
Zivana sudah memberitahu Desi jika mulai besok ikut pergi ke kantor untuk menjaga Baby Rayan. Desi hanya menurut saja. Karena menjaga Rayan adalah tugasnya.
Zivana masuk ke kamarnya. Dia melihat suaminya yang sedang sibuk bertelfonan.
"Mas, lagi telfon siapa?" tanya Zivana
"Ini lagi telfon Tio, Mas minta Tio urus semuanya untuk ruang bermain yang akan di siapkan untuk Rayan."
"Tapi ini sudah malam loh, Mas."
"Tidak apa-apa, sayang. Lagian sudah menjadi tugas Tio untuk mengerjakan semua perintah Mas."
"Tapi kasihan loh, mungkin malam-malam seperti ini, Tio juga ingin bersantai bersama anak istrinya." kata Zivana
"Haha, Tio itu bujang lapuk. Belum nikah dia, pacar saja tidak punya."
"Mas Alvin ih jangan ngetawain, kasihan tahu."
"Coba deh kamu kenalin teman wanita kamu ke dia, Siapa tahu cocok." ucap Alvin
"Siapa yah," Zivana tampak berfikir.
"Tidak usah sekarang juga, lebih baik sekarang kita tidur saja. Tapi sebelum tidur..." Alvin menatap paha mulus istrinya. Kebetulan Zivana memakai piyama pendek.
"Tidak ada jatah, Zie lagi ada tamu bulanan." ucap Zivana
"Yah, kok tidak jadi-jadi sih. sia-sia deh perjuangan Mas siang malam." ucap Alvin
"Hehe, maaf Mas, sebenarnya Zie program Kb. Biar jangan hamil dulu, masa hamil terus sih kaya kucing saja."
"Nah kan," Alvin langsung menidurkan dirinya membelakangi istrinya.
"Jangan marah, Mas." Zivana memeluk suaminya dari belakang.
Alvin langsung membalikan badannya. Dia menatap istrinya dengan jarak yang sangat dekat.
"Tapi kamu harus hamil yah," ucap Alvin sambil memegang perut istrinya.
"Bulan depan aku tidak akan minum pil KB lagi. Kalau memang Mas Alvin menginginkan aku untuk cepat-cepat hamil."
"Nah gitu dong," Alvin mempererat pelukannya.
Mereka memejamkan kedua matanya dan tidur dengan saling berpelukan.
°°
__ADS_1
Alvin baru bangun, namun dia tidak melihat istrinya ada di sebelahnya. Alvin beranjak dari tempat tidur. Dia mencari keberadaan istrinya ke kamar mandi. Namun Zivana tidak ada di sana. Akhirnya Alvin mencari istrinya di luar kamar.
Alvin melihat pintu kamar anaknya yang tidak tertutup. Dia berdiri di depan pintu sambil melihat istrinya yang sedang sibuk.
"Sayang, kamu lagi ngapain?" tanya Alvin.
"Aku lagi menyiapkan pakaian Rayan dan mainan yang akan di bawa," ucap Zivana.
"Astaga, kok sepagi ini sih sayang?"
"Ini sudah siang, Mas. sudah jam enam. Cepat kamu mandi! Satu jam lagi kita pergi ke kantor."
"Siap sayang, kamu semangat sekali nih sepertinya," Alvin pergi dari sana. Dia kembali ke kamarnya untuk mandi dan bersiap.
Alvin dan Zivana sudah sarapan bersama. Kali ini mereka akan berangkat ke kantor. Desi dan Baby Rayan juga sudah bersiap untuk pergi.
Saat ini mereka sudah di perjalanan menuju ke kantor. Sejak tadi Alvin mencuri pandang kepada istrinya yang duduk di sebelahnya.
"Mas, kenapa lihatin aku terus?" tanya Zivana.
"Kamu hari ini terlihat cantik," ucap Alvin memuji istrinya.
"Benarkah?" Zivana merasa senang karena Alvin memujinya.
"Bagus dong, itu berarti Zie mempesona."
"Bukan mempesona, tapi tebar pesona." kata Alvin
"Biarin, biar berondong di kantor Mas pada mendekat."
"Mana ada berondong di kantor, adanya bujang lapuk." kata Alvin lalu kembali fokus mengemudi.
Sepanjang perjalanan mereka asyik bercerita. Hingga tak sadar jika mobil yang di kendarai Alvin sudah sampai di depan perusahaannya.
Setelah Alvin memarkirkan mobilnya, mereka segera turun dari mobil. Alvin dan Zivana jalan berdampingan. Sedangkan Desi jalan di belakang mereka dengan menggendong Baby Rayan dan membawa tas berisi pakaian dan mainan.
Semua karyawan menyambut hangat kedatangan atasan mereka. Zivana hanya tersenyum saat berpapasan dengan karyawan suaminya.
Saat ini mereka sudah sampai di lantai paling atas. Alvin dan Zivana mengantar Desi ke ruangan bermain yang bertepatan di sebelah ruang kerjanya.
Cklek
Zivana merasa kagum melihat ruangan yang sudah di dekorasi sedemikian rupa. Bahkan di dalamnya banyak mainan anak-anak.
"Mas, ini yang nyiapin Asisten Tio?" tanya Zivana.
__ADS_1
"Iya, sayang. Kamu suka tidak?"
"Suka, Mas. Ini sih Zie bisa numpang tidur disini."
"Jangan dong sayang, kalau tidur kita bisa di kamar pribadi yang ada di ruangan Mas." kata Alvin.
Hanya sebentar Alvin dan Zivana di ruangan itu. Zivana meminta Desi untuk menjaga anaknya dan mengajaknya bermain. Lalu dirinya kembali keluar ruangan itu karena harus bekerja.
Mereka berdua masuk ke ruangan Alvin. Alvin sengaja menyediakan meja kerja sekretarisnya di dekat meja kerjanya. Itu semua dia lakukan agar dia tetap dekat dengan istrinya.
Alvin menghampiri Zivana untuk memberikan tugas yang harus di kerjakan olehnya. Lalu dia kembali duduk di kursi kebesarannya. Sejak tadi Alvin hanya memperhatikan istrinya yang sedang bekerja. Dia menopang kepalanya dengan satu tangannya.
"Cantik yah, Pak." ucap seseorang dari depan Alvin. Namun Alvin masih tetap menatap istrinya.
"Iya, cantik." jawab Alvin
"Tapi sayang milik orang lain," ucap Asisten Tio yang sedang menatap Zivana.
Alvin mengalihkan arah pandangnya. Dia melihat Asiten Tio sedang berdiri di depannya sambil menatap istrinya.
"Ngapain melihat istri saya seperti itu?" tanya Alvin.
Kini Asisten Tio sudah menatap Alvin.
"Maaf, Pak. Saya hanya bercanda. Habisnya Pak Alvin serius amat lihatin Nona Zivana."
"Bukan hanya melihat, saya sering merasakannya."
Asisten Tio merinding saat mendengar perkataan atasannya.
"Maaf Pak, ini berkas kerja sama yang harus Pak Alvin cek kembali. Kalau begitu saya permisi," Asisten Tio langsung pergi dari hadapan Alvin.
"Hahahahahaha..." Alvin tertawa sambil menatap kepergian Tio.
"Mas, kamu kenapa?" tanya Zivana yang kini menatap suaminya.
"Tidak kok, Tadi lihat ekspresi Tio bikin Mas ingin tertawa."
"Memangnya kenapa?" tanya Zivana.
"Nanti saja Mas jelasin kalau jam istirahat. Sekarang kita kembali kerja."
Zivana kembali fokus menatap layar laptopnya. Begitu juga Alvin yang mulai untuk mengerjakan pekerjaannya.
°°°°
__ADS_1