Hanya Istri Siri

Hanya Istri Siri
S2_Episode 115


__ADS_3

Dua minggu kemudian,


Hari ini merupakan hari pernikahan Asisten Tio dan Desi. Pernikahan mereka di lakukan di kediaman Asisten Tio. Sengaja pernikahan itu di lakukan secara sederhana karena mengingat Azriel yang masih kecil, bahkan belum genap satu bulan.


Zivana dan Alvin baru datang di rumah Asisten Tio. Dia memakai pakaian couple agar terlihat serasi. Keduanya menghampiri Asisten Tio yang sedang menyambut tamu. Zivana memberikan kado yang dia bawa. Lalu dia memilih untuk mencari tempat duduk.


Terlihat Pak penghulu yang baru datang dan menghampiri Asisten Tio.


Acara ijab qabul akan segera di mulai. Zivana memanggil Desi yang masih ada di kamar. Zivana masuk ke kamar yang kebetulan tidak terkunci.


"Kak Desi," ucap Zivana yang baru masuk.


Desi menengok menatap Zivana.


"Wah, Kak Desi cantik sekali," Zivana mendekati Desi yang sedang duduk.


"Terima kasih, Nona Zie juga cantik." Desi kembali memuji Zivana.


"Oh iya Kak, ayo kita keluar! Itu penghulunya sudah datang." pinta Zivana.


"Iya," Desi beranjak dari duduknya. Kini Desi keluar dari kamar bersama dengan Zivana dan beberapa pagar ayu yang akan mendampinginya nanti.


Asisten Tio terus menatap Desi yang sedang melangkah ke arahnya. Desi terlihat begitu cantik dengan memakai balutan kebaya berwarna putih. Kini Desi sudah duduk di sebelah Asisten Tio.


Pak penghulu mulai menikahkan mereka berdua. Semua yang hadir ikut senang saat mendengar Asisten Tio melafadzkan ijab qabul dengan lancar. Kini Asisten Tio dan Lina sudah sah menjadi suami istri.


Asisten Tio melihat Desi yang sedang mengusap sudut matanya.


"Kamu kenapa menangis?" tanya Asisten Tio.


"Aku terharu, akhirnya aku memiliki keluarga," ucap Desi.


Asisten Tio memeluk Desi dan menepuk-nepuk pelan punggungnya.


"Aku juga senang karena bisa menikahimu," ucapnya.


Semua tamu undangan yang hadir bertepuk tangan melihat kemesraan mereka berdua.


Setelah selesai ijab qabul, satu persatu tamu yang hadir memberikan selamat untuk kedua mempelai. Setelah itu mereka langsung menikmati hidangan yang telah di sediakan.


Saat ini Asisten Tio dan Desi berdiri di pelaminan yang di dekorasi secara sederhana. Mereka akan berfoto-foto disana. Azril juga ikut berfoto bersama orang tuanya. Begitu juga dengan semua keluarga Pak Juna yang ikut berfoto.


Setelah selesai berfoto, Alvin mengajak istrinya untuk duduk. Karena kasihan melihat istrinya yang sejak tadi menggendong Azela.


Hanya satu jam Alvin dan Zivana berada disana. Mereka langsung pulang karena melihat anak-anaknya yang sudah mengantuk.


°°°


...


Desi masuk ke kamarnya, dia melihat suaminya yang baru keluar dari kamar mandi.


"Kamu sudah mandi belum?"

__ADS_1


"Belum, tadi habis memberi ASI ke Azriel," ucap Desi.


"Cepat mandi dulu! Ini hampir malam loh," ucapnya.


"Iya, ini juga mau," ucap Desi.


Asisten Tio menatap ranjangnya sudah di dekorasi sedemikian lupa. Banyak kelopak mawar merah di atas kasur yang di bentuk hurup love. Asisten Tio hanya tersenyum sambil memikirkan nanti malam.


Asisten Tio menunggu istrinya yang masih mandi.


Tak lama, pintu kamar mandi terbuka. Desi keluar sudah dengan pakaian yang rapih. Dia sengaja berganti pakaian di dalam karena malu sama suaminya.


"Desi, malam ini apakah kita akan..." Asisten Tio menggantungkan perkataannya.


Oek oek


Terdengar tangisan Azriel dari luar kamar.


"Sebentar yah Kak, itu Azriel menangis," kata Desi.


Desi membuka pintu kamarnya. Dia melihat Baby Sister anaknya sedang menggendong anaknya yang menangis.


"Azriel kenapa?" tanya Desi.


"Sepertinya mengantuk," jawabnya.


Desi mengambil Azriel lalu menggendongnya. Dia membawa anaknya ke kamar sebelah.


Asisten Tio membuka pintu kamar anaknya. Dia melihat istrinya sedang me*nyusui anaknya.


"Sayang, Azriel kenapa?" tanya Asisten Tio.


"Anak kita mengantuk, ini Desi kasih ASI biar dia cepat tidur." kata Desi.


Yes, jika Azriel tidur, itu berarti aku bakalan bisa malam pertama," batin Asisten Tio.


"Ya sudah, aku keluar saja." setelah mengatakan itu, Asisten Tio keluar dari ruangan itu.


Desi sudah menidurkan anaknya. Dia kembali keluar kamar dan meminta baby sisternya untuk menjaga anaknya.


Desi masuk ke kamar dan mengajak suaminya untuk makan malam bersama.


Kini keduanya sudah berada di ruang makan. Sesekali Asisten Tio menyuapi istrinya.


Setelah selesai makan malam, mereka memilih untuk bersantai di ruang keluarga.


Setelah cukup lama bercerita, Asisten Tio mengajak istrinya ke kamar. Desi hanya menurut saja dengan istrinya.


Saat ini mereka hendak masuk ke kamar. Namun mereka menghentikan langkahnya saat mendengar pintu kamar sebelah terbuka.


"Kak Desi, itu Azriel menangis lagi. Saya sudah menenangkan tapi tetap saja menangis."


"Biar saya masuk, kamu kembali saja ke kamarmu." pinta Desi.

__ADS_1


"Baik, Kak." ucapnya.


Asisten Tio juga ikut masuk ke dalam kamar anaknya.


Desi mulai menimang-nimang anaknya. Namun Azriel tidak tidur juga. Akhirnya dia me*nyusui anaknya sambil tiduran di atas kasur.


Asisten Tio sudah tidak lagi mendengar tangisan anaknya. Dia menghampiri anak dan istrinya. Ternyata Azriel memang sudah tidur, namun ternyata istrinya juga sudah tidur.


Yah, malam ini gagal," batin Asisten Tio.


Asisten Tio naik ke atas ranjang dan ikut tidur bersama anak dan istrinya.


°°°


Di lain tempat, yaitu di sebuah kamar yang mewah, saat ini Alvin dan Zivana sedang melakukan kegiatan panas. Setelah lama berpuasa, akhirnya Alvin bisa melakukannya lagi bersama istrinya. Alvin tak sedikitpun menbiarkan istrinya beristirahat. Tengah malam, barulah mereka selesai dengan kegiatan panas mereka.


Cup


"Terima kasih, sayang." ucap Alvin sambil mengecup singkat kening istrinya.


"Sama-sama, Mas." jawab Zivana.


"Sayang, jangan tidur dulu yah."


"Memangnya kita mau ngapain lagi?"


"Mas hanya ingin sedikit bercerita," ucap Alvin.


"Boleh, Zie siap mendengarkan," ucap Zivana.


"Entah harus berkata dari mana dulu. Mas begitu bahagia memiliki kamu dan anak-anak kita. Terima kasih yah, karena sudah menjadi pendamping yang baik. Jujur saja setelah Mas kehilangan Papah Devan, tidak ada lagi yang mendampingi Mas. Tidak ada lagi yang mencintai Mas. Namun setelah kamu datang ke kehidupan Mas, rasanya berbeda. Seolah rasa hampa itu telah terisi dengan cinta." ucap Alvin sambil menatap istrinya.


Saat ini keduanya saling berhadap-hadapan.


Zivana membelai wajah suaminya.


"Aku juga sangat mencintai Mas Alvin. Bahkan sejak kita pacaran, walaupun akhirnya aku tahu jika Mas Alvin hanya mempermainkanku. Memang sempat ada keinginan untuk aku pergi. Aku tidak mau lagi bersatu dengan Mas Alvin. Tapi mungkin memang kita sudah di takdirkan untuk bersama. Dan kehamilanku saat itu yang menjadikan kita bersatu lagi." ucap Zivana, namun dia menghentikan perkataannya. Dia mengusap air matanya yang menetes di sudut matanya.


"Kenapa menangis?" Alvin ikut mengecup singkat pipi istrinya yang basah.


"Aku hanya terharu, sekarang aku melihat Mas Alvin yang begitu mencintaiku. Bahkan sangat menyayangi Rayan dan Azel. Zie merasa jika saat ini menjadi seorang istri yang paling beruntung. Terima kasih, Mas. Aku sangat mencintaimu." ucap Zivana lalu mengecup singkat bibir suaminya.


"Sama-sama, sayang. Mas juga sangat sangat sangat mencintai kamu." kata Alvin.


Zivana memeluk suaminya dan menenggelamkan kepalanya di dada bidang suaminya.


"Sekarang tidurlah," kata Alvin.


"Iya, Mas."ucap Zivana.


Kini keduanya mulai memejamkan kedua matanya.


°°°°

__ADS_1


__ADS_2