
Zivana sedang bersantai bersama suaminya sambil menikmati secangkir teh hangat. Kebetulan hari ini Alvin libur kerja. Jadi dia bisa sepuasnya menghabiskan waktunya bersama anak dan istrinya.
"Sayang, Rayan dimana?" tanya Alvin sambil menatap istrinya yang sedang membaca majalah fashion.
"Lagi mandi, Mas. Paling bentar lagi Kak Desi mengajaknya berjemur," ucap Zivana tanpa mengalihkan arah pandangnya.
Terlihat Desi menggendong Baby Rayan. Dia melangkah mendekati Alvin dan Zivana.
"Permisi Nona Zie, Tuan Alvin, ini Rayan sudah selesai mandi. Saya mau mengajaknya berjemur di luar." ucap Desi yang kini ada di hadapan Alvin dan Zivana.
"Biar sama saya saja berjemurnya," ucap Zivana lalu mengambil Rayan dari gendongan Desi.
Tok tok
Mereka mendengar ketukan pintu dari luar rumah.
"Kak Des, tolong dong bukain pintu!" pinta Zivana
"Baik Nona," Desi beranjak dari tempatnya berdiri.
Cklek
Desi membuka pintu rumah.Ternyata yang datang itu Eza. Desi mempersilahkan Eza untuk masuk.
"Silahkan masuk, Tuan!" ucap Desi
"Terima kasih," ucap Eza
"Sama-sama," jawab Desi sambil tersenyum menatap Eza.
Eza masuk ke rumah dengan menenteng bungkusan makanan untuk Zivana.
"Hy jagoan tampan," Eza menyapa Baby Rayan yang berada di gendongan Zivana.
"Hy juga uncle jelek," ucap Zivana dengan suara yang menirukan anak kecil.
"Kakak jangan seperti itu dong, masa ngajarin anaknya untuk ngatain aku jelek."
"Hehe bercanda kali, tumben kamu datang?" Zivana kembali mendudukan dirinya di sofa.
Eza juga mendudukan dirinya di sofa.
"Iya nih, mau antar makanan kesukaan Kakak, ini Mamah yang buatin," Eza menaruh bungkusan makanan yang dia bawa ke atas meja.
"Makasih yah, Mamah perhatian sekali loh," Zivana langsung menyambar bungkusan makanan itu lalu membukanya.
"Nih Rayan sama kamu dulu," Zivana mendudukan Rayan di pangkuan Eza.
"Eh, aku mau langsung pergi lagi Kak," ucap Eza yang kembali memberikan Baby Rayan kepada Zivana.
"Mau kemana?" tanya Zivana
"Mau ke puncak, biasa Kak mau antar Sela periksa kandungan," ucap Eza
"Ekhm kayaknya beneran suka nih sama Sela," sahut Alvin ikut berbicara.
"Entahlah, yang pasti untuk saat ini hanya ingin tanggung jawab saja sama anak yang sedang di kandung olehnya."
__ADS_1
Eza men*cium gemas Baby Rayan yang ada di gendongan Zivana. Bahkan sampai Baby Rayan menangis.
Oek oek
"Eza ih, kamu nakal sekali sih," Zivana menatap tajam adiknya.
"Hehe, aku gemes sih. Kalau gitu aku pamit Kak," Eza langsung melangkah cepat keluar rumah sebelum kena omel oleh Zivana.
"Astaga anak itu," Zivana hanya menatap Eza hingga tak terlihat lagi di pandangan matanya.
Zivana menenangkan Baby Rayan yang masih menangis.
°°
°°
Eza segera mengemudikan mobilnya hingga keluar dari halaman rumah Alvin. Dia akan langsung pergi tanpa singgah ke tempat lain.
Tak terasa cukup lama di perjalanan, namun jalan menuju puncak sedang macet karena adanya perbaikan jalan.
Tin tin
Ah bagaimana ini, sudah jam segini tapi masih macet,' gumam Eza
Eza mengambil ponsel miliknya lalu mencoba untuk menghubungi Sela. Namun Sela tidak mengangkat panggilan telfon darinya.
Sela kemana sih, apa dia sedang periksa kandungan," Eza merasa tak enak dengan Sela karena telat datang sehingga tidak bisa mengantarnya pergi periksa kandungan.
Eza menatap jam di layar ponselnya. Ternyata sudah pukul dua siang.
Eza melihat kendaraan di depannya sudah melaju lagi. Dia juga kembali mengemudikan mobilnya.
Tring tring
Eza mendengar notif pesan masuk dari ponselnya. Dia mengambil ponsel miliknya lalu melihat siapa yang mengirimkan pesan. Ternyata Sela yang mengirimkan pesan kepadanya. Eza tersenyum lalu membalas pesan itu. Dia juga meminta maaf karena datang telat.
Tak terasa sudah cukup lama Eza mengemudi. Kini mobil yang di kendarainya sudah sampai di depan Vila keluarganya.
Eza keluar dari mobil lalu melangkah masuk ke Vila.
Tok tok
Eza mengetuk pintu. Kebetulan Lina yang membukakan pintunya.
"Silahkan masuk Kak!" ucap Lina ramah.
"Makasih, Lin" ucap Eza
"Sama-sama, Kak" jawab Lina
Eza melangkah masuk. Dia melihat Sela yang sedang duduk sendirian sambil menonton televisi.
"Sel...." Eza memanggil Sela yang tampak serius.
Sela mengalihkan arah pandangnya. Dia terihat senang melihat kedatangan Eza.
"Sinih Za," Sela menepuk sofa sebelahnya.
__ADS_1
Eza mendekati Sela lalu duduk di sebelahnya.
"Maaf yah aku baru datang, kamu jadi periksa sendirian," ucap Eza
"Tidak apa-apa, lagian aku pernah bilang kalau kamu tidak usah sering berkunjung. Aku tidak apa-apa kok, lagian ada Lina dan Bi Asih yang menemaniku."
"Tapi itu tetap tanggung jawabku," ucap Eza
Entah kenapa, Eza begitu yakin dengan anak yang di kandung oleh Sela adalah anaknya. Walaupun semua keluarganya mengatakan jika bisa saja anak itu anak orang lain, tapi dia sendiri sangat yakin jika itu darah dagingnya.
Sela merasa senang karena Eza sangat bertanggung jawab. Awalnya dia hanya menganggap Eza sebagai teman kencan, namun lama kelamaan tumbuh rasa cinta di hatinya.
Ada rasa lega di hatinya karena Eza datang telat. Jadi dia tidak usah harus mencari alasan agar Eza tidak mengantarnya periksa. Sela tidak mau jika Eza mengetahui penyakitnya.
"Terima kasih," Sela memegang kedua tangan Eza dengan matanya yang berkaca-kaca.
"Kamu kok sedih?" Eza mengusap air mata yang keluar dari sudut mata kekasihnya.
"Aku hanya terharu," Sela memeluk Eza begitu erat. Seolah menyalurkan kerinduan yang begitu besar.
Aku rela mempertaruhkan hidup dan matiku demi kamu dan anak kita. Aku pasti kuat sampai saat itu. Sampai saat anak kita melihatku sebagai Ibunya dan melihat kamu sebagai Ayahnya. Aku harap, sampai saat itu aku masih bisa bernapas.' batin Sela
Kini keduanya sudah melepaskan pelukannya. Eza mengajak Sela mengobrol.
Terlihat Lina datang dengan membawa nampan berisi dua gelas air minum utuk Eza dan Sela.
"Silahkan di nikmati,"ucap Lina sambil menaruh dua gelas air minum di atas meja.
"Terima kasih," ucap Eza
"Sama-sama," jawab Lina
Eza menatap dua minuman yang berbeda.
Satu gelas Es jeruk dan satu lagi air putih hangat.
"Tunggu, Lin! Eza menghentikan langkah Lina.
"Ada apa Kak?" tanya Lina yang kini kembali menoleh ke belakang.
"Ini kok cuma air hangat."
"Iya Kak, sekarang Nona Sela tidak boleh minum sembarang," jawab Lina, "Kalau begitu Lina permisi Kak," ucap Lina lalu melangkah pergi dari hadapan mereka.
"Memangnya orang hamil harus minum air putih terus?" Eza bertanya kepada Sela. Setahu dia, Sela itu lebih sering minum air dingin dan yang berasa.
"Ini hanya anjuran Dokter, aku tidak apa-apa kok. Lagian air putih itu sehat." Sela tersenyum menatap Eza.
"Tapi sesekali minum air es pasti boleh," ucap Alvin
"Iya, lain kali saja," ucap Sela
Kini keduanya masih lanjut mengobrol. Hingga tak terasa sudah menjelang malam.
Sela menatap jam yang menempel di dinding.
Ini waktuku untuk minum obat, tapi Eza masih disini. Aku takut jika Eza nanti bertanya kenapa obatku cukup banyak macamnya.' batin Sela
__ADS_1
°°°