Hanya Istri Siri

Hanya Istri Siri
S2_Episode 68


__ADS_3

Tak terasa sudah lima bulan Eza dan Sela resmi menjadi pasangan suami Istri. Namun hanya status saja yang suami istri. Mereka tidak tinggal satu atap. Eza harus bolak-balik ke Apartemen jika dia akan menemui Sela. Beruntung sekarang dia magang di kantor Alvin. Dia juga tinggal di mess perusahan. Jadi itu lebih mudah untuk dia pergi menemui Sela.


Sela sangat pintar menutup rapat penyakitnya dari semua orang. Bahkan dia selalu memakai make up agar wajah pucatnya tidak kelihatan.


Saat ini Sela tinggal di sebuah Apartemen mewah milik Alvin. Alvin sengaja menyuruh Sela tinggal disana karena dekat dari kantor Arganta Group. Itu berarti Eza bisa datang kesana kapan saja karena jaraknya dekat. Lina juga ikut tinggal disana menemani Sela. Namun Bi Asih tidak ikut, karena harus tetap mengurus Vila di puncak. Eza juga berterima kasih kepada Alvin karena sudah memperbolehkan Sela tinggal di sana.


"Aduh," Sela terjatuh ke lantai saat hendak melangkah menuju ke kamarnya.


"Nona, sini biar Lina bantu!" Lina membantu Sela berdiri dan memapahnya hingga ke kamar.


Lina membantu membaringkan Sela keatas kasur.


"Biar Lina ambilkan obat dulu," Lina menbuka laci meja kecil yang ada di dekat ranjang. Dia mengambil obat-obatan yang akan di minum oleh Sela.


"Sebentar Non, Lina ambil minum dulu," Lina buru-buru pergi untuk mengambil air minum di dapur.


Lina sudah kembali dengan membawa satu gelas air putih.


Sela segera meminum obatnya yang ada beberapa macam itu.


Glek glek


Sela menaruh kembali gelas itu di atas meja. Dia segera berbaring untuk menahan rasa sakitnya. Lina menyelimuti Sela lalu duduk di pinggir ranjang.


"Sampai kapan Nona Sela menutupi penyakit ini dari semua orang?" tanya Lina

__ADS_1


"Sampai anak ini lahir, saat itu aku akan bicara jujur kepada Mamah dan Eza."


Lina merasa kasihan melihat Sela. Karena Sela berjuang sendirian menghadapi penyakitnya. Terkadang Sela juga bersikap seperti sedang baik-baik saja jika di hadapan Eza. Bahkan dia juga memakan makanan yang menjadi pantangannya. Itu semua dia lakukan agar Eza tidak mencurigainya.


"Baiklah, Lina selalu siap menjaga Nona. Lina harap, Non Sela mau bercerita apa pun itu yang menjadi beban fikiran Nona. Lina siap mendengar semuanya."


"Iya, Lin. Namun untuk saat ini aku belum mau bercerita apa pun," ucap Sela


"Non Sela istirahat yah, Lina keluar dulu," Lina beranjak dari duduknya lalu keluar dari kamar itu.


°°


Eza baru keluar dari Mess. Niatnya dia akan menemui Sela di Apartemennya. Namun, Eza melihat Zivana yang sudah berdiri di depan mobilnya.


"Tumben Kakak kesini?" Eza menghampiri Zivana yang sedang menunggunya.


"Tumben sekali, memangnya ada apa?"


"Ikut saja! Nanti juga kamu tahu."


Eza membuka pintu mobil lalu masuk. Begitu juga dengan Zivana yang kembali masuk ke mobil. Zivana segera tancap gas meninggalkan area mess perusahaan. Di perjalanan, Eza bertanya kepada Zivana. namun Zivana hanya bungkam tidak manjawab apa pun.


Kini mobil yang di kendarai Zivana sudah sampai di depan kediaman Dirgantara. Kedunya segera keluar dari mobil. Eza mengikuti Zivana yang sudah melangkah terlebih dahulu.


Mereka masuk ke rumah. Ternyata Pak Juna dan Bu Rara sudah menunggu kedatangan mereka. Farizki juga berada disana.

__ADS_1


Zivana dan Eza segera duduk di hadapan orang tuanya.


"Eza, Papah sudah curiga sama kamu. Orang suruhan Papah juga melaporkan jika kamu sering keluar dari mess dan kamu datang ke sebuah Apartemen mewah," Pak Juna menaruh amplop coklat ke atas meja. Di dalam amplop itu terdapat beberapa foto hasil jepretan orang suruhannya.


Eza mengambil amplop coklat itu lalu membukanya. Dia terkejut saat melihat foto dirinya bersama Sela. Bahkan ada foto saat mereka sedang berpelukan.


Eza menunduk di hadapan orang tuanya. Dia takut jika harus bicara jujur.


"Coba katakan sama Papah, apa kamu sudah melakukan tes DNA? Kenapa kamu semakin menjadi-jadi? Papah melarang kamu berhubungan dengan wanita itu, tapi sampai sekarang kamu masih tetap egois."


"Maaf, Pah" hanya kata itu yang keluar dari mulut Eza.


"Papah tidak butuh kata maaf, tapi butuh penjelasan. Untuk apa kamu mengulur waktu tes DNA?"


"Maaf, Pah. Tapi Eza tidak mau tes DNA saat anak itu belum lahir," jawab Eza yang masih menunduk.


"Baiklah jika itu maumu, dua bulan lagi Sela melahirkan, dan Papah ingin secepatnya kamu melakukan tes DNA saat anak itu lahir. Dan satu lagi, kamu tidak boleh tinggal di mess lagi. Mulai sekarang kamu tinggal di rumah ini."


"Baik, Pah." terpaksa Eza akan tinggal lagi bersama orang tuanya. Mungkin untuk kedepannya dia akan susah untuk menemui Sela. Sebenarnya dia merasa khawatir. Apalagi akhir-akhir ini dia merasa jika Sela sedang menyembunyikan sesuatu darinya.


"Sekarang berikan ponsel kamu sama Papah," pinta Pak Juna


"Tapi Pah," Eza merasa enggan untuk memberikan ponselnya.


"Tidak ada penolakan!"

__ADS_1


Eza mengambil ponsel di saku celananya. Lalu memberikan ponselnya kepada Ayahnya.


°°°


__ADS_2