dari mana, Zivana berani mengatakan semua itu. walaupun bisa saja Alvin akan marah, tapi setidaknya dia mengatakan haknya sebagai seorang Istri.
"Hahahaha silahkan kalau bisa. mau pakai apa kamu menuntutku? pakai buku nikah? kartu keluarga? bahkan kita tidak memiliki semua itu." ucap Alvin kepada Istrinya.
"Bukannya Mas Alvin sudah mendaftarkan pernikahan kita?"
"Jangan mimpi! aku ini banyak uang. hukum saja bisa aku beli." ucap Alvin lalu segera pergi dari hadapan Istrinya. baginya semakin lama bicara dengan Zivana hanya membuatnya emosi.
Zivana tidak menyangka sama sekali dengan apa yang di katakan oleh suaminya. dengan teganya Alvin hanya menikahinya secara siri dan itu tanpa sepengetahuannya. itu sama sekali tidak ada di fikiran Zivana selama ini. dia yang mempuanyai niat menikah untuk meraih kebahagian tapi malah yang dia dapat penderitaan. Zivana mulai mengerjakan pekerjaan rumah dengan mata sembab.
°°°
__ADS_1