Hanya Istri Siri

Hanya Istri Siri
S2_Episode 86


__ADS_3

Alvin dan Zivana sudah sampai di rumah. Mereka beristirahat dan bersantai di ruang keluarga.


Tok tok


Terdengar ketukan pintu dari luar rumah. Zivana menyuruh Desi untuk membukakan pintu rumah.


Desi melihat Asisten Tio berdiri di depan rumah.


"Silahkan masuk!" ucap Desi lalu dia segera pergi dari sana. Karena dia tidak suka lama-lama melihat keberadaan Asisten Tio.


"Jutek sekali," gumam Asisten Tio lalu melangkah masuk menghampiri Alvin yang ada di ruang keluarga.


"Selamat sore, Pak Alvin. Ini saya membawa berkas yang harus di tanda tangani oleh Bapak," ucap Asisten Tio, lalu memberikan berkas yang dia bawa kepada Alvin.


"Sore juga," ucap Alvin sambil menerima berkas itu.


Alvin melirik Desi yang langsung pergi dengan menggendong anaknya. Lalu dia menatap Asisten Tio yang ada di depannya.


"Kamu ada masalah sama Desi?" tanya Alvin.


"Tidak ada, kami memang tidak akur kalau ketemu. Tidak tahu tuh Desinya saja yang cuek sekali." ucap Asisten Tio


"Sepertinya kalian itu cocok," ucap Alvin.


"Ogah Pak, mending saya di suruh sama office girl yang ada di kantor saja dari pada sama Desi," ucap Asisten Tio.


Terlihat Zivana menahan tawanya saat mendengar perkataan Asisten Tio.


"Kamu kenapa, sayang?" Alvin bertanya kepada istrinya yang duduk di sebelahnya.


"Tidak, aku tidak apa-apa," jawab Zivana.


"Ya sudah, Pak. Saya pamit pulang dulu," ucap Asisten Tio sambil membawa berkas yang sudah di tanda tangani Alvin.


"Iya, hati-hati," ucap Alvin.


Asisten Tio melangkah keluar dari rumah. Zivana masih menahan tawanya sampai melihat Asisten suaminya itu keluar.


"Hahahahhahahah," Zivana melepaskan tawanya yang tadi dia tahan.

__ADS_1


"Kamu kenapa, sayang?" tanya Alvin.


"Tidak apa-apa kok, aku hanya merasa lucu saja kalau melihat Kak Tio. Aku keinget perkataan Desi."


"Memangnya Desi bicara apa?"


"Desi bilang kalau Kak Tio itu so ngatur kaya bos kalau di depan Desi. Kan Zie jadi penasaran karena tidak pernah melihat Kak Tio seperti itu." ucap Zivana


"Mas juga penasaran nih, bagaimana jika kita bikin rencana," ucap Alvin sambil memikirkan idenya.


"Rencana apa?"


Alvin membisikan sesuatu di telinga istrinya. Zivana hanya tersenyum sambil mendengar perkataan yang di bisikan oleh suaminya.


"Bagaimana sayang, kamu setuju?" tanya Alvin.


"Zie ngikut saja deh," jawab Zivana.


"Sayang, kita mau bantu Eza tidak?"


"Bantu apa, Mas? kamu mau kasih bengkel sama dia biar dia langsung mengelola?"


"Nah benar tebakan kamu, Mas niatnya sih seperti itu."


"Baiklah jika itu maumu, sayang." Alvin menyetujui perkataan Istrinya.


Zivana ingin jika adiknya benar-benar mandiri, tidak hanya bergantung kepada orang tua atau Alvin. Itu semua juga demi kebaikan Eza ke depannya.


°°°


Setelah libur satu hari karena harus pergi ke acara wisuda, kini Alvin dan Zivana kembali ke rutinitas mereka. Yaitu pergi ke kantor. Zivana melihat Desi yang baru keluar dari kamar anaknya dengan menggendong Rayan.


"Kak Desi sudah siap?" tanya Zivana.


"Sudah, Non." jawab Desi.


"Kalau begitu kita langsung berangkat saja," kata Zivana.


"Baik, Non." jawab Desi

__ADS_1


Alvin menghampiri Istrinya lalu dia menggandeng tangan istrinya hingga keluar rumah.


Saat ini mereka sudah masuk ke dalam mobil. Desi dan Baby Rayan duduk di belakang. Alvin langsung mengemudikan mobilnga menuju ke kantor.


Di sepanjang perjalanan, Baby Rayan tampak senang karena Desi mengajaknya menyanyi lagu anak-anak. Walaupun Baby Rayan belum jelas saat berbicara, namun terlihat sekali jika dirinya menyimak Desi yang sedang menyanyi. Alvin dan Zivana juga merasa senang. Karena Desi selalu mengajari anaknya hal-hal yang positif.


Cukup lama mengemudi, kini mobil yang di kendarai Alvin sudah sampai di depan kantor. Mereka langsung turun dari mobil. Saat mau masuk ke kantor, ternyata bersamaan dengan Asiten Tio yang juga baru sampai. Alvin dan Zivana saling tatap lalu tersenyum sambil memikirkan rencana mereka.


"Tio, kamu naik ke atas bareng Desi yah, aku sama Zivana mau ajak Rayan ke kantin dulu." ucap Alvin


"Tapi...." Asisten Tio hendak menolak namun setelah dia pikirkan lagi, jika dia menolak bisa saja Alvin memotong gajinya.


"Baiklah," ucap Asisten Tio yang pada akhirnya menerima perintah Alvin.


Desi langsung menyerahkan Baby Rayan kepada Zivana. Lalu dia mengikuti Asisten Tio yang sudah terlebih dahulu melangkah pergi.


Alvin dan zivana terlihat senang karena sudah berhasil membuat Asisten Tio bisa berduaan dengan Desi di dalam lift. Lalu keduanya melangkah menuju ke kantin perusahaan.


Saat ini Asisten Tio dan Desi sudah berada di dalam lift. namun tiba-tiba lift berhenti. Keduanya terlihat panik, apalagi Desi yang sejak tadi berjongkok karena takut.


Kenapa liftnya berhenti,' batin Asisten Tio.


Asisten Tio menghubungi teknisi dan memberitahukan jika liftnya tiba-tiba berhenti. Dan pihak teknisi juga memberitahukan jika memang liftnya tiba-tiba rusak. Dan secepatnya akan di perbaiki.


Asisten Tio menatap Desi yang sedang berjongkok dan terlihat sedang menangis.


Ah, menyusahkan saja,' gumam Asisten Tio lalu mendekati Desi.


Nafas Desi terlihat putus-putus. Dia kekurangan pasokan udara karena di dalam lift tidak ada sedikitpun celah yang menjadi sumber keluar masuknya udara.


"Kamu kenapa?" tanya Asisten Tio yang kini sudah ikut berjongkok di dekat Desi.


"Aku su sah na fas," ucap Desi dengan perkataan terputus-putus.


"Menyusahkan saja, aku harus apa?" Asisten Tio terlihat memikirkan sesuatu.


Melihat Desi yang seperti itu, Asisten Tio merasa kasihan. Lalu dengan terpaksa dia memberinya nafas buatan. Alih-alih memberikan nafas buatan, mereka malah ber*ciuman sungguhan. Kini keduanya saling memejamkan mata.


Sttt, kenapa aku malah terlihat menikmati,' batin Asisten Tio.

__ADS_1


Saat dia menyadari itu, Asisten Tio tidak melepaskan pangutan mereka begitu saja. Melihat Desi yang memejamkan kedua mata, itu membuatnya untuk tetap melanjutkan.


°°°°


__ADS_2