Hanya Istri Siri

Hanya Istri Siri
S2_Episode 14


__ADS_3

Zivana mengetuk pintu rumah. Bi Salma yang kebetulan sedang menunggu kepulangan majikannya, segera membukakan pintu itu.


"Neng Zie baru pulang?" tanya Bi Salma


"Iya Bi, kok Bibi belum tidur?"


"Tadi Bibi tidur sebentar Neng, kok Neng Zie pulang sendirian?"


"Iya Bi, Zie mau ke kamar dulu yah," ucap Zivana


"Iya Neng," jawab Bi Salma lalu kembali menutup pintu rumah.


Zivana yang sudah ada di kamar mencoba untuk menghubungi Eza. biasanya Eza jam segini belum tidur karena dia suka keluyuran.


Ternyata Eza langsung mengangkat panggilan telfon itu.


📞"Hallo Kak, ada apa?"


📞"Kamu dimana? kenapa berisik sekali?"


📞"Biasa Kak di club," jawab Eza


📞"Astaga dasar anak bandel," gumam Zivana


📞"Ada apa Kakak telfon jam segini?" Eza bertanya dari balik telfon.


📞"Tolong jemput Kakak yah di rumah. nanti Kakak kasih uang jajan."


📞Wah siap, tapi uang jajanya harus di lebihin loh," pinta Eza


📞"Tenang saja," jawab Zivana


Kini keduanya sudah selesai bertelfonan. Eza segera pergi untuk menjemput Kakaknya.


Zivana mengambil koper miliknya dan memasukan semua pakaiannya. dia sudah tidak mau lagi tinggal disana. Zivana ingin menenangkan dirinya. biarlah waktu yang menjawab kenapa Alvin sengaja mempermainkan pernikahannya.


Tin


Terdengar suara mobil berhenti di depan rumah. Zivana buru-buru keluar rumah dengan membawa kopernya.


"Neng Zie mau kemana?" Bi Salma melihat Zivana keluar kamar dengan membawa kopernya.


"Aku mau pergi Bi," jawab Zivana


"Kenapa pergi? lalu bagaimana dengan Tuan Alvin?"


"Bi, tolong yah Bibi jangan kasih tahu Mas Alvin," ucap Zivana lalu dia membuka tas slempang miliknya. Zivana mengambil beberapa uang dan memberikannya kepada Bi Salma.


"Iya Neng, Bibi tidak akan bicara, tapi maaf Bibi tidak bisa menerima uang ini. Bibi tidak enak." Bi Salma memberikan lagi uang itu kepada Zivana.


"Bi, Zivana itu sudah menganggap Bibi sebagai keluarga sendiri. plis yah ambil uang ini. Zivana harus buru-buru pergi karena takut yang lain bangun."

__ADS_1


"Baiklah, terima kasih Neng, "Ucap Bi Salma


"Sama-sama Bi, jawab Zivana


Zivana segera pergi setelah berpamitan dengan Bi Salma.


Zivana membuka pintu mobil adiknya setelah dia menaruh kopernya di bagasi.


"Kita mau kemana?" tanya Eza


"Kita pulang ke rumah," ucap Zivana


"Kakak lagi marahan sama Kak Alvin?"


"Sudahlah jangan banyak tanya," Zivana lagi tidak mood untuk menjelaskannya kepada Eza.


"Baiklah," Eza langsung mengemudikan mobilnya meninggalkan halaman rumah itu.


Sepanjang perjalanan Zivana hanya diam. Eza juga tak bertanya apa-apa kepada Kakaknya.


Kini mobil yang di kendarai Eza sudah sampai di depan rumahnya. keduanya segera turun dari mobil. Eza membantu membawakan koper milik Kakaknya.


"Eza, kamu bawa kunci cadangan?"


"Tidak Kak, biasanya Bibi yang bukain pintu," jawab Eza


Eza mengetuk pintu rumah namun tidak ada yang membukanya.


"Mungkin Bibi lagi tidur," ucap Zivana


Eza mencoba mendorong pintu itu dan ternyata tidak terkunci.


"Kok tidak di kunci?" Zivana merasa aneh karena tidak biasanya pernghuni rumahnya itu teledor tanpa mengunci pintu.


"Mungkin kelupaan," jawab Eza lalu masuk ke dalam dengan membawa koper di tangan kanannya.


Cklek


Tiba-tiba lampu menyala dan seketika ruangan itu terang benderang.


"Eza kamu--" Pak Juna yang hendak memarahi Eza, perkataannya terhenti saat melihat anak perempuannya.


"Zie, kamu pulang?" tanya Pak Juna


"Iya Pah," jawab Zivana sambil tersenyum menatap ayahnya.


"Kok tengah malam seperti ini? apa suamimu tahu?"


"Nanti pagi saja Zie jelasinnya. Zie ngantuk Pah." ucap Zivana


"Baiklah, kamu istirahat saja Nak," ucap Pak Juna

__ADS_1


Zivana melangkah menuju ke kamarnya. Eza juga mengikuti Kakaknya. dia menghindar dari Pak Juna karena malas mendengarkan omelannya.


Kali ini selamat, tapi besok-besok pasti Papah marahin aku." batin Eza


°°°


Pagi ini Zivana dan keluarganya sedang sarapan. Bu Rara merasa senang karena akhirnya bisa berkumpul bersama anak perempuannya lagi.


"Zie, nanti setelah makan kita bicara," ucap Pak Juna kepada anaknya.


"Iya Pah," jawab Zivana


Mereka kembali fokus menikmati sarapannya. hingga semuanya selesai dan meninggalkan ruang makan. Pak Juna menyuruh semuanya berkumpul di ruang keluarga. karena memang ada yang mau di tanyakan kepada anak perempuannya.


"Zie, coba jelaskan sama Papah, kenapa kamu pulang malam-malam," Pak Juna meminta penjelasan dari anaknya.


"Sebenarnya karena Zie mau menenangkan fikiran. nanti juga Zie mau pamit sama Papah, itu pun kalau Papah mengijinkan." ucap Zivana


"Kamu ada masalah sama suamimu?" Pak Juna merasa jika anaknya sedang menyembunyikan sesuatu.


"Sebenarnya Mas Alvin tidak sungguh-sungguh berniat menikahi Zie. dia hanya mempermainkan pernikahan ini."


"Maksud kamu?"


"Ternyata Mas Alvin menikahi Zie secara siri, kita tidak punya buku nikah bahkan kartu keluarga. ktp milik Zie juga masih lajang." jelas Zivana


"Tapi apa alasannya?" Pak Juna masih bertanya kepada anaknya.


"Zie juga tidak tahu Pah, bahkan Mas Alvin berbohong jika dirinya sudah tidak punya keluarga. ternyata Mas Alvin masih punya Ibu tiri namanya Tante Luna." ucap Zivana


"Luna?" Pak Juna terkejut mendengar nama itu.


"Pah, apa itu Luna mantan kekasihmu?" kini Bu Rara bertanya kepada suaminya.


"Papah juga tidak tahu Mah, nanti Papah selidiki," ucap Pak Juna


"Mantan kekasih?" Zivana merasa kepo dengan masa lalu ayahnya.


"Sudah Nak, itu tidak perlu di bahas," Pak Juna mencoba menghindar dari pembahasan itu karena takut jika Istrinya cemburu.


"Jadi bagaimana Pah, apa Papah mengijinkan Zie pergi?"


"Memangnya mau kemana?"


"Mungkin ke puncak Pah, nanti biar Eza yang temenin Zie kesana," ucap Zivana yang memang ingin pergi sementara dari kota kelahirannya.


"Kok Eza sih?"


"Dari pada kamu di rumah cuma keluyuran tidak jelas mending kamu temenin Kakakmu Za," ucap Pak Juna sambil menatap Eza.


"Hm baiklah," Eza hanya pasrah menuruti permintaan ayahnya. lagian kalau dia menolak pasti uang jajannya akan di potong.

__ADS_1


°°°


__ADS_2