Hanya Istri Siri

Hanya Istri Siri
S2_Episode 98


__ADS_3

Satu bulan kemudian


Alvin mengerjapkan kedua matanya. Dia beranjak dari atas tempat tidur, saat mendengar suara istrinya yang sedang mual-mual. Alvin menghampiri istrinya di kamar mandi. Kebetulan pintunya tidak tertutup. Jadi dia bisa masuk begitu saja.


"Sayang, kamu mual lagi?" Alvin membantu memijat tengkuk istrinya.


"Iya nih, sepertinya harus ke dokter deh."


"Iya, sayang. Mas takut kamu kenapa-kenapa," ucap Alvin.


"Mungkin ini efek kemarin hujan-hujanan deh," ucap Zivana.


"Biar Mas bantu kamu jalan, sayang." Alvin menggandeng tangan istrinya hingga ke kamar.


Alvin membantu menidurkan istrinya. Lalu dia keluar kamar untuk meminta Bi Salma menyiapkan air hangat untuknya.


Alvin sudah kembali ke kamar. Dia duduk di pinggiran ranjang.


"Mas pijit yah, Sayang."


"Boleh, Mas."


Alvin mulai memijat istrinya.


Terdengar ketukan pintu dari luar kamar. Pintu terbuka dan Bi Salma datang dengan membawa satu gelas air hangat.


"Ini Tuan minumnya," Bi Salma menaruh gelas itu di atas meja kecil dekat tempat tidur. Lalu dia menatap Zivana yang sedang tiduran di atas tempat tidur. "Neng Zie kenapa?" tanya Bi Salma.


"Pusing, Bi." jawab Zivana.


"Sepertinya karena kemarin hujan-hujanan membuatnya seperti ini, Bi." kata Alvin


"Bibi jadi sedih jika Neng Zie sakit," Bi Salma terlihat sendu.


"Zie tidak apa-apa kok, Bi. Ini juga masih bisa tersenyum." Zivana memperlihatkan senyumannya kepada Bi Salma.


"Syukurlah, Bibi keluar dulu yah, Neng. Kalau Neng Zie ingin apa-apa, panggil Bibi saja," kata Bi Salma.


"Oke, Bi."

__ADS_1


Bi Salma kembali keluar kamar dengan membawa nampan di tangannya.


°°°


Menjelang siang, Alvin mengajak istrinya pergi ke dokter. Saat ini keduanya sudah sampai di rumah sakit. Alvin menggandeng tangan istrinya menuju ke ruang dokter. Kebetulan dia sudah mendaftar lewat online untuk janji temu.


Alvin dan Zivana duduk di hadapan Dokter.


"Selamat datang Pak Alvin, Ibu Zivana. Kalau boleh tahu, apa keluhannya Ibu?"


"Akhir-akhir ini saya merasa mual, Dok. Kepala saya juga terkadang pusing." ucap Zivana.


"Sebelumnya kami sempat kehujanan, Dok. Mungkin efek hujan-hujanan istri saya jadi sakit," ucap Alvin.


"Silahkan ibu berbaring disana," Pak Dokter menunjuk ranjang pasien untuk tempat pemeriksaan.


Zivana beranjak dari duduknya lalu berbaring di ranjang pasien.


Dokter mulai memeriksa Zivana.


Alvin hanya menatapnya sambil menunggu dokter selesai memeriksa.


Zivana kembali turun dari ranjang pasien.


"Ibu tidak sakit, badannya juga tidak panas. Tapi sepertinya Ibu sedang hamil. Tapi jika ingin tahu yang lebih jelasnya lebih baik Ibu Zivana di bawa ke dokter kandungan. Kalau mau nanti saya langsung daftarkan ke dokternya. Kebetulan teman saya.


Ya, biar tidak usah mengantri." jelas Dokter


Alvin dan Zivana saling berpelukan karena merasa senang.


"Akhirnya kita punya anak lagi, sayang." ucap Alvin


"Iya, Mas. Zie senang deh."


Alvin menatap Pak Dokter yang juga sedang menatapnya.


"Tolong yah Dok, kami percayakan saja sama Dokter."


"Kalau begitu ikut saya, saya akan langsung mempertemukan kalian dengan teman saya." Pak Dokter beranjak dari duduknya. Begitu juga dengan Alvin dan Zivana yang juga beranjak dari duduknya.

__ADS_1


Mereka bertiga keluar dari ruangan itu.


Kini Zivana sudah melakukan pemeriksaan. Dan benar saja jika dirinya sedang hamil dan usianya baru memasuki lima minggu. Alvin dan Zivana merasa senang. Senyum kebahagiaan terpancar dari wajah mereka.


Terlihat Alvin menggandeng istrinya keluar dari rumah sakit. Mereka menjadi sorotan karena terus memamerkan kemesraan. Namun keduanya bersikap biasa saja seolah tak malu di lihatin banyak orang.


Alvin membukakan pintu mobil untuk istrinya.


"Silahkan masuk, istriku." ucap Alvin


"Terima kasih, Mas." Zivana tersenyum menatap suaminya.


"Kok Mas sih?"


"Terus?"


"Suamiku dong," ucap Alvin.


"Iya deh, suamiku yang paling tampan."


"Nah gitu dong, sayang."


Alvin menutup pintu mobil setelah istrinya masuk ke dalam.


Di perjalanan, Zivana langsung menelpon Bu Rara untuk memberitahukan kabar gembira itu. Dia juga memberitahu Eza. Mereka sangat senang saat mengetahui jika Zivana telah hamil. Apalagi Bu Rara yang memang sudah ingin menambah cucu.


Alvin sesekali menatap istrinya yang sedang asyik bertelfonan. Terlihat sekali kebahagiaan yang terpancar dari raut wajahnya.


Setelah melihat istrinya selesai bertelfonan, Alvin mengajaknya berbicara.


"Sayang, kamu mau mampir kemana? atau mau beli apa? biasanya orang hamil suka makan yang aneh-aneh loh." ucap Alvin


"Aku mau apa yah," Zivana tampak berpikir.


"Oh iya, aku mau cilok yang di jual di pinggir jalan tapi jangan pedas. dan satu lagi, yang beli harus Kak Tio," ucap Zivana.


"Kok Tio sih? Mas saja yah yang beliin," pinta Alvin.


"Tidak mau, maunya Kak Tio," ucap Zivana.

__ADS_1


"Baiklah," Alvin menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Lalu dia menghubungi Asisten Tio dan memintanya membelikan cilok yang di jual di pinggir jalan.


°°°°


__ADS_2