Hanya Istri Siri

Hanya Istri Siri
S2_Episode 61


__ADS_3

"Non Sela, Bagaimana keadaan Non?" tanya Lina


"Aku tidak apa-apa kok," jawab Sela


"Apa Non Sela sudah tahu penyakit yang Non Sela derita?" Kini Bi Asih juga bertanya kepada Sela.


"Belum, memangnya saya sakit apa?"


Lina dan Bi Asih saling tatap.


"Biar Dokter yang menjelaskan," Bi Asih melihat Pak Dokter yang berdiri tak jauh darinya.


"Maaf sebelumnya Nona Sela, karena saya harus mengatakan ini. Nona menderita kanker otak stadium awal. Dan itu harus segera di tangani agar tidak bertambah parah. Namun jika mau melakukan pengobatan, dengan terpaksa kandungan Nona harus di gugurkan." jelas Pak Dokter


"Apa Dok, saya menderita kanker?" Sela menutup mulutnya rapat-rapat. Dia begitu terkejut mendengar kenyataan itu.


"Semua pilihan ada di Nona, kalau begitu saya permisi dulu," setelah mengatakan itu, Pak Dokter langsung pergi dari hadapan mereka.


Setelah kepergian Pak Dokter, Bi Asih memberanikan diri untuk bertanya kepada Sela.


"Bagaimana Non? Apa keputusan Non Sela?"


"Aku belum bisa mengambil keputusan sekarang, Bi. Tolong yah Bi, Lin, jangan kasih tahu ini kepada Eza. Aku tidak mau jika Eza mengetahui penyakitku."


"Tapi Non, Bagaimanapun juga Den Eza harus tahu." ucap Bi Asih


"Jangan! Jangan kasih tahu dia!"


"Baiklah, mungkin Non Sela belum siap untuk mengatakannya kepada Den Eza."


Tring


Sela mendengar notif pesan masuk dari ponselnya. Dia mengambil ponsel miliknya yang ada di dalam tas. Kebetulan tadi Lina yang membawa tas milik Sela. Dan di dalamnya sudah lengkap dengan barang miliknya. Karena niatnya, tadi Sela juga akan pergi periksa kandungan.


Sela membuka pesan masuk yang di kirimkan oleh Eza. Ternyata Eza sudah berada di Vila. Dan sekarang dia mencari keberadaanya.


"Bi Asih, Lina, ini Eza kirim pesan katanya sudah sampai di Vila. Nanti aku kasih tahu jika aku sedang di rumah sakit dan sudah periksa kandungan. Kalian tolong aku yah, ikutlah bersandiwara di depan Eza." pinta Sela


"Non Sela yakin tidak akan jujur saja?" tanya Lina


"Saya yakin, setidaknya sampai saya siap untuk mengatakan semua ini kepada Eza."


"Baiklah, kami hanya menurut," ucap Lina

__ADS_1


Sela meminta kepada Dokter untuk menginjinkannya pulang lebih awal.


Kini mereka bertiga berjalan keluar dari rumah sakit. Lina dan Bi Asih berjalan di sebelah Sela. Mereka membantu menuntun Sela karena Sela masih sedikit pusing.


Tin


Eza membunyikan klakson mobilnya. Dia menatap ketiga wanita yang beda usia itu dari kaca mobilnya.


"Ayo masuk! Maaf yah aku telat, tadi sedikit macet di perjalanan," ucap Eza


"Tidak apa-apa kok, Za." ucap Sela


Sela masuk ke dalam mobil. Dia duduk di sebelah Eza. Sedangkan Lina dan Ibunya duduk di kursi belakang.


Sela dan Eza saling mengobrol di sepanjang perjalanan.


Kini mobil yang di kendarai Eza sudah sampai di depan Vila. mereka berempat segera turun dari mobil. Bi Asih dan Lina masuk ke Vila terlebih dahulu.


Sela dan Eza melangkah menuju ke ruang tamu. Mereka duduk disana sambil mengobrol.


"Za, tumben kamu datang sendiri?"


"Iya, kebetulan Farizki sedang ada pertemuan di luar kota."


"Za, ada yang mau aku bicarakan," ucap Sela sambil menatap Eza.


"Mulai bulan depan, kamu tidak usah bolak-balik kesini hanya untuk mengantar aku periksa kandungan. Aku bisa pergi sendiri kok. Lagian ada Bi Asih dan Lina yang mengantar."


"Tidak bisa seperti itu, Sel. Lagian aku tidak ingin lepas tanggung jawab untuk anak yang kamu kandung."


"Berarti kalau aku minta nikah, kamu mau?"


"Nikah?" sejenak Eza memikirkan perkataam Sela. Baru pertama kalinya Sela membicarakan pernikahan.


"Aku tahu kok kalau kamu tidak mau, siapa coba yang mau dengan wanita sepertiku," ucap Sela


"Bukan seperti itu kok."


"Sudahlah, tidak usah di bahas lagi. Aku hanya bercanda kok." Sela tersenyum menatap Eza yang kini sedang duduk di sebelahnya.


Obrolan mereka terhenti saat Lina datang.


"Non Sela, lebih baik Non makan dulu karena harus minum obat."

__ADS_1


"Obat?"


"Em itu loh vitamin ibu hamil, kan sama saja rasanya pahit kayak obat." ucap Sela


"Oh, kirain obat apaan," ucap Eza


Sela dan Eza beranjak dari duduknya. Mereka melangkah menuju ke ruang makan. Eza akan menemani Sela makan dan minum obat.


°°


Bu Rara melihat Eza yang sedang melangkah memasuki rumah. Kebetulan dia baru pulang dari puncak.


"Za, ini hampir malam loh. Kok kamu baru pulang?"


"Iya Mah, tadi macet di jalan," jawab Eza


"Macet atau memang kamu habis pacaran?"


"Maaf Mah, tadi Sela minta di temani," jawab Eza


"Mamah sudah menduganya."


"Hanya sebentar kok, Mah. Lagian kita tidak ngapa-ngapain."


"Ingat, Za. Kamu tidak boleh berhubungan lagi dengan Sela. Selain urusan tanggung jawab terhadap anaknya."


"Iya, Mah. Tidak kok," ucap Eza


Setelah selesai mengobrol, Eza melangkah menuju ke kamarnya.


Terlihat Pak Juna baru keluar dari kamarnya. Pak Juna menghampiri Istrinya yang masih diam di tempatnya berdiri.


"Mah, lagi ngapain?" Pak Juna menghampiri Istrinya.


"Tidak kok Pah, tadi habis mengobrol sama Eza."


"Eza sudah pulang?"


"Sudah, Pah. barusan," ucap Bu Rara


"Kalau begitu Papah mau ke kamar Eza dulu yah, Mah. Ada yang ingin Papah bicarakan sama dia."


"Bicara apa, Pah?" Bu Rara penasaran dengan apa yang akan suaminya bicarakan dengan anaknya.

__ADS_1


"Ini pembahasan antar lelaki, Mamah tidak perlu tahu," setelah mengatakan itu Pak Juna langsung pergi dari hadapan Istrinya.


°°°


__ADS_2